Oleh : Eliyusman Karim*
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang terkenal dengan adat istiadat yang kental akan unsur religiusnya, tetapi Sumatera Barat juga kaya akan potensi bencana karena memiliki tatanan geologi sangat kompleks.
Kondisi ini disebabkan letaknya berada pada daerah tumbukan dua lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan dan lempeng Eurasia di bagian Utara yang ditandai dengan terdapatnya pusat-pusat gempa tektonik di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan sekitarnya.
Akibat pergeseran kedua lempeng besar tersebut selanjutnya menimbulkan gejala tektonik lainnya yaitu busur magmatik yang ditandai dengan munculnya rangkaian pegunungan Bukit Barisan beserta gunung apinya dan sesar/patahan besar Sumatera yang memanjang searah dengan zona tumbukan kedua lempeng yaitu Utara-Selatan. Dampak negatif wilayah Sumatera Barat secara geologi merupakan wilayah yang berpotensi terjadinya bencana alam beraspek geologi berupa gempa tektonik, baik yang berpusat di darat yaitu pada jalur patahan sesar Sumatera atau yang lebih dikenal dengan Patahan Semangko. Selain ancaman gempa dan tsunami, Sumbar juga tiap tahunnya dilanda banjir dan tanah longsor.
Bertitik tolak pada Peraturan Kepala BNPB No.1 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, seharusnya Sumatera Barat telah terbentuk Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di seluruh Desa/Kelurahan, namun sampai saat ini sudah lebih kurang sepuluh tahun berlalu Perka BNPB No.1 Tahun 2012 tersebut tapi pelaksanaannya belum maksimal.
Sebagaimana informasi dari Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumatera Barat Fajar Sukma yang menyatakan bahwa dari 1.159 Desa/Kelurahan yang ada dan berada pada 19 Kabupaten/Kota se Sumatera Barat hanya sebayak 57 Destana yang baru terbentuk atau baru sekitar 5%.
Berangkat dari data di atas, secara totalitas pencapaian Pembentukan Destana di Sumatera Barat sangat jauh dari harapan. Pertanyaannya adalah, apa sebab dan kenapa hal tersebut terjadi? Kalau kita lirik daerah lain seperti Provinsi Jawa Timur dari 2.742 Desa/Kelurahan yang rawan bencana sudah terbentuk lebih kurang 1,279 Desa/Kelurahan atau sekitar 47%.
Sekali lagi apa sebab dan kenapa hal itu terjadi di Sumatera Barat? Tidak sesuai dengan harapan kita bersama sementara daerah Sumatera Barat sangat rawan dan tinggi potensi bencananya seperti ; banjir, longsor, angin puting beliung, abrasi pantai, gunung api, gempa bumi, dan tsunami serta kebakaran lahan/hutan.
*Pemerhati bencana di Sumatera Barat
