Oleh: Hamsah*

Di bulan ramadan, kita akan sering disuguhkan dengan berbagai wejangan dalam bentuk siraman rohani dan kata-kata yang mudah dipahami tetapi terasa sulit diimplementasikan. Bulan ramadan dengan sejuta keistimewaannya, namun sayangnya saya tidak berkapasitas untuk menjelaskan itu karena bukan keilmuan saya. Tetapi dalam uraian ini saya hanya ingin menguji diri sendiri tentang apa yang dapat saya perbuat sehingga menunjukkan ada  pembeda pada bulan-bulan lainnya.

Ini adalah pertanyaan yang berulang setiap bulan ramadan yang saya tanyakan kepada diri sendiri. “Apa yang dapat berubah dalam diri saya dalam bulan ramadan? Dapatkah mencapai kesabaran yang paripurna, dapatkah mengurangi potensi dosa, dapatkah kita benar-benar mencapai kesalehan?, dan beberapa pertanyaan lainnya.” 

Perubahan itu tentu bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan, namun pun jika itu bisa dijelaskan, apakah benar-benar terjadi dan kita mengalaminya sendiri. Atau mungkin memang tidak ada perubahan sama sekali yang terjadi. Kenapa saya mengatakan seperti ini, nyatanya dalam hari ke-4 puasa, sepertinya yang berubah hanyalah interval makan dan minum saja. Bahkan jika diurai lagi ke esensinya yang paling dalam dengan meminjam pandangan Al Ghazali, maka proses menahan lapar dan haus tadi juga belum sepenuhnya bisa dikatakan berpuasa, bilamana masih ada hasrat-hasrat duniawi dalam pikiran kita.

Kira-kira apa yang bisa saya uraikan tentang perubahan dalam diri dalam bulan puasa ini. Karena akan terlalu naif juga jika saya mengatakan bahwa dalam bulan ramadan potensi dosa yang dapat muncul dari ucapan, pendengaran dan penglihatan dapat berkurang. Toh nyatanya buka potensinya yang berkurang hanya saja ruang geraknya yang terbatas karena tubuh dalam keadaan lemah untuk ke sana kemari. Namun jika ruangnya dapat, maka bercanda, mengghibah tetaplah menjadi konsumsi yang asyik. Lantas perubahannya di mana?

Bagaimana dengan kesalehan sosial? Sepertinya tidak ada juga kesalehan sosial. Praktik kecil dari kesalehan sosial adalah misalnya dalam jual beli jika itu dilakukan di pasar tradisional dengan mengurangi tingkat penawaran atau justru memberikan kelebihan bagi orang yang membutuhkan, namun sepertinya itu belum pernah terjadi. Bagaimana tidak, semua transaksi jual beli dilakukan di pasar modern, tidak ada tawar menawar. Sehingga kesalehan sosial sulit ditemukan.

Bagaimana dengan sedekah? Bagi orang lain mungkin enggan menguraikan ibadah sedekahnya karena takut dianggap sombong atau ria. Tetapi bagi saya rasanya justru malu. Bagaimana tidak malu, sedekah yang saya keluarkan masih lebih kecil dibandingkan dengan biaya jajan anak TK. Sudah kecil, dibicarakan lagi, pasti ini kategorinya ria, tetapi anggaplah ini sebagai contoh padahal itu kenyataan. Meskipun sedekah itu tidak dilihat dari besaran nilai tetapi adalah keikhlasan, namun justru besaran nilai itulah yang menentukan ukuran keikhlasan.

Tulisan ini bukan sebagai keluh kesah dan pesimisme semata. Namun saya hanya ingin menjadikan pemantik bagi diri dan kita semua, apakah yang membaca tulisan ini juga merasakan demikian, ataukah hanya saya saja yang memang karena imannya masih lemah. Itu saja sih.

*Penulis adalah akademisi Universitas Negeri Manado

(Visited 49 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.