Oleh: Muhammad Sadar*

Tak ada kata berhenti bagi petani untuk melakukan aktivitas berulang tanam-panen-tanam padi berkelanjutan sebagai kebutuhan pokok masyarakat. Tak ada jeda waktu dalam pergerakan penyiapan bahan pangan utamanya komoditas beras. Sumbu adrenalin dan semangat kinerja petani berpacu dengan masa untuk menyiasati lingkungan tumbuh agar tanaman budidayanya bisa produktif dalam memberikan hasil optimal.

Tak terasa waktu 100 hari pascasemai atau 85 hari pascatanam bersama dalam event demonstrasi Cakrabuana, VUB Cakrabuana mulai memasuki fase panen dan dilakukan survei ubinan pada hari Jumat, 22 Maret 2024 di lokasi persawahan BPP Mallusetasi. Pada hari ke-11 hingga ke-12 puasa 1445 H, melalui pendekatan kerangka sampel area dengan plot sampel terukur, hasil survei menunjukkan
angka 5,28 kilogram yang setara produktivitas 84,48 kwintal per hektare gabah kering panen.
Estimasi produktivitas tersebut jika dikonversikan dengan standar gabah kering giling (GKG) 83,81%, maka cakrabuana memperoleh hasil sebesar 7,0 ton per hektare. VUB Cakrabuana mampu memberikan hasil yang nyaris sama dengan rata-rata hasil berdasarkan deskripsinya, yaitu 7,5 ton per hektare dengan potensi hasil 10,2 ton per hektare GKG.

Beberapa catatan evaluasi dan tantangan sehingga VUB Cakrabuana memberikan rapor yang cukup mengesankan antara lain sebagai berikut.

Pertama, pada masa pertumbuhan pascatanam atau fase vegetatif awal, Cakrabuana didera hujan lebat dan banjir membuat genangan beberapa hari kemudian. Kondisi ini menyebabkan sistem metabolisme tanaman menjadi stagnan dan arus air banjir mereduksi dan mencuci hara tanah, respirasi, dan oksidasi terhambat. Namun, kondisi tersebut bisa kembali normal dengan nyaris memompa adrenalin petani ke tingkat stres yang tinggi.

Kedua, pada fase pertumbuhan berikutnya, yaitu pada masa generatif awal dengan umur antara 45-50 hari pascatanam, Cakrabuana telah mengeluarkan malai yang hampir seragam. Pada kondisi tersebut mengundang serangan udara komunal burung pipit sehingga menyebabkan losses dari gangguan hama burung. Kejadian ini terus berlangsung hingga masak penuh. Namun, adrenalin petani tidak surut dan tetap melayani tantangan alam ini. Upaya petani adalah menghalau serbuan burung dari langit dengan cara memasang jebakan dan explosive shot.

Ketiga, perlakuan pemupukan cukup terpenuhi dan pengendalian OPT terkendali di ambang batas toleransi. Korelasi pemupukan tersebut yang memungkinkan postur tanaman mencapai tinggi ideal 105 cm sehingga ketahanan terhadap kerebahan tergolong sedang dan sentuhan angin musim rendengan menyebabkan kerebahan beberapa spot pertanaman.

Keempat, lokasi persawahan BPP Mallusetasi sebagai lahan tadah hujan tidak memiliki sumber air permanen dan bukan area aliran daerah irigasi namun mampu dikelola dengan limpahan debit curah hujan dari langit. Dengan faktor pembatas demikian, maka usaha yang bisa dilakukan adalah mengeksplorasi sumber daya air di bawah permukaan tanah melalui teknik pompanisasi menggunakan energi listrik nonBBM yang lebih menghemat biaya. Efisiensi dan efektivitasnya lebih menguntungkan dan debit air yang dipompa lebih banyak serta sebarannya berpotensi memenuhi semua areal persawahan BPP dan indeks pertanaman bisa dilakukan dua hingga tiga kali setahun.

Kelima, sikap petani pengelola lahan tersebut penting diapresiasi karena telah menunjukkan fungsi-fungsi kelompok tani yang seutuhnya dalam mengeksekusi Cakrabuana sejak awal kegiatan budidaya hingga masa panen berlangsung. Kerja sama, partisipasi, dan perlakuan intensif petani dalam menjaga, merawat, serta melindungi Cakrabuana sejak masa penanaman hingga fase panen. Kolaborasi ini sebagai model perwujudan keberhasilan dalam menyukseskan usahatani padi yang sebenarnya.

Pengembangan VUB Cakrabuana merupakan sebuah konsep adaptasi, antisipasi, dan mitigasi dalam menghadapi perubahan iklim masa kini. Strategi tersebut sebagai upaya untuk meminimalkan risiko kerugian dari dampak bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, baik itu kebanjiran,
kekeringan, dan gangguan OPT. Keunggulan Cakrabuana dari sisi umur tergolong genjah, produktivitasnya termasuk tinggi, serta agak tahan terhadap OPT tertentu seperti blast dan wereng batang coklat.

Tampilan varietas Cakrabuana begitu memesona para pelaku pertanian untuk terus membudidayakannya.
Harapan besar yang tertuju sebagaimana pada aksi demonstrasi ketika dilakukan tanam perdana bahwa Cakrabuana berpotensi dijadikan sebuah referensi varietas yang berkualitas untuk menjamin keberlanjutan usahatani padi. Aura Cakrabuana sangat menambah ekspektasi dan memancarkan pengaruh serta menumbuhkan minat-perhatian pembudidayanya.

Display VUB Cakrabuana sejak event demonstrasi hingga eksekusi pada masa panen musim rendengan saat ini, memberikan momentum untuk penyebaran varietas tersebut secara luas dan untuk mengubah mindset petani agar fanatisme terhadap varietas tertentu tidak terjadi lagi di kalangan petani.
Cakrabuana akan menjadi varietas recommended sebagai sebuah pilihan varietas yang rasional, baik untuk musim tanam rendengan dan lebih baik lagi pada musim tanam gadu karena berumur genjah.

Pertimbangan utama rekomendasinya adalah karena Cakrabuana dari sisi penerimaan petani sudah meyakini akan potensinya sekaligus sebagai varietas pelecut produktivitas dalam mengatasi defisit produksi yang terjadi saat ini. Cakrabuana juga akan ditonjolkan sebagai varietas untuk mengatasi ancaman darurat pangan yang membayangi kondisi negeri saat ini.

Eksekusi panen Cakrabuana ternyata mampu berperan sangat signifikan dalam menumbuhkan produktivitas padi. Penggunaan varietas unggul padi sebagai salah satu komponen penentu di dalam memacu produktivitas sehingga kegiatan pemuliaan, pengadaan, dan penggandaannya sangat dibutuhkan petani ketika awal musim tanam. Kebijakan negara dalam program ketahanan pangan harus ditopang oleh ketersediaan benih padi dari ras atau gen-gen unggul.

Pencapaian perdana Cakrabuana di daerah ini akan dicatat oleh sejarah varietas bahwa upaya tidak mengkhianati hasil dan akan mengantarkan negara ini mencapai status kedaulatan pangan nasional.

Barru regency is classified as a small area but is to fulfill all expectation and act as life support.

BPP Mallusetasi, 24 Maret 2024

*Penguji Perbenihan/Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Barru
Warga Bengkel Narasi Indonesia, Jakarta.

(Visited 281 times, 6 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: