Oleh: Ghinda Aprilia

Pengalaman unik pertama kali mencari donasi di Hong Kong. Mendadak membuat kotak dari kayu dan triplek yang kebetulan banyak stok di rumah majikan. Juga ada gergaji dan palu plus dan paku. Saya tinggal bermodal cat warna hijau, yang biasa identik dengan kotak amal.

Hari minggunya saya mencoba membawa kotak amal itu keliling lapangan. Ya masih saya ingat, selain saya telepon teman-teman waktu di PT juga mendapat receh dari PMI Hong Kong yang sedang berlibur. 

Sebenarnya saya pemalu dan penakut, tetapi karena kebutuhan, semua rasa itu saya abaikan.

“Mbak, ada Iqra?” Tanya salah seorang PMI.

” Tidak ada bun, saya hanya mencari donasi.” Saya menjawab dengan singkat. Saya kira buku panduan Iqro cara membaca Al Qur’an, belakang yang saya ketahui yaitu majalah islam yang diterbitkan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong.

Dari situ saya pun mulai membawa majalah-majalah islam yang beredar di Hong Kong ada Iqra, Irsyad, Cahayaku dan Mutiara Amali. Hasil keuntungan 100% saya sumbangkan untuk Al-Bayan.

Senang sudah pasti, pertamakali mendapatkan uang sebesar Rp 1500 000, sejak itulah saya jadi ketagihan untuk ngencleng.

Pulang ke rumah baru nyadar, ternyata baju dan hijab saya penuh dengan cat warna hijau dari kotak amal. Melihat teman-teman yang lain cuma membawa kotak dari plastik, saya pun membeli kotak dari plastik.

Pada tahun 2012 saat saya mengisi batadong (Octipu) kartu yang serbaguna untuk naik bus atau MTR. Seperti tanpa dosa, saya lupa membawa kotak amal. Malam itu juga lumayan capek, tidak menghitung hasil galang dana.

Keesokan harinya, seperti kebiasaan di setiap hari senin pagi, saya menerima duit belanja dari majikan. Dan saya menukar uang koin-koin itu dengan uang belanja.

“Deeegggh…..” Baru nyadar kotak amal tertinggal di toko 7 Eleven Causeway Bay. Tanpa babibu dari Polam saya lari-lari menuju toko tersebut.

Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan dan bahasa isyarat, saya menanyakan kotak amal yang tertinggal. Masya Allah orang-orang Hong Kong banyak yang masih jujur, kotak itu masih utuh.

Langsung saya sujud syukur dan memberi uang $50 sebagai tanda terima kasih.

“Emsailah, toce, Haji Susanti.” Dengan rendah hati petugas toko menolak pemberian saya.

Alhamdulillah, saya bersyukur, kotak yang tertinggal masih utuh beserta isinya.

Lagi-lagi ada kejadian yang sama. Sudah beberapa bulan ini saya tidak ke Causeway Bay. Kotak amal yang biasa di depan Bank Mandiri saya titipkan ke si Bontot, begitu saya memanggil namanya.

Kita janjian ketemu di Tsim Sha Tsui, karena kebetulan kita ada kelas.

“Teh, ini sudah lumayan banyak isinya, dibuka dulu ya!”

“Iye say, tidak saya buka sekarang, nanti saja di rumah ya!” Saya menjawab dengan singkat karena badan sudah lelah, karena pas hari itu saya membawa Al-Qur’an dan buku-buku pemberian dari Mandiri.

Sudah kebiasaan sejak ke Tsim Sha Tsui, seperti punya hutang jika tidak mampir ke masjid. Selalu ada hikmah di balik ujian, selain mendapat uang, juga di hari minggu masih bisa salat berjamaah dan tilawah.

Tas dan kotak amal saya simpan di dekat meja, selesai salat Maghrib saya pulang biar tidak terlalu malam. 

Di masjid saya mengingatkan teh Lin untuk membawa tasnya yang berisi Al-Qur’an. Di lantai bawah dia heboh kehilangan satu tas bawaannya yang ternyata dibawa bunda Heni.

Sesampainya di rumah, saya mencari-cari kotak amal, ternyata tidak ada. Setelah saya ingat-ingat baru sadar ternyata kotak itu masih tertinggal di masjid.

Rasa cemas dan bersalah campur aduk menjadi satu. Positif thinking kotak masih ada, menghibur diri kalau hilang saya harus ganti sekitar $500.

Saya telepon Bunda Heni dan juga Bunda Alia marbot di masjid.

“Saya sudah balik dalam perjalanan Bun, saya tidak melihat ada barang tertinggal.” Begitu kalimat yang terdengar di seberang sana.

“Besok pagi-pagi Bun saya mau ke masjid.” Sahut bunda Heni ketika saya telepon dia. Semakin ciut hati ini dan menyalahkan diri sendiri atas keteledoran ini. Panik sudah pasti, hanya pasrah ada keajaiban.

Pagi harinya Bunda Heni mengirim sebuah foto tas warna biru.

“Alhamdulillah, Allahu Akbar!” Reflek saya membalas pesan Bunda Heni.

Begitulah suka duka memegang uang ummat, berat tanggung jawabnya. Makanya, setiap habis cari donasi, dibiasakan langsung ditaruh di dompet khusus donasi untuk meminimalisir hilang lagi. 

Di mata saya, rasa solidaritas PMI Hong Kong itu luar biasa. Dari hasil ngencleng ini saya sudah bisa membantu bangunan yang ke-3. Jangan remehkan uang receh, kita tidak tahu, barangkali uang receh ini yang bisa menghantarkan kita ke syurga-Nya. Amin

Terima kasih atas support dan doa dari teman-teman PMI Hong Kong semuanya. Saya tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan kalian semuanya. Semoga Lillaah itu berbalas berkah dan pahala yang tiada tara. 

(Visited 44 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

3 thoughts on “ Kotak yang Tertinggal ”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.