Oleh: Gugun Gunardi*
Awal Desember 1975, aku lulus dari SMA Pasundan Bandung. Waktu itu SMA Pasundan hanya satu di Bandung, yaitu yang ada di Jl. Balong Gede Bandung. Namun pada tahun 1980, SMA Pasundan di Jl. Balong Gede berubah nama menjadi SMA Pasundan 1, lalu di Jl. Cihampelas, berdiri SMA Pasundan 2, dan di Jl. Kebon Jati berdiri SMA Pasundan 3. Berdirinya SMA Pasundan 2 dan 3, semata-mata karena tuntutan masyarakat (siswa) yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat menengah di SMA Pasundan.
Aku menyaksikan sendiri karena saat itu (tahun 1980), aku sudah menjadi guru bahasa Sunda di SMA Pasundan. Siswa lulusan SMP membludak yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA Pasundan. Seingatku, karena tuntutan masyarakat itu, maka pada tahun 1980, Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan, melebarkan SMA Pasundan dengan mengubah nama SMA Pasundan menjadi SMA Pasundan 1, serta mendirikan SMA Pasundan 2 dan SMA Pasundan 3. Ini yang ada di Kota Bandung, belum termasuk yang di luar kota Bandung.

Pada tahun 1980, SMA Pasundan banyak diminati oleh lulusan SMP dari manapun, karena sudah terlihat produk lulusan dari SMA Pasundan banyak yang diterima di Perguruan Tinggi (PT) favorit di Bandung. Tidak sedikit pula lulusannya yang diterima di pendidikan kedinasan AKABRI, AKPOL, maupun APDN (sekarang STPDN). Jadi, tidak aneh kalau saat itu SMA Pasundan menjadi incaran para lulusan SMP. Satu hal yang menjadi ciri khas pendidikan SMA di Pasundan adalah kedisiplinannya. Salah satu contoh kedisiplinan itu adalah rambut siswa laki-laki tidak boleh gondrong. Apalagi pakaian seragam, model celana untuk laki-laki tidak ada cubray-cubray, dan kemeja harus selalu dimasukkan. Saat itu memang terkesan seperti pendidikan militer. Tapi style pendidikan itulah mungkin yang menarik minat para orang tua siswa untuk menyekolahkan anak-anaknya di Pasundan.
Aku adalah salah seorang yang dibesarkan dalam lingkungan kesundaan, terutama oleh Pasundan. Sekolah dasar selama 6 tahun aku selesaikan di SDN Mochamad Toha 4 Bandung, Jl. Moch. Toha. SMP diselesaikan di SMP Pasundan 1 Bandung. Sedangkan SMA aku selesaikan di SMA Pasundan Bandung. Kedua-duanya berlokasi di Jl. Balonggede Bandung.

Ketika lulus SDN tahun 1969, nilai rata-rata ujianku memungkinkan untuk diterima di SMP favorit di Bandung Selatan, yaitu SMP 3 Bandung, Jl. Dewi Sartika. Waktu itu tidak ada testing masuk SMP, tetapi hanya dilihat hasil ujian saja. Namun, untuk lanjut sekolah di SMPN 3 Bandung, terkendala masalah ekonomi. Waktu itu siswa baru harus membayar uang pembangunan sebesar Rp 3.000,- (tiga ribu rupiah), saat itu uang sejumlah itu cukup besar, dan Bapakku tidak memiliki dana sejumlah itu. Begitu pula kakakku, tidak tersedia dana sejumlah itu. Atas nasihat dari kakakku yang nomor kedua dari atas (Wigandi atau Kang Ayi), aku disarankan untuk melanjutkan pendidikan SMP ku di SMP Pasundan 1 Bandung.
Tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun, hanya dibekali uang seperlunya dan sepucuk surat dari Kakakku, aku diterima sebagai murid SMP Pasundan 1 Bandung, dan ditempatkan di kelas 1 C. Wali kelasku saat itu seorang Ibu yang cantik teman kuliah kakak iparku di IKIP (sekarang UPI) Bandung, jurusan Matematika, Ibu Merry. Aku menikmati sekali suasana belajar di SMP Pasundan 1 Bandung. Apalagi Wali Kelasku, Ibu Merry, ketika waktu istirahat sering memanggilku untuk memberikan makanan ringan yang dibawa dari rumahnya.
Setelah satu kwartal (3 bulan) berjalan Proses Belajar Mengajar (PBM), ketika saya akan membayar uang iuran sekolah untuk bulan keempat, bagian administrasi keuangan menyuruhku untuk menemui kepala sekolah saat itu, Drs. R. Soeprapto. Aku kaget sekali, ada kesalahan apa yang kuperbuat, hingga harus menghadap kepala sekolah. Dengan rasa khawatir yang menguasai pikiran, aku menemui kepala sekolah di ruang kerjanya.
Sesampai di hadapan beliau, aku sangat gugup sekali, dan tertunduk dengan ketakutan. Gerangan aku mau distrap atau apa aku tidak tahu. Setelah aku berdiri di depan beliau, aku disuruh duduk di kursi di depan meja kerjanya. Aku ulurkan tangan dan mencium tangan beliau.
“Gimana, kamu bisa mengikuti pelajaran di SMP?
“Alhamdulillah, Pa”.
“Kamu kaget ya dipanggil sama Bapa”.
“Betul Pa….”
“Jangan khawatir, ada kabar gembira buat kamu.
Kamu dibebaskan dari membayar iuran sekolah bulanan, dengan catatan kamu harus mempertahankan prestasi belajarmu.”
Selintas kemudian, aku gembira bercampur haru. Karena biasanya bayaran sekolahku tiap bulan, baru bisa dibayar setiap tanggal 20. Karena uang itu baru tersedia di antara tanggal 18 s.d 20. Tentu saja berita baik ini akan membuat Ayahku bergembira, karena beban ekonomi untuk menyiapkan iuran bulanan sekolahku dibebaskan oleh sekolah.
Ketika naik ke kelas 2, kepala sekolahku diganti oleh Bapak Drs. Oboy Sudirga, karena Bapak Drs. R. Soeprapto, katanya harus menjabat Kepala Dinas di salah satu kota. Aku tidak tahu di mana Beliau ditugaskan.
Seminggu setelah bertugas di SMP Pasundan 1, aku dipanggil oleh Bapak Drs. Oboy Sudirga, bersama teman dari kelas lainnya, yaitu dari kelas A, B, C, dan E, sedangkan aku waktu itu menjadi murid di kelas 2 D. Kami berlima menghadap Bapak Kepala Sekolah. Tidak banyak yang beliau sampaikan.
“Bapak berharap kalian tunjukkan prestasi belajar lebih baik lagi agar sekolah bisa terus membantu kalian, dan yang terutama, semakin sungguh-sungguh belajar agar hasilnya lebih memuaskan lagi.”
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tak terasa kami sudah menempuh ujian SMP dengan hasil memuaskan. Kegembiraan melingkupi kami semua karena teman-teman seangkatanku dinyatakan lulus semua. Teman-temanku pada punya rencana untuk melanjutkan ke SMA favorit mereka masing-masing. Aku tidak terpikir untuk mencari SMA di luar Pasundan karena khawatir kejadian waktu mau masuk SMP terulang lagi. Testing masuk ke SMA favorit mungkin berhasil, tetapi tidak bisa lanjut, karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Akhirnya pilihanku jatuh ke SMA Pasundan. Dengan berbekal surat dari Kang Ayi, dan uang seadanya dari Bapak, aku mendaftar ke SMA Pasundan Bandung.
Surat dari Kakak aku berikan ke bagian pendaftaran di SMA Pasundan. Bagian pendaftaran sejenak melihat surat tersebut. Kemudian Dia beranjak meninggalkan aku dan masuk ke salah satu ruangan. Beberapa saat kemudian, Dia mempersilakan aku untuk masuk ruangan yang sama. Ternyata di dalam ruangan hanya ada seorang Ibu duduk di meja kerja. Dari papan nama yang diletakkan di meja kerjanya, saya jadi tahu bahwa beliau adalah Kepala Sekolah, namanya Ibu Dra. Djulaeha Karmita.
Aku berdiri di depannya, sementara beliau duduk sambil melihat beberapa surat yang disampaikan oleh bagian pendaftaran, dan salah satunya mungkin surat dari Kakakku.
“Silakan duduk, kamu yang namanya Gugun ya…”
“Iya Bu”, sambil kuulurkan tangan untuk menyalami dan mencium tangannya.
“Ya, kamu diterima menjadi murid baru SMA Pasundan, tetapi nanti ikut testing juga ya…”
“Baik Bu, terima kasih banyak.”
Ke luar dari ruangan kepala sekolah, bagian pendaftaran melambaikan tangan, tanda aku diminta mendatanginya lagi.
Aku duduk di depan mejanya. Sejenak kemudian Dia berikan form pendaftaran yang sudah diisi identitasku yang sebelum masuk ruangan kepala sekolah sudah dimintanya.
“Kamu udah diterima sebagai murid baru SMA Pasundan”, katanya.
“Tapi kamu harus ikut testing juga ya…”
“Kamu ngga usah bayar apa-apa, sudah dibebaskan oleh sekolah…”
Sambil berjalan pulang, tak lepas-lepas setiap mengambil napas, aku mengucapkan Alhamdulillah. Kalau dihitung, mungkin sampai di rumah sudah ribuan aku bacakan. Karena jarak dari SMA Pasundan, hingga ke rumahku di Jalan Moch. Toha (Cigereleng-Babakan Priangan), lebih kurang berjarak 6.5 km.
Di SMA Pasundan, bulan pertama membayar iuran sekolah, aku sudah dibebaskan membayar iuran sekolah. Jadi, selama 36 bulan belajar di SMA Pasundan, aku tidak pernah diminta kewajiban membayar iuran sekolah. Tentu saja kebaikan sekolah kepadaku, aku imbangi dengan prestasi belajarku yang membanggakan kedua orang tuaku.
Tak terasa tahun 1975, aku telah menyelesaikan belajar di SMA Pasundan. Aku sangat berterima kasih karena selama 3 tahun aku tidak pernah mendapatkan tagihan apa pun. Jadi selama 6 tahun dari tahun 1969 s.d tahun 1972, aku dibantu oleh SMP Pasundan 1, dan dari tahun 1972 s.d tahun 1975, aku dibantu oleh SMA Pasundan, yang kedua-duanya ada di bawah pembinaan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan dalam naungan Pengurus Besar Paguyuban Pasundan.
Terima kasih banyak, saya sampaikan kepada Prof. Dr. Didi Turmudzi yang sekarang mengembang tugas sebagai Ketua PB Paguyuban Pasundan. Karena Ada Pasundan Aku Bisa Sekolah.
*Dr. Gugun Gunardi, M.Hum., Dosen tetap Unfari Bandung.

Seangjataan kita agaknya ya Bah. Lulus SD 1969.
Hanya saya gak sampai lulus SMA.
1974 pas naik kelas 3 sakit parah.
PASUNDAN ini yg dulu didirikan oleh DEWI Sartika ya?