mehmed

Jika kita membaca sejarah kesultanan Utsmaniyah atau sering juga disebut Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman Empire) maka begitu banyak kisah kisah keunggulan dan pencapaian yang mengagumkan yang kita dapat. Penaklukan kota Konstantinopel yang merupakan ibukota kekaisaran Romawi di timur merupakan salah satu pencapaian itu. Kesultanan Utsmani juga mampu memperluas wilayah kekuasaannya yang kalau dilihat dimasa moderen sekarang ini meliputi 43 negara berdaulat. Kesultanan Utsmani merupakan salah satu negara kesultanan Islam terbesar pada masa masa kejayaannya pada abad ke-16 sampai abad ke-17.

Namun dibalik kebesaran nama Kesultanan Utsmani, ada kisah kelam yang menjadi kontroversi dan perdebatan. Kisah itu adalah kisah pembunuhan para pangeran atau anggota keluarga lainnya dari kesultanan Utsmaniyah yang dikenal dengan istilah Fratricide. Fratricide awalnya adalah tindakan yang ilegal (melanggar hukum) pada masa awal Kesultanan Utsmaniyah. Namun kemudian menjadi legal ketika Sultan Mehmed II berkuasa setelah terjadinya perang sipil melawan saudaranya sendiri yaitu Suleyman, Isa, and Musa. Perang saudara ini berlangsung selama 8 tahun dan melemahkan Kesultanan Utsmaniyah.

Adegan eksekusi mati Pangeran Bayezid dalam film “Magnificent Century; Kosem”

Sumber sejarah lainnya menyebutkan bahwa praktik Fratricide, yang dilegalkan oleh para pendiri kesultanan Utsmaniyah pada masa awal terbentuknya adalah hanya diberlakukan jika seorang pangeran berusaha meng-kudeta atau mengambil alih kekuasaan Sultan yang sedang berkuasa. Namun pada perkembangan selanjutnya, yang terjadi adalah bahkan pangeran yang masih anak anak pun dibunuh dengan alasan kekhawatiran akan terjadinya perebutan kekuasaan dimasa yang akan datang.

Mehmed III yang memerintahkan eksekusi mati ke-19 saudara laki lakinya.

Tercatat dalam sejarah, keluarga Sultan yang pertama kali dihukum mati karena berkerjasama dengan pihak musuh adalah Dundar Bey, yang merupakan adik bungsu dari Ertugrul Ghazi, perintis dan pendiri kesultanan Utsmaniyah. Dia dihukum mati oleh keponakannya sendiri yaitu Sultan Osman I (Putra Ertugrul Ghazi) yang merupakan Sultan pertama dan asal mula nama Kesultanan Ustmaniyah atau Osmaniyah (istilah “Ottoman” dalam bahasa Inggris). Hukuman mati yang dijatuhkan pada Dundar Bey ini divisualisasikan secara apik dalam film seri Turki berjudul “Kurulus Osman”.

Iringan jenazah para pangeran dibawa keluar Istana Topkapi, salah satu adegan film “Magnificent Century; Kosem”

Selanjutnya Sultan yang berkuasa silih berganti, ada Sultan yang menghukum mati saudara laki-lakinya, namun ada pula yang berusaha untuk tidak melakukannya. Adapula Sultan yang hanya menjatuhkan hukuman pengasingan kepada saudaranya yang berkhianat.

Tercatat dalam sejarah, ada 60 orang pangeran dalam kesultanan Utsmaniyah yang dihukum mati selama masa tegaknya Daulah Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1299-1922). Diantara 60 orang pangeran yang di-eksekusi mati tersebut, 16 orang diantaranya karena memang melakukan pemberontakan untuk mengambil alih kekuasaan. Dapat dikatakan bahwa eksekusi mati ke-16 pangeran tersebut sudah sesuai dengan aturan yang berlaku pada masa itu. Sementara itu 7 pangeran dihukum mati meskipun alasannya karena  “merencanakan” pemberontakan mengambil alih kekuasaan. Sisanya, hanya karena “dikhawatirkan” akan memberontak. Bahkan ada yang masih anak anak.

Sultan Mehmed III tercatat dalam sejarah sebagai Sultan yang paling banyak mengeksekusi saudara laki lakinya sendiri baik saudara kandungnya maupun saudara tirinya. Ketika naik tahta sang Sultan memerintahkan eksekusi mati 19 orang saudara laki lakinya. Peristiwa Fratricide terbesar dalam sejarah ini terjadi pada tanggal 28 Januari 1595. Peristiwa ini adalah peristiwa paling kelam dalam sejarah Kesultanan Utsmaniyah. Ke-19 pangeran yang dieksekusi mati itu dimakamkan dekat masjid Aya Sofia (Hagia Sophia) saling berdekatan satu sama lainnya.

Eksekusi mati ke-19 pangeran ini juga divisualisasikan dalam film seri “Magnificent Century: Kosem” yang bisa ditonton di Youtube. Film seri ini memang mangambil ide atau ilham dari sejarah kesultanan Utsmaniyah.

Makam Sultan Murad III beserta ke-19 putranya, dekat Masjid Hagia Sophia, Istambul.

Dalam sejarah, tercatat pula bahwa para tukang jagal (petugas eksekusi mati) itu adalah orang orang bisu dan tuli, yang konon kabarnya agar mereka bisa tetap loyal / setia kepada Sultan dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Hukuman mati dilaksanakan dengan cara menjerat leher para pangeran tersebut dengan tali yang kuat atau tali alat panah. Hal ini dilakukan karena darah para bangsawan tersebut tidak boleh ditumpahkan.

Tempat pemakaman ke-19 pangeran Utsmaniyah ini berlokasi tidak jauh dari masjid Hagia Sophia dan terbuka untuk umum.

(Diolah dari berbagai sumber diantaranya : royalcentral.co.uk,  wikipedia, dan turkisharchaeonews.net)

tt
(Visited 578 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.