Oleh: Harbed*
Kisah ini adalah fakta yang terjadi di sebuah nagari. Kalau kemudian kisah ini diangkat ke permukaan, itu karena mengandung nilai-nilai pembelajaran yang perlu diketahui agar orang lain bisa mengambil hikmahnya. Kisah ini menjadi penting, karena terkadang hal-hal sepele membuat orang bisa gagal berkali-kali dalam pentas kehidupan.
Tersebutlah pada sebuah nagari tinggal seorang yang menyebut dirinya sebagai tokoh muda yang pintar dan lihai berbicara. Kemampuannya berkomunikasi di atas rata-rata masyarakat membuatnya percaya diri maju sebagai caleg (calon legislatif) dan terpilih pada pemilu tahun 1999.
Setiap reses dan sidak yang dilakukan selalu menggunakan mobil kesayanganya. Dengan kaca pintu mobil tertutup ia berkeliling ke daerah konstituennya. Setiap ada musyawarah di nagari politisi muda ini selalu hadir berbahasa intelek, atau bahasa langit menurut istilah masyarakat.
Waktu terus berjalan, hingga politisi muda ini berakhir masa jabatannya sebagai anggota DPRD, dan bersiap-siap lagi ikut bertarung pada pemilu berikutnya. Namun, nasibnya berkata lain, ia tidak terpilih lagi menjadi anggota parlemen periode kedua.
Dalam mengisi hari-harinya, ia masih terus memupuk mimpi menjadi orang elite di nagarinya. Hingga tahun 2010 ia melihat ada peluang ikut pemilihan wali nagari. Ia pun mencoba ikut bertarung dengan tiga kandidat lain dalam perebutan jabatan wali nagari. Rupanya penampilan yang keren dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata calon lain, tidak membuat masyarakat nagari kepincut memilihnya.
Kemudian pada tahun 2016 terjadi lagi pemilihan wali nagari. Tokoh muda dengan penampilan intelek tadi, ikut lagi uji nyali keberuntungan bertarung melawan dua calon lain. Namun, lagi-lagi nasibnya apes kurang beruntung, kalah lagi, gagal lagi.
Mengalami beberapa kali kegagalan beruntung itu, akhirnya curhat sama temannya. Kenapa masyarakat tidak simpati lagi ke pada saya? Temannya sebagai aktivis muda yang banyak bergaul di kalangan masyarakat itu, terang-terangan mengatakan, masyarakat tidak menyukainya dengan dua alasan.
Pertama, karena setiap lewat naik mobil selalu menutup kaca mobilnya. Kondisi ini dibaca masyarakat bawah sebagai orang angkuh dan cuek dengan keadaan di sekelilingnya. Kedua, setiap berada di tengah masyarakat, selalu menggunakan bahasa langit yang tidak dipahami masyarakat bawah, jelas
temannya tegas.
Dari nasehat temannya itu, sang tokoh muda yang sudah mulai cenderung layu, mencoba mengambil pelajaran. Ia akan merubah sikapnya untuk recovery ke pentas publik. Kesempatan itu datang ketika ada pemilihan Badan Musyawarah (Bamus) nagari. Kali ini keberuntungan berpihak kepadanya terpilih menjadi Bamus nagari dari unsur cerdik pandai.
Dalam menjalani tugasnya sebagai Bamus nagari, sikap dan perilaku aslinya kembali lagi. Tampil di tengah masyarakat dengan bahasa langitnya. Gaya berbicara kepada masyarakat mengesankan tidak ada yang lebih hebat darinya. Selalu merasa semua orang berada dibawahnya. Karakter aslinya kembali menjadi boomerang baginya.
Akibatnya pertengahan tahun 2021, ia mencoba ikut kembali bertarung di pemilihan Bamus nagari dari unsur cerdik pandai periode kedua. Pemegang suara hanya 21 orang, dan fatal baginya, tidak ada satu pun masyarakat memilihnya kembali.
Kisah nyata ini saya tulis terinspirasi dari ajaran dosen inspiratif saya, sang penggerak Bapak Ruslan Ismail Mage yang menguraikan “Dahsyatnya pengaruh bahasa non-verbal (Bahasa tubuh) dalam politik”. Saya baru sadar secara teoritis kalau kebiasaan tokoh muda yang gagal berkali-kali di atas karena selalu menutup kaca pintu mobilnya setiap lewat kampung konstituennya adalah bagian dari miskinnya pemahaman komunikasi non-verbal.
Selalu tampil dengan bahasa langit, bahasa intelek dengan gaya mimik yang cenderung menganggap orang lain berada di bawahnya adalah bagian dari kedunguannya menerapkan komunikasi non-verbal yang baik. Karena itu, kalau memakai uraian pak dosenku untuk membedah ambruknya tokoh muda di atas, saya bisa simpulkan bahwa sehebat apa pun komunikasi verbal kalau tidak didukung dengan bahasa non-verbal yang baik, akan mengalami kegagalan berkali-kali di ruang publik.
*Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Unes Padang
