Oleh: Hamsah*

Tepat tanggal 22 Maret 2023, sidang Isbat pun dilaksanakan oleh pemerintah yang dapat disaksikan melalui streaming youtube. Meskipun dalam gelap dan percikan gerimis, namun itu tak menciutkan semangat kami untuk menyambut awal ramadan tahun 2023. Kami bersama rekan kontrakan bergegas ke Masjid Kampus bermaksud ingin melaksanakan salat tarawih meskipun putusan sidang tentang hari pertama ramadan belum diumumkan.

Seusai salat Isya, sambil mengobrol dengan rekan dan membahas besok rencana mau buka puasa di mana, maklum kami adalah anak rantau yang setiap saatnya harus melakukan kerajinan tangan sendiri jika ingin sesuatu. Pertanyaan itu tentu tidak lazim, apalagi di bulan ramadan memang lebih baik mencari tempat untuk berbuka, selain untuk memenuhi kebutuhan fisik secara pribadi juga untuk meneguhkan identitas sebagai makhluk sosial dengan berbuka bersama.

Dalam hati saya menjawab pertanyaan teman itu meskipun bukan jawaban yang diharapkan. Bagaimana bisa menentukan ingin berbuka puasa di mana, sementara puasa saja belum. Artinya, masih ada interval waktu untuk kemudian sampai pada proses berbuka. Sambil tersenyum, saya pun menjawab, iya boleh kita datang berbuka puasa di Masjid ini, apalagi panitia sudah menginformasikan jika ada para donatur yang akan memberikan makanan berbuka puasa.

Pertanyaan teman terkait besok akan buka puasa di mana itu mengindikasikan bahwa begitulah harapan bekerja dalam kehidupan kita. Hari esok adalah sesuatu yang tidak pasti bagi kita sebagai makhluk yang bernyawa. Tidak ada kepastian apakah hari esok kita bisa bangun dari tidur dalam keadaan normal, hidup ataupun mati. Saya tidak bermaksud ingin menakut-nakuti, karena saya juga sebenarnya takut dengan apa yang saya tulis ini.

Begitu banyak yang kita rencanakan untuk hari esok. Kita mungkin ingin melakukan apa, bertemu siapa, termasuk kita ingin menentukan mau buka puasa di mana, dengan siapa dan rencana-rencana lainnya. Semua itu kita rencanakan dengan begitu matang, jelas, dan terukur. Tentu hal itu kita rencanakan karena adanya harapan yang kita miliki bahwa hari esok akan sama dengan hari-hari yang telah kita lewati sebelumnya. Oleh karena itu, hari esok dan harapan adalah dua hal yang tidak pernah terlepas pada diri kita.

Kita mungkin tertidur karena lelah, tetapi kita akan terbangun karena sebuah harapan. Bicara hari esok, di situ ada harapan yang kita simpan, ada harapan yang kita ingin wujudkan. Maka dari itu, hari esok tak boleh kosong dengan harapan.

Momentum bulan puasa ini, kita akan berpuasa, menahan segala hal yang membatalkan puasa khususnya makan dan minum sampai pada waktunya untuk berbuka. Lagi dan lagi kita dapat menahan lapar dan haus yang bilamana di luar bulan ramadan hal itu sulit dilakukan. Akan tetapi, dengan harapan yang kita miliki bahwa dengan berpuasa kita akan mendapatkan balasan, maka hal itu dengan mudah kita lewati.

Melalui puasa kita akan menjadi manusia yang bertakwa dalam istilah agama, dan menjadi manusia yang berkarakter dalam diskursus sosial. Selamat menjalankan ibadah puasa.

*Penulis adalah akademisi dari Universitas Negeri Manado

(Visited 84 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.