Jumat 16 September 2022, entah mengapa penaku bergoyang dengan rasa yang tak menentu, puisi tentang jarum waktu yang tak lagi berdetak menggiringku ke masa yang telah silam bersama sahabat-sahabat hati yang telah lebih dulu meninggalkan dunia fana ini. Jelasnya, berikut bait-baitnya.
Jantung tak lagi berdetak,
nadi tak lagi berdenyut,
tanya itu tak lagi berarti,
soal tak butuh lembar jawaban.
Kiranya ujian telah usai.
Sesal tak lagi berguna, wahai sang ego inilah aku, mengharap jarum kehidupan berputar arah.
Kiranya sang waktu telah tiba, tiada daya tiada upaya, kembali pulang. Semua membisu tafaqur.#
Saat memasuki pragraf keempat sebagai persyaratan untuk di posting di website Bengkel Narasi, tiba-tiba ponselku berdering tanda ada pesan whatshap masuk. Ternyata Andi Akbar mengirim pesan yang membuatku bisu sesaat. Pesannya, “Bunda, meninggal mama Ewin, ibu Nurmina.
Serasa tak percaya, aku pun mencari berita yang lebih akurat. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Benar adanya, sahabat kami, guru, orang tua, saudara seperjuangan dan sekampung halaman, telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya.
Beliau orang baik, pendidik yang telaten. Selamat jalan Bunda Nurmina, teriring doa untukmu. Ya Allah ya Rabb, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah segala kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya. Aamiin Allahumma. Aamiin Ya Mujib.
Ternyata puisi yang kutulis adalah isyarat alam kalau ada sahabat baik yang akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Kami bersedih dan larut dalam suasana duka, hingga puisi ini pun tak berjudul.
Lasusua 17 september 2022

😭😭😭😭😭