*Harbed
Hari Sabtu 15 Oktober 2022 adalah hari istimewa penuh makna, atau lebih specifiknya hari Reinkarnasi bagiku. Betapa tidak, saya merasa terlahir kembali dengan semangat baru, jiwa kokoh, hati tegar, dan pikiran visioner untuk memulai hukum proses dalam menaklukkan gelombang kehidupan.
Bisa juga disebut hari penuh kepercayaan diri, karena selama ini sudah berada di detik-detik terakhir lempar handuk sebagai pertanda mundur dari arena.
Alhamdulillah, tidak sia-sia pukul 06.00 pagi dengan cuaca gerimis naik motor menempuh perjalanan dari nagari pengabdianku Nagari Kapuh Utara Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan menuju Kota Padang menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri dalam menghadirkan pelayanan terbaik ke warga Nagari Kapuh Utara.
Hari perdana saya kuliah “Manajemen Resolusi Konflik” membuat saya was-was, terlebih belum mengenal sosok siapa dosen pengampuh mata kuliah ini. Seperti biasanya, jarak tempuh yang lumayan jauh dari Kota Pesisir Selatan ke kampus Universitas Ekasakti Padang, membuat saya tidak jarang terlambat masuk kuliah.
Akibatnya , ada perasaan ragu dosen tidak bisa kompromi masalah keterlambatanku masuk kuliah. Kali ini saya bertemu dengan dosen senior di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Ekasakti bernama bapak Ruslan Ismail Mage. Melihat penampilannya yang dinamis dan feksibel, rasa was-was saya perlahan mulai cair.
Setelah dipersilakan masuk kelas, saya langsung duduk bergabung dengan teman-teman yang sudah lebih dulu datang. Saya lirik jam tangan ternyata saya sudah terlambat 45 menit dari jadwal kuliah pukul 08.00. Karena itu saya harus siap diceramahi bahkan dimarahi sekalipun kataku membatin.
Ternyata pak Ruslan, tidak mengomentari keterlambatanku. Beliau memulai pembicaraan dengan menyuruh kami memahami karakter semua dosen yang mengajarnya agar terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan dengan baik.
Baru sekitar 15 menit menerangkan, sudah nampak kalau bapak dosen kami ini berbeda jauh cara mengajarnya dengan hampir seluruh dosen yang saya kenal. Kami mahasiswanya diajak berdialog secara santai tentang teori-teori keilmuan tanpa pernah menyalahkan. Pikiran dan gagasan kami terus dieksploitasi, karena kami mahasiswanya di tempatkan sebagai subyek bukan obyek.
Lebih kerennya lagi, bukan hanya teori-teori keilmuan yang diuraikan, tetapi juga teori-teori kehidupan. Menurutnya, teori-teori kehidupan itu penting, karena masa depan tidak selamanya diselesaikan dengan rumus-rumus akademik, di sana ada zona karakter dan budi pekerti.
Bapak Ruslan berkomunikasi dengan kami mahasiswanya memadukan komunikasi verbal dengan komunikasi hati. Karena itu beliau memahami kendala-kendala apa yang dialami mahasiswa dalam proses menuntut ilmu pengetahuan.
Menurutnya, melayani mahasiswa itu bukan melayani fisiknya, tetapi melayani jiwanya. Pesannya yang melekat di memoriku, “Setiap jiwa itu penting tanpa harus melihat ke tubuh siapa jiwa itu bersemayam. Apakah jiwa gelandangan atau jiwa presiden nilai dan tuntutan alaminya sama, yaitu ingin dihargai dan dihormati. Jadi hargai dan hormatilah setiap jiwa agar Tuhan tersenyum kepadamu”.
Waktu terus berjalan, sang dosen terus membakar semangat kami untuk percaya diri dengan merendahkan hati. Narasi-narasi inspiratifnya terus membakar semangat kami, membuka pemikiran kami untuk menyongsong hari depan lebih baik. Terima kasih dosen inspiratifku, terima kasih bukunya, terima kasih telah mengajari melayani jiwa.
*Sekretaris Nagari Kapuh Utara, dan mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan Unes Padang
