Oleh: Achmad Fajar Putra*
Perjalanan itu adalah proses yang panjang dan memerlukan waktu serta tenaga ekstra. Orang bijak menasihati bahwa siapa yang memanfaatkan waktunya dengan baik akan mengangkat tropy kemenangan di atas panggung kehidupan. Karena itulah aku selalu berusaha sedapat mungkin tidak mengabaikan waktu.
Semenjak aku dilahirkan hingga saat ini, banyak cerita dan peristiwa yang telah kulalui. Dengan inilah aku terlatih dan terbentuk menjadi karakter yang kuat dan petarung. Sebagaimana kata bijak sang inspirator kehidupan Bapak Ruslan Ismail Mage yang mengatakan,”Semakin sering terbentur semakin memungkinkan terbentuk menjadi manusia paripurna”.
Kisahku mungkin tidak serumit dan sesulit dari kebanyakan orang, tetapi aku tetap bersyukur atas keadaan ini. Sejak kecil ibuku selalu menasihati harus berdamai dengan keadaan, apa pun masalah yang dihadapi. Karena tidak ada masalah tanpa jalan keluar selama kita berusaha, berikhtiar, berdoa, dan tawakkal.
Aku beruntung dilahirkan pada 12 September 2003 di kota yang memegang teguh nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan. Keluarga intiku berjumlah empat orang yang terdiri ayah, ibu, adik, dan aku sendiri. Awalnya aku berpikir seperti anak-anak seumuranku di waktu kecil yang mendapatkan kebahagiaan keluarga yang harmonis. Namun, Tuhan berkehendak lain, alur hidupku berubah. Skenario perjalanan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan melanda hidupku.
Singkat cerita, ayah dan ibu bercerai saat diriku menginjak bangku kelas enam SD, sementara adikku baru menginjak bangku pendidikan TK. Hingga suatu waktu aku bertanya kepada ibuku perihal bapak yang tidak kunjung kembali ke rumah seperti biasanya.
Ibu menyampaikan dengan derai air mata. Ibu berkata, “Anakku, kita harus siap dengan kondisi ke depannya ya nak”. Sejak saat itu aku berpikir ada apa ini? Kenapa ini? Aku bingung karena secara usia aku baru kelas enam sekolah dasar, dan belum memahami apa itu perceraian.
Sejak ibuku menjelaskan kondisi yang sebenarnya, aku perlahan mulai memahami dan berdamai dengan keadaan. Aku bertumbuh dengan adikku dibawah bimbingan ibu yang kuat, tangguh, dan visioner. Hari-hari pertumbuhanku ibu menutupi rasa kesedihannya dengan berusaha semaksimal mungkin agar aku dan adikku tetap bahagia.
Alhamdulillah, berkat doa dan kasih sayang ibu dalam membesarkan dan membimbingku, kini aku bisa kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kotaku. Tidak jarang di sela-sela aku menjaga masjid, aku selalu bersujud memanjatkan doa, “Ya Allah ya Rabb, kuatkan dan sehatkan selalu ibu. Izinkan aku membahagiakan ibu dengan prestasiku”. Dalam menjalani rutinitas sebagai mahasiswa, aku selalu berusaha melukis senyum di wajah ibu agar Tuhan bisa tersenyum kepadaku.
*Mahasiswa dan penggiat literasi

masya allah bg.teruskan bg