Sungguh sangat bersyukur dan patut berbahagia para jamaah Masjid Raya Nurul Iman Kabupaten Barru karena pada hari Jumat,12 Juli 2024, khutbah Jumat Tahun Baru Islam, 06 Muharram 1446 Hijriyah disampaikan oleh seorang ulama berkelas internasional. Ulama yang berkewarganegaraan Malaysia lahir di Wanio Kabupaten Sidrap tahun 1947 silam, yang bernama lengkap Prof. Dr. Datok Sayyid Muhammad Aqil bin Ali al-Mahdaliy al-Husainiy. Ulama berputra Bugis tersebut adalah mantan Rektor Universitas Insaniah, Kedah Malaysia. Ketua Dewan Pakar/Guru Besar Universitas Islam Syekh Dawud Al-Fathani, Thailand turut dijabat hingga saat ini.

Riwayat pendidikan awal Islam sang profesor tersebut berawal pada DDI Mangkoso dan seperguruan dengan pimpinan DDI Mangkoso saat ini, AGH Prof. Dr. Faried Wadjedy, M.A. Beliau melanjutkan pada pendidikan S1 di IAIN Alauddin Makassar dan meneruskan pendidikan ke Timur Tengah, hingga dua kali memperoleh gelar professor yang salah satunya dari Universitas Al-Azhar di Kairo,Mesir.

Yang lebih spektakuler lagi adalah pasca khutbah, salat Jumat dipimpin oleh putra ulama kharismatik tersebut yang bernama Prof. Dr. Sayid Muhammad Aqil bin Ali al-Mahdaly al-Husainiy. Dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an yang sangat fasih dan merdu, ulama pewaris nabi tersebut memimpin salat Jumat hingga selesai selanjutnya berzikir dan doa bersama. Satu hal menarik bagi penulis pada khutbah Jumat kali ini adalah pemanfaatan sumber daya pertanian hingga disebutkan hadis Nabi Muhammad saw bahwa, “Jika sekiranya akan terjadi kiamat besok, umat Islam tetap diharap menanam bibit tanaman apabila bibitnya memang sudah tersedia.”

Pasca salat Jumat, penulis segera meninggalkan masjid untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pengujicoba perbenihan tanaman pangan. Penugasan hari Jumat ini adalah melakukan pemantauan terhadap standing crop padi di salah satu wilayah kerja (wilker) Kecamatan Barru.
Wilker yang dituju adalah Kelurahan Tuwung. Tuwung sebagai bagian dari sektor kota Barru yang memiliki wilayah seluas 12,35 kilometer persegi atau 1.235 hektare. Kelurahan Tuwung terbagi dalam empat lingkungan/RW yaitu Kamara, Tuwung, Mallawa, dan Mattirowalie yang didiami oleh penduduk sebanyak 1.919 jiwa. Tuwung berpotensi dikembangkan sebagai urban farming dengan tersedianya tanah pekarangan rumah tangga kota yang bisa dikelola menjadi lahan budidaya pangan sehari-hari (BPS, 2023).

Kelurahan Tuwung memiliki sumber daya pertanian meliputi luas baku sawah 208 hektare yang dikelola oleh petani sebesar 267 orang. Jumlah petani tersebut diwadahi oleh 7 unit kelompok tani dan 1 gapoktan.

Tuwung termasuk dalam pelayanan Daerah Irigasi (DI) Batubessi sehingga lahan sawahnya bisa ditanami padi dua kali setahun atau Indeks Pertanaman (IP) Padi mencapai 200%. Produktivitas padi yang biasa dicapai antara 6,0-7,0 ton per hektare gabah kering panen. Jenis varietas padi yang dibudidaya petani antara lain Ciliwung, Inpari 32, Mekongga, dan varietas asalan/galur. Pascapanen padi musim tanam kedua, petani Tuwung melanjutkan pertanaman palawija maupun hortikultura seperti kacang tanah dan kacang ijo, sayuran pare, dan kacang panjang.

Salah satu korporasi perbenihan nasional yang setiap musim tanam mengalokasikan benih padi unggul dalam program bantuan benih pemerintah adalah PT. Sang Hyang Seri. PT. SHS merupakan penyedia beberapa varian benih unggul padi yang telah dilepas pemerintah. Varietas unggul baru padi (VUB) yang paling umum disiapkan PT. SHS adalah Inpari 32 yang sangat produktif saat ini dan diminati petani.

Pada momen hari Jumat sebulan yang lalu atau jumat pekan terakhir pada bulan Dzulqaidah 1445 Hijriyah, entah siapa yang berkabar membawa koneksivitas perasaan ini, di serambi luar Masjid Raya Nurul Iman Kabupaten Barru telepon penulis berdering dan tertulis di layar handphone Kepala Cabang
Sulawesi Selatan PT. Sang Hyang Seri (PT. SHS) dalam posisi memanggil. Panggilan hanya sekejap saja, ternyata sang Kepala Cabang PT. SHS Hendrivo MS telah memandang penulis dari pelataran parkir.
Saya pun mendekat dan bertanya maksud panggilan telepon barusan.

Keterhubungan jiwa ini tak terbantahkan lagi dan relasi signalnya semakin kuat sebagai perwujudan terhadap dukungan kerja sama selama ini. Daya tarik kohesinya demikian masif karena sudah terbangun jejaringnya. Ketertarikan antara ide satu sama lain memberikan inspirasi kerja yang utuh dan progresif semata-mata untuk kelancaran kebutuhan sarana produksi petani.

Kolaborasi dan berkah Jumat tersebut ternyata tim pakem PT. SHS yang terdiri atas Bapak M. Masjkur selaku General Manager Regional IV meliputi wilayah se-Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua,
selanjutnya Bapak Rano Sujatma selaku Manager Umum Regional IV, didampingi Bapak Sugeng Wiyoto dan Bapak Akhyar masing-masing sebagai Unit Head PP Sidrap dan Unit Head Produksi Benih
mengajak penulis ke suatu tempat di lingkungan Kamara Kelurahan Tuwung yang oleh orang lokal menyebutnya “Belakang Rumah Nenek.”

Tanpa atribut dan tanpa nama, lokasi Rumah Nenek merupakan sebuah rumah panggung tua khas suku Bugis yang berukuran panjang 20 meter dan lebar 7-8 meter. Pada posisi belakang rumah tersebut dibangunlah sebuah tempat bernilai estetis yang memiliki view hamparan sawah sejauh mata memandang. Di Belakang Rumah Nenek tampak kejauhan rel kereta api yang membelah hamparan sawah Kelurahan Tuwung lengkap dengan stasiunnya bernama Mattirowalie. Tower Kantor Bupati Barru berlantai 8 juga tak luput dari pemandangan di Belakang Rumah Nenek. Paling eksotis di lokasi tersebut jika hamparan padi yang luas sudah mulai menguning jelang panen raya.

Belakang Rumah Nenek awalnya dibangun oleh saudara Gatot Heriyadi. Pemuda asimilasi antara Jawa-Bantul dengan Bugis-Barru yang memanfaatkan potensi rumah neneknya yang sudah usang disulap menjadi sebuah spot kuliner khas Barru. Usaha ini dimulai sejak masa pandemi Covid 19 di mana sektor ekonomi terpuruk, pergerakan masyarakat dibatasi sehingga kehidupan rakyat nyaris dikatakan melarat tanpa aktivitas ekonomi yang menghidupkan.

Kondisi demikian membuat owner Belakang Rumah Nenek, Mas Gatot dengan naluri dan aliran seni yang dimilikinya berkreasi menciptakan area privacy terbatas untuk sebuah tempat nongkrong keluarga dan para sahabatnya. Area belakang rumah panggung tersebut didesain dengan nuansa alamiah dan telah didukung oleh rimbunnya vegetasi termasuk kelompok tanaman Heliconia rostrata, Phylodendron,
Monstera, dan Sanseivieria yang turut menghiasi eksteriornya. Kumpulan kayu-kayu tua terpendam (ustic) menjadi bagian asesoris belakang rumah nenek.

Berawal dari olahan seekor ayam kampung goreng dan even ulang tahun sahabat Mas Gatot yang disajikan di belakang rumah panggung tersebut, akhirnya tempat ini menjadi viral di media sosial dan diliput pemberitaan stasiun televisi nasional sebagai spot tujuan kuliner terbatas di masa pandemi Covid-19 hingga kini.

Kepiawaian Mas Gatot dalam mengelola usaha kuliner terbatas ini didukung oleh istrinya yang berdarah Sunda dan sangat expert sebagai chef tunggal. Varian menu yang disajikan antara lain olahan ayam kampung goreng atau bakar, selanjutnya seafood (cumi, kepiting, kerang, dan udang) yang cukup beragam kombinasinya yaitu saus asam manis, saus tiram, saus lada hitam, kemudian spesial lobster saus asam manis, floured fried shrimp, dan black cooked squid. Untuk jenis ikan disiapkan seperti olahan bakar,
rica-rica, parape, parede, palumara, woku, dan filet goreng. Ikannya berjenis sunu, kakap, cepa, kaneke, dan baronang. Dukungan olahan sayur meliputi cah kangkung, sup, sayur asem dan tumis paria. Sumber karbohidratnya berasal dari penyediaan nasi bakul untuk 4-5 orang sedangkan minuman penutup berupa es lemon tea dan air mineral.

Seluruh perangkat dapur yang digunakan Mas Gatot adalah khas tradisional termasuk penyajian di meja prasmanan buatan sendiri yang didesain dari kayu jati, trambesi, dan ulin. Penggunaan alat makan-minum bercorak elegan (Penne bessi riolo). Usaha kuliner Mas Gatot juga turut membantu memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar, di antaranya membeli ayam kampung di atas harga pasar, bumbu dapur serta penyediaan ikan dan bahan seafood lainnya. Penggunaan arang bakar, tempayan, dan tanaman masyarakat juga menjadi bahan transaksi untuk melengkapi usaha kuliner di belakang rumah nenek.

Untuk menikmati menu masakan khas Belakang Rumah Nenek, kepada para pecinta kuliner diharapkan melakukan reservasi di awal satu hari sebelum kunjungan. SOP yang diterapkan pengelolanya memang dalam keadaan terbatas satu hingga dua pengunjung sehari. Desain awal tempat bersifat private akibat warisan pandemi covid. Privacy tamu terjaga karena pengunjung terbatas pada grup atau keluarga tertentu yang sudah preorder.

Para pelancong Belakang Rumah Nenek sudah tak terbilang lagi jumlahnya. Kunjungan dari berbagai kalangan baik pejabat, pekerja, pengusaha, seniman, pelajar, mahasiswa, maupun lokal Barru atau daerah di luar Barru seperti Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Soppeng, semuanya sudah menikmati sajian chef terlatih secara autodidak. Intensitas kunjungan baik dalam bentuk komunitas, individu, atau kelompok studi yang mencapai 10-60 orang sanggup dilayani hingga bermalam sekalipun mendirikan camp di area Belakang Rumah Nenek.

Kunjungan ke Belakang Rumah Nenek sebulan yang lalu bersama manajemen PT. Sang Hyang Seri terutama ajakan dari Kepala Cabang Sulawesi Selatan, Hendrivo MS sangat tak terduga sebelumnya, tanpa perencanaan dan sama sekali di luar jangkauan monitoring lapangan.

Oleh Manager Umum Regional IV PT. SHS mengatakan bahwa kunjungan ke Belakang Rumah Nenek merupakan refreshing lapangan untuk melepaskan kejenuhan rutinitas pekerjaan kantor di kota sekaligus memantau perkembangan-pertumbuhan benih bantuan yang diterima petani di desa. PT.SHS memang sangat berdedikasi dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan benih padi bermutu kepada petani.

Penulis mengucapkan salam hormat dan terima kasih kepada segenap manajemen PT. Sang Hyang Seri
Regional IV dan terkhusus kepada Kepala Cabang SHS Sulawesi Selatan atas perkenannya mengundang penulis untuk berkunjung ke Belakang Rumah Nenek dan menikmati kuliner khas Barru. Dan kepada Mas Gatot dan keluarga semoga sukses usahanya dan terus berkelanjutan dalam mengelola Belakang Rumah Nenek sebagai suatu brand baru dalam dunia kuliner yang khas dan unik.

Barru, 06 Muharram 1446 Hijriyah/12 Juli 2024

*Warga Bengkel Narasi Indonesia, Jakarta.

(Visited 469 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.