Oleh : Mardiati*
Rejeki, jodoh dan maut adalah rahasia Sang Pencipta. Kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan melalui dua kali tes SKB (Seleksi Kompetensi Bidang) dalam seleksi PPPK Guru tahun 2021 dimana pada tes tahap pertama saya tidak mencapai Pasing Grade (PG) tetapi di tes tahap kedua saya mencapai PG dengan nilai yang cukup memuaskan. Namun saya harus merasakan kecewa karena kalah dengan selisi nilai yang sangat tipis.
Hal ini sangat membuatku menyalahkan diriku sendiri dan menganggap diri sangat bodoh. Memaknai kekecewaan itu saya jadi berandai-andai. Seandainya saya lebih giat lagi belajar. Seandainya saya tidak merubah jawaban saya. Seandainya saya tidak terburu-buru menjawab. Seandainya, seandainya, dan seandainya. Semua hanya tinggal angan-angan.
Waktu berlalu begitu cepat hingga sampai pada bulan September tahun 2022. Seakan seperti angin segar yang berhembus di tengah teriknya panas, tersiar kabar bahwa akan dibuka lagi seleksi PPPK guru bahkan yang lebih membahagiakan lagi guru yang lulus PG di seleksi tahap pertama atau kedua akan diberikan prioritas pertama (P1) untuk diberikan penempatan tanpa harus tes lagi.
Kabar ini adalah kabar yang sangat mengembirakan. Semua keluarga sangat senang terutama orang tua saya. Mulailah mencari info bagaimana mekanismenya, dan kapan pendaftaran tersebut terlaksana.
Hingga suatu hari saya dapat chat WhatsApp dari om yang menyampaikan bahwa saya ditempatkan di luar Kolaka Utara. Sempat sedih dan galau karena tempatnya sangat jauh. Saya bahkan berusaha untuk meminta di tempatkan di Kolut. Pihak yang bertanggungjawab dalam seleksi ini masih berusaha semua yang masuk dalam kategori prioritas 1 (P1) di tempatkan di Kolut.
Tibalah saatnya pengumuman terbukanya pendaftaran dan penempatan untuk P1. Saya menerima informasi tentang pengumuman penempatan tersebut. Dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang, keringat dingin di sekujur tubuh dan tangan yang gemetar, saya membukanya dan jeduaaar.
Tubuh ini langsung lemas, senyum hilang seketika, semangat pun yang langsung lumpuh karena nama tidak ada diantara deretan nama-nama yang beruntung itu. Tetapi tidak menyerah, harus bangkit lagi.
Esok harinya saya datang ke Diknas untuk mempertanyakan. Mereka berkata bahwa kita tidak bisa merubah hal tersebut karena ini merupakan keputusan mutlak dari BKN (Badan Kepegawaian Negara) pusat.
Saya tertunduk lesu dan sedih. Lalu kuangkat kepalaku dan bertanya, apakah di sana saya diterima? Dengan harap-harap cemas menanti jawaban, mereka menatapku dengan senyum berusaha untuk menenangkan. Mereka berkata “Semuanya tergantung dari pihak sana apakah menolak atau menerima tetapi kami akan tetap mengusahakan untuk mereka tidak menolaknya”.
Saya berjalan dengan langkah yang lesu dan seakan nyawa hilang dari raga. Saya curhat dengan keluarga dan mereka terus memberikan dukungan dan masukan sehingga mengembalikan semangat saya dan siap di tempatkan dimana saja.
Waktu berjalan terus hingga tak terasa seminggu berlalu. Ketika saya membuka fortal SSCN dengan memasukkan NIK dan Pasword, saya lagi dan lagi harus menelan pil pahit katika saya membaca tulisan

Aaahhh sudahlah!!!
Mungkin memang bukan takdir untuk pergi kesana. Mungkin memang bukan rejeki di tahun ini untuk lolos. Saya pasrahkan semuanya kepad-Nya. Pasti ini bukan yang saya butuhkan makanya Tuhan tidak meloloskan.
Harus tetap bersabar dan terus berjuang. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.
Saya percaya Allah tidak akan melimpahkan sesuatu masalah kepada hambanya jika tidak sanggup memikulnya. Karena pada dasarnya ujian dan masalah itu datang bukan untuk melemahkan, tetapi membuat jadi kuat. Kuat untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Gagal berkali-kali dan harus bangkit berkali-kali.
Always think positively of Allah because Allah loves us so much
*Penggiat literasi Kolaka Utara
