Oleh: Yusriani Nuruse

Sejak di Hotel tempat kami berkumpul dengan Jamaah umroh yang berasal dari beberapa kota seperti Soppeng, Palopo, Mandar, Bone, Makassar, dan Kalimantan melalui Rayyan menara travel sebelum kami bertolak ke Madinah, Ustadz H Lutfi Ashar sebagai salah satu Muthawif kami yang sudah kuanggap seperti saudara karena dia yang mengurusi semua persyaratan dan perlengkapan umrohku dan gaya humoris membuat para Jamaah senang dan semangat, menitipkan dua jamaah lansia padaku, Ibu Salama dan ibu A.Hasnah.

Kami bertiga satu kamar dan semua berstatus janda. Hehehe. Dititipin jamaah lansia merupakan satu amanah dan tanggung jawab buatku, padahal ini adalah Umroh pertama, yang belum tahu suasana di tanah suci. Namun, aku selalu berdoa setiap saat kiranya Allah memudahkan urusan kami.
Sesampai di Madinah, aku, Ibu Salama dan Ibu A.Hasnah menempati kamar di lantai 12, Kamarnya Luas dan kutengok ke bawah menyaksikan indahnya kota Madinah dan jamaah yang lalu lalang menuju Masjid Nabawi . Masya Allah, membuatku takjub dan sangat bersyukur Allah memperjalankan kami sampai di Tanah Arab.

Setiap waktu salat kuajak mereka bersegera ke Masjid, 1 jam sebelum Adzan dikumandangkan agar bisa masuk ke dalam Masjid Nabawi,walau banyak jamaah hanya salat di luar atau di pelataran Masjid saja. Ada kesyahduan kurasakan bila berhasil masuk ke dalam Masjid Nabawi, yang jika terlambat maka petugas Masjid kadang tidak membolehkan kami masuk, maka kupasang muka sedih atau menangis memelas agar meloloskanku masuk. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu di Madinah.

Walau Hotel kami sangat dekat dengan pintu gerbang Masjid Nabawi, namun pelataran Masjid yang begitu luas membuat kami harus bersegera ke Masjid. Ibu A.Hasna yg terkadang berjalan tergopoh-gopong terkadang tertinggal, maka aku dan ibu Salama berhenti menunggunya, dan terkadang ia meminta sslat di pelataran Masjid saja dekat pintu gerbang. Kucarikan tempat dan meminta tidak meninggalkan tempat dan menunggu kami usai salat. Kemudian Aku dan Ibu Salama mencari tempat di dalam Masjid.

Udara yang begitu panas’membuat wajah dan bibir terasa perih, maka kubeli pelembab wajah dan bibir. Kulihat Ibu Salama dan Ibu A.Hasnah pun demikian mengeluh bibirnya terasa perih, kuberikan ia pelembab yang kubeli tadi dan mengoleskannya di bibirnya. Aku sempat bercanda pada mereka saat kusodorkan pelembab Vaseline padanya. ” Ibu pakai ini ya. Semoga ibu yang pake pelembab ini bibir saya yang sembuh dan tidak perih”.
Masya Allah, benar. Sejak itu aku tak pernah merasakan lagi perih di wajah maupun bibir hingga kami pulang ke tanah air.

Watansoppeng, 14 Mei 2023

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.