Aku malu karena ibu narasumber pun mendengar semua omongan aku ketika Graz menelfon aku. Aku pun melanjutkan pekerjaan aku. Usai interview narasumber akhirnya pulang. Aku menyerahkan video ke para editor dan mencoba untuk makan siang.

Graz call lagi pakai nomor kantor. Ingatan aku membawaku kembali ke kata-kata narasumber tersebut. Jika sesorang call ke aku pada jam kerja itu tandanya kita penting dalam kamus kehidupannya. Hmmm sepenting apakah aku bagi Graz tapi kenapa ia bisa segila itu. Aku benar-benar tidak ingin melibatkan diriku ke dalam masalah rumah tangga orang lain. Aku terus saja menghindari. Karena sudah puluhan kali aku pun akhirnya menerima panggilan tersebut.

Hello Graz ada apa lagi, kamu bukanya perlu makan siang? Tanyaku padanya. Yaap makanya aku mau tanya kamu sudah makan belum? Graz aku tidak butuh perhatian kamu karena kamu itu bukan siapa-siapanya aku Graz, paham itu. Aku tahu akan hal itu tapi apakah aku salah di mata Tuhan ketika benar-benar punya perasaan ke kamu Art! Pungkas Graz. Bukan itu jadi masalah dan jangan salahkan Tuhan dalam pertemuan ini Graz. Kita hanya manusia biasa yang menjalankan amal dan ibadahnya jadi apapun itu pasti ada campur tangan Tuhan, hanya kita harus sadar bahwa kita bukan anak remaja lagi Graz. Ya kalau begitu jawab aku, apakah kamu sudah makan siang? Yaap. Okey sudah aku jawab jadi please segera akhiri panggilan ini Graz. Okey Graz pun lalu mengakhiri panggilan tersebut.

Aku tidak menyangka saja mengapa ia sampai senekad ini? Kalau aku benar-benar mengantikan nomor aku apa yang bakalan terjadi ke depan aku bingung! Pesahabatan yang tadinya hanya biasa-biasa saja mengapa jadi berubah seperti ini? Sedangkan aku saja anggap biasa atas pertemuan ini
Aku takut pada akhirnya benar-benar terjadi sebuah hubungan di luar duggan aku dan Graz.

Waktu demi waktu perhatian Graz ke aku tidak pernah berubah dan terus menerus seperti itu. Suatu hari aku mencoba sms secara langsung ke nomor Graz. Mampukah kau tidak beranggapan lain atau tidak merubah nama hubungan ini menjadi lain? Andai aku tak ganti nomor HPku?

Graz lalu membalas dengan menjawab andai jika perasaan yang lahir di benakku buat kamu bukan karena atas kehendakku tapi kehendak Tuhan bagaimana?

Graz jawaban yang aku butuhkan bukan pertanyaan yang aku butuh, ujar Art.

Art ini jawaban bukan pertanyaan. Sejujurnya kita harus berjuang untuk menjawab pada hati kita masing-masing agar ada keseimbangan antara pria dan wanita bukan hanya wanita yang diwajibkan terus bertanya terus pria tugas menjawab. Ah banyak politik, aku malas dengar ocehanmu.

Art kamu itu cantik ngak cocok keras kepala, ujar Graz. Okey jika kamu menyukai aku seperti apa yang kamu ungkapkan harap anda bisa berbelok arah okey, kata Art. Lho kenapa main hakim sendiri Art? Tanya Graz. Intinya jangan memperlakukan diriku seperti binatang, okey, aku mohon dan aku menerima kata-kata kamu yang memanggil aku hewan liar, tapi jangan biarkan emosiku meluap pada akhirnya jadi bintang liar benaran, Art.

Bersambung….

(Visited 15 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.