*Sudirman Lana

Dari awal kita bersama dan saling berbagi kisah, hingga pada akhirnya kita jarang dipertemukan secara langsung. Karena kita sama-sama punya amanah mulia untuk kita lakukan. Untuk saudaraku yang sedarah dan terlahir dari rahim ibu yang sama, dan buat yang sudah saling kenal apakah karena kita pernah menjadi teman sepermainan, teman sekolahan atau teman se organisasi karena hobby yang sama walaupun kita terlahir beda rahim ibu. Atau karena memang kita ada pertalian darah, ataukah kita sudah di takdirkan menjadi sahabat dan saudara karena kita saling cocok satu dengan yang lainnya.

Boleh jadi di saat kita sama bertumbuh dari usia anak-anak, remaja hingga dewasa kita pernah habiskan waktu bersama. Entah hanya sekedar nongkrong begadang hingga larut malam. Atau mungkin dan kebetulan kita sama-sama menyalurkan bakat dan hobi di ruang dan tempat yang sama sahabat saudaraku. Namun, ketika saatnya kita sudah masuk di kisah dan babak kehidupan yang baru, orang tua menikahkan kita. Maka mulailah dari situ akan terlahir pula cerita kehidupan sehari-hari yang baru, kita punya kesibukan sendiri-sendiri dan jarang lagi bertemu.

Entahlah, menurut kalian apakah seperti itu saya dianggap berubah dan kita sama berpendapat seperti itu. Semua itu tidak ada yang mesti di salahkan karena situasi dan kondisi yang memang harus seperti itu. Satu yang paling penting menurut saya dan itu harus ada waktu spesial untuk tidak berubah sama mereka adalah orang tua yang membesarkan dan mendidik kita anak-anaknya. Semoga orang baru yang ada dalam kehidupan kita yakni istri kita harus mengerti akan kondisi ini.

Saudaraku dan sahabatku, boleh jadi anda berubah betul oleh karena faktor lingkungan atau faktor rumah tangga yang menginginkan demikian. Bagi saya pribadi, itu tidak menjadi masalah. Itu hak kalian dan itu semua butuh permakluman bersama. Karena pada dasarnya kita memang sudah berada di Fase kehidupan sehari-hari yang berbeda. Ada keluarga istri dan anak-anak tercinta butuh perhatian ekstra dari kita. Karena merekalah amanah mulia yang Allah titipkan pada kita untuk kita temani bahagia dan sukses berkah barokah dunia – akhirat. Mereka adalah tanggung jawab kita.

Maafkan saudara dan sahabatku….., bila saya di anggap sombong dan lainnya itu hak kalian. Tapi percayalah atas nama ALLAH SUBHANAHU WA’TAALA pribadi ini tetap peduli kepada siapapun yang pernah mampir di memori hidupku, baik dari masa kanak-kanak dan masa dewasa saat ini. Minimal nama kalian ada terikut kan dalam Lafaz do’a-do’a terbaikku. Karena In Syaa Allah di sisa umur ini saya fokus bagaimana memaksimalkan melakukan kebaikan demi kebaikan bersama keluarga. Terutama bagaimana berlaku baik kepada orang yang melahirkan saya dan kepada orang yang melahirkan anak-anak saya ( Ibu & Istri ).

Penutup di renungan hidup saya ini, tidak masalah buat siapapun, mau atau tidak menganggap perlakuan kebaikan saya ini. Karena memang kepada siapapun sesama hamba-Nya saya pribadi tidak pernah menggantungkan harapan, tapi hanya kepada Allah Subhanahu Wa’Taala Pemilik Jiwa ini yang tempatnya kelak kita akan kembali. Itu saya lakukan agar tidak ada yang mesti disalahkan nantinya. Karena baik – buruknya dan sekecil apa pun kata dan perlakuan kita semua akan di Adzab dan di Hisab di PENGADILAN AKHIRAT.

Semoga Allah Subhanahu Wa'Taala Ridho menuntun kita semua untuk menjadi hamba yang pemaaf dan saling memaafkan, saling mengingatkan serta saling mendoakan.Semoga kelak kita tinggalkan dunia ini bisa meninggalkan nama dan budi yang baik, dan kita kembali kehadarit-Nya dalam kondisi yang banyak amalan kebaikan serta Husnul khatimah nantinya.

Aamiin Ya Allah

*Enterpreneur Community Superteam Indonesia

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.