*Soni Putra

Menjadi seorang Wali Nagari di Sumatera Barat, bukan hanya bermodalkan ilmu atau kepintaran, tetapi harus memiliki beberapa kriteria. Di Bumi Minangkabau menjadi seorang pemimpin itu harus memenuhi beberapa kriteria yang terkandung dalam “Takah tokoh”.

Takah dapat diartikan sebagai bentuk fisik atau jasmani. Sedangkan tokoh dapat diartikan sebagai sikap atau rohani yang mencerminkan sebagai panutan jiwa yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan berlapang dada dan berjiwa besar.

Kriteria itu seperti memiliki etika dan adab sopan santun, kuat dalam beragama tentunya agama Islam, tahu dan mengenal adat istiadat serta tidak melanggar norma adat, memiliki jiwa yang netral dalam menyelesaikan setiap masalah. Mengukur sama panjang menimbang sama berat.

Selama menjadi Wali Nagari, saya merasa masih membutuhkan tambahan ilmu dalam menjalankan pemerintahan nagari. Karena itu, saya putuskan menambah ilmu pada jenjang pendidikan tinggi di Universitas Eka sakti (UNES) Padang program studi ilmu pemerintahan.

Alhamdulillah, selama dalam proses belajar sampai semester empat ini banyak ilmu saya dapat dari berbagai mata kuliah. Sementara dalam mengawali semester lima ini ada beberapa dosen yang belum saya kenal. Satu di antaranya adalah dosen pengampuh mata kuliah, “Metode Penelitian Sosial”.

Dalam kuliah perdana mata kuliah ini, saya dikejutkan dengan sikap tegas sang dosen menyikapi keterlambatan kami masuk kuliah dengan mengatakan, “Saya lebih baik datang 30 menit lebih awal daripada terlambat lima menit”. Narasinya tegas, tetapi tetap dengan nada bersahabat.

Sebelum saya menjelaskan kenapa terlambat lima menit dari jadwal, sang dosen kembali melanjutkan narasinya, “Masa depan seseorang hanya ditentukan tiga hal, yaitu kesantunan etikanya, kesopanan komunikasinya, dan caranya menghargai waktu”. Kalau tidak mematuhi ketiga hal itu akan menghadapi tantangan besar dalam menaklukkan gelombang kehidupan, jelasnya.

Seterusnya, mengalir narasi-narasi inspiratifnya yang mengetarkan jiwa. Ketika ada jeda sedikit, saya berbisik ke teman sebelahku, “Bersyukur juga kita terlambat datang, jadi kita bisa mendapatkan catatan inspiratif yang sulit kita dapatkan di tempat lain”.

Masih mau berbisik, teman sudah injak kakiku memberi isyarat sang dosen inspiratif kami sudah datang dari mengambil buku di ruangannya. Ini saya hadiahkan buku karyaku berjudul, “Berpolitik dengan Biaya Murah” untuk dipelajari. Semoga kedepannya bisa menjadi pemimpin daerah yang amanah.

Terima kasih Bapak Ruslan Ismail Mage. Sudah kami telat datang, tetapi diberi hadiah buku. Kami bersyukur kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Bisa ketemu dosen inspiratif yang tidak hanya membagikan teori-teori keilmuan, tetapi juga ilmu kehidupan.

*Wali Nagari Kapalo koto Kecamatan Nan Sabaris Kabupatem Padang Pariaman

(Visited 183 times, 1 visits today)
One thought on “Datanglah 30 Menit Lebih Awal daripada Telat 5 Menit”
  1. Padang Pariaman, cinta pertamaku hehehe…
    Sebagai penulis saya banyak diapresiasi oleh para senior, sastrawan dari ranah Minang era 75-an.
    Persahabatanku dengan mereka masih terikat indah hingga saat ini,antara lain: Sastri Bakry, Free Hearty, duo bersaudari dan Papa Rusli Marzuki Saria.
    Salam santun dan rindu untuk para sastrawan Minang.
    Pipiet Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.