Saya merasa sangat bangga dapat mengantarkan buku “Kau Membuatku Sekecewa Itu: Kumpulan Puisi Pena Anak Indonesia (PAI).” Buku ini merupakan cerminan dari semangat, kreativitas, dan dedikasi para penulis muda kita yang luar biasa. Inspirasi menulis bisa datang dari mana saja – dari alam, musik, seni, kehidupan sehari-hari, atau pengalaman pribadi. Dengan menjadi pengamat yang tajam, dunia di sekitar kita dapat memberikan inspirasi tanpa batas yang tercermin dalam setiap kata dan baris puisi di buku ini.

Judul buku ini mungkin terkesan negatif, “Kau Membuatku Sekecewa Itu”. Oke lah, kalimat tersebut sedang viral sebagai bagian dari lirik lagu yang banyak dijadikan backsound di media sosial. Namun, apakah tidak bisa memilih judul dengan kata-kata yang lebih positif?

Tentu masih hangat pemberitaan tentang penemuan mayat seorang pria yang tergantung di jembatan penyeberangan orang (JPO) Cimindi-Cibeureum, perbatasan Kota Bandung dan Kota Cimahi, Jawa Barat. Pria tersebut, Dimas Yonathan Tarigan, seorang guru honorer di SMK Sangkuriang 1 Cimahi, meninggalkan pesan dalam bentuk file di Google Drive yang dia tautkan di bio Instagram-nya. Pesan tersebut berisi curahan hati tentang rasa kesepian dan berbagai masalah pribadi yang ia hadapi, termasuk pengalaman dibully semasa kecil dan masalah kesehatan mental​​.

Menulis, seperti yang dilakukan oleh Dimas Yonathan Tarigan, sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menuangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Ini dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan mental. Namun, daripada menulis dan meninggalkan tulisan tersebut untuk dibaca setelah korban bunuh diri, sebaiknya kita salurkan pikiran dan perasaan kita dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan melalui berbagai media daring dan luring, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk buku. Ini tidak hanya membantu individu tersebut, tetapi juga bisa memberikan inspirasi dan dukungan bagi orang lain yang mungkin mengalami hal serupa.

Berkaca dari kejadian tragis yang menimpa Dimas Yonathan Tarigan, kita seharusnya sadar tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan dampak serius dari perundungan. Tentu saja bunuh diri bukanlah solusi atas permasalahan. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung dan terbuka agar setiap individu merasa diterima dan didengar. Dukungan sosial, akses ke layanan kesehatan mental, dan menyalurkan emosi melalui menulis adalah langkah-langkah yang dapat membantu mengatasi permasalahan hidup.

Menulis adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan kebahagiaan. Karena itu, tetaplah konsisten dan berkomitmen pada proses kreatif menulis, terutama ketika kita menghadapi hambatan atau kebuntuan. Setiap kata yang ditulis adalah langkah kecil menuju pemahaman diri dan dunia di sekitar kita. Saya berharap para penulis muda dalam komunitas ini terus melangkah maju, menghadapi setiap tantangan dengan semangat pantang menyerah.

Ingat, kesuksesan dalam dunia penulisan mungkin datang dengan cepat atau lambat. Apa pun jalannya, tetaplah rendah hati dan selalu terbuka untuk belajar dari orang lain. Kebijaksanaan sering kali ditemukan dalam mendengarkan dan belajar dari pengalaman orang lain, serta berbagi pengetahuan yang kita miliki dengan sesama. Sikap rendah hati akan membawa kita lebih jauh dalam perjalanan kreatif ini.

Pesan saya untuk anak-anak PAI, percayalah pada diri sendiri dan pada nilai karya kalian. Setiap kata yang kalian tulis memiliki potensi untuk membuat perbedaan.

Dalam setiap puisi terdapat kekuatan untuk menyentuh hati, menggugah pikiran, dan menginspirasi perubahan. Keyakinan pada diri sendiri adalah fondasi yang kuat untuk menciptakan karya yang bermakna dan berpengaruh.

Sekali lagi, jangan biarkan keraguan menghalangi kreativitas. Keraguan adalah bagian dari proses kreatif, tetapi jangan biarkan ia menghentikan langkah kalian. Teruslah menulis, teruslah berkreasi, dan biarkan kata-kata kalian mengalir dengan bebas. Setiap hambatan adalah peluang untuk belajar dan berkembang.

Terakhir, jangan ragu untuk berbagi karya kalian dengan dunia. Karya yang dibagikan memiliki kekuatan untuk menjalin koneksi, membangun pemahaman, dan menciptakan komunitas.

Pena Anak Indonesia (PAI) adalah tempat yang tepat untuk itu, sebuah komunitas yang mendukung dan mendorong penulis muda untuk tumbuh dan berkembang. PAI adalah rumah bagi para penulis muda yang berbakat. Dalam komunitas ini, kita saling mendukung dan mendorong untuk mencapai potensi terbaik. PAI tidak hanya tentang menulis, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas wawasan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Dengan antologi puisi ini, kita berharap dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi pembaca. Setiap puisi dalam buku ini adalah cerminan dari pemikiran dan perasaan para penulis muda yang akan menjadi generasi penentu nasib bangsa di era Indonesia Emas 2045. Mari kita dukung mereka dalam perjalanan ini dan bersama-sama menciptakan masa depan yang gemilang.

Salam hangat,
Ruslan Ismail Mage
Founder Pena Anak Indonesia (PAI) dan Bengkel Narasi (BN)

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.