Oleh: Aldo Jlm
Jaman now transportasi merupakan salah satu media untuk mengangkut barang dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang pada umumnya sudah bosan dengan jalan kaki, baik jarak dekat maupun jarak jauh. Jaman now membutuhkan waktu yang super cepat untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dalam tempo yang singkat.
Di kota-kota besar seperti Dili dan Baucau, mereka mempunyai media transportasi umum seperti, taksi dan mikrolet. Tapi lain halnya dengan ibukota Lautém-Lospalos. Di Lospalos transportasi umumnya adalah, mikrolet, angguna dan tumtum. Mikrolet dan angguna merupakan transportasi lintas kota administratif kota kecamatan. Angkutan umum dalam kota dikenal dengan nama “Tumtum”. Dulu belum ada Tumtum orang-orang suka dengan transportasi mikrolet, untuk belanja di pasar/merkadu, mengangkut murid-murid ke sekolah, tapi sekarang orang-orang pada doyan naik ojek Tumtum.
Tumtum ini merupakan transportasi kota, yang pertama kali digunakan di kota municipio Manatuto, tapi setelah orang-orang Lospalos mengamatinya, dan mereka yang mempunyai modal juga membelinya dan mencoba beroperasi di kota Lospalos, ternyata para penduduk setempat suka naik ojek “Tumtum” ini. Lama kelamaan orang-orang mulai ramai-ramai naik ojek tumtum ini, akhirnya semua orang membeli ojek ini, sehingga angguna dan mikrolet sudah tidak laku lagi dalam kota Lospalos. Diperkirakan mungkin sudah mencapai 200 lebih. Karena mereka (tumtum) antar penumpang sampai ke tempat tujuan, sedangkan mikrolet hanya menurunkan penumpangnya sampai di tengah jalan.
Ojek Tumtum ini tidak mengisi bahan bakar seperti solar dan bensin, cuma di cas saja dengan listrik, tapi harganya dua kali lipat dengan angkutan umum lainnya seperti mikrolet. Harga mikrolet perorang Cuma 0,25 cent, tapi tumtum 0,50 cent. Mungkin mikrolet menurunkan penumpangnya di tengah jalan, tetapi Tumtum sampai ke rumah atau tempat tujuan kita, maka harganya dua kali lipat dari harga mikrolet. Mungkin masih kendala dengan jalan raya yang belum diperbaiki, dan masih menggunakan jalan raya peninggalan Indonesia, jadi harganya disesuaikan dengan sikon sekarang.
Pemerintah pun belum mempunyai suatu regulasi atau aturan tertentu seperti “Dekretu Lei” untuk meregulasi transportasi umum di kota Lospalos. Sehingga mereka menetapkan harganya semau gue. Hari-hari biasa dari hari Senin-Jum’at pagi, ojek Tumtum ini tidak begitu laku, tapi pas hari Sabtu sangat laris, karena mereka berlomba-lomba untuk mengangkut penumpang dari rumah ke pasar untuk belanja dan sebaliknya.
Kecepatannya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan tapi pas-pasan. Mungkin masih kendala dengan jalan raya yang belum diperbaiki dan masih menggunakan peninggalan Indonesia, sehingga jalannya seperti kura-kura atau penyu. Ojek Tumtum ini juga dikenal dengan tiga roda, karena dijalankan dengan sepeda motor yang beroda tiga. Cuma dia tidak diisi dengan bensin dan solar layaknya kendaraan umum lainnya. Dinamakan tumtum, karena musiknya yang full dengan bunyi bassnya yang dahsyat, maka namanya disesuaikan dengan nama musiknya, tumtum bunyi drum.
Kalau hari-hari besar atau ada keramaian, seperti pesta pernikahan, pesta adat, adu ayam, pesta natal dan tahun baru, paskah dan event-event gereja. Mereka ini laris manis, karena banyak orang yang numpang ojek Tumtum.
Kita tunggu saja nanti kalau pemerintah sudah berencana untuk memperbaiki jalan raya dalam kota Lospalos, pasti harganya akan menurun. Lebih-lebih pemerintah setempat harus menetapkan suatu aturan semacam dekrit daerah, untuk mengatur harga tiket, pasti biayanya akan turun kembali seperti mikrolet. Kita tunggu aja tanggal mainnya!!!
By Aldo Jlm’22
Edisi, 080822
