Judul: Manusia Mandar
Penulis: Sriesagimoon
Editor: –
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: ix + 104
ISBN: 9789799673381
Satu lagi buku yang membahas tentang Manusia dari suku atau etnis tertentu. Setelah beberapa waktu lalu kita bahas tentang Manusia Makassar, Manusia Bugis Makassar, dan kali ini adalah pembahasan tentang Manusia Mandar. Suku Mandar adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang mendiami pulau Sulawesi bagian barat, tepatnya di kabupaten Polewali Mandar dan Majene.
Berbagai aspek kehidupan manusia Mandar diuraikan dalam buku ini. Dimulai dengan pembahasan daerah asal suku Mandar yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene, kemudian sejarah Mandar dari zaman pra-To Manurung sampai zaman To Manurung.
Aspek bahasa dan kesusastraan Mandar juga diulas dalam buku ini. Dijelaskan dalam buku ini bahwa ada 5 dialek bahasa Mandar yaitu : dialek Balanipa, dialek Sendana, dialek Banggae, dialek Pamboang, dialek Awok-Sumakuyu. Sementara dalam kesusastraan Mandar ada karya sastra yang disebut Lolitang, Tallo’ (kisah), Papasang (pesan leluhur) dan Sila Sila.
Etnis Mandar termasuk banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, namun demikian sebagian lainnya ada yang bekerja sebagai nelayan, peternak, petani kebun, maupun dari pemburu dan pengrajin.
Bentuk rumah tradisional Mandar mempunyai 3 tingkatan dengan fungsinya masing masing. Bagian atas yang disebut Atapan atau rakkeang, bagian kedua atau alawe boyang dan bagian ketiga atau bagian paling bawah yang disebut naung boyang yang merupakan tempat hewan peliharaan atau ternak, seperti kerbau, sapi, kambing, ayam maupun anjing.
Sistem pemerintahan, jenis makanan dan minuman orang Mandar, pakaian adat dan perhiasan tradisional Mandar juga diuraikan dalam buku ini. Contoh pakaian adat Mandar misalnya baju Pokko, baju Boko, Lipa Sa’be (sarung sutra) dengan berbagai macam corak atau motif. Ada juga yang disebut lipa’ ratte yang biasa digunakan oleh pengantin perempuan maupun pengantin laki laki.
Sistem kekerabatan dan sistem pernikahan dalam suku Mandar juga dibahas. Disebutkan bahwa untuk memilih jodoh bagi laki laki Mandar, akan melihat empat (4) unsur yaitu : Tomapia’ atau Tomalabbi, status ekonomi, faktor keturunan dan faktor hubungan darah. Selanjutnya dijelaskan tentang proses pelamaran sampai pada pelaksanaan upacara pernikahan.
Sistem religi, pengetahuan, dan upacara upacara tradisional yang biasa dilaksanakan oleh suku Mandar dibahas pula secara ringkas. Upacara adat yang disebutkan misalnya upacara adat petani, upacara adat nelayan, upacara maccera arayang, upacara naik rumah baru, upacara meuri, upacara mappepiana, upacara mappandhai’ di toyang, upacara ma’akeka, upacara massunna dan upacara mapparewai tomate.
Pada bagian akhir buku, dipromosikan pesona wisata Mandar, yaitu beberapa destinasi wisata yang ada di daerah suku Mandar. Ada wisata alam seperti Pulau Battoa Binuang, Pulau Gusung Toraja Binuang, bagan di pantai Polewali, sunset di pantai Bahari, Pantai Palippis Balanipa, pantai Antai Uwai, air terjun Indo Rannoang Anreapia, sungai Biru Binuang, puncak Mosso, dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk juga disini, wisata situs arkeologi baik yang ada di Polewali Mandar maupun yang ada di Majene.
Buku ini cukup lengkap membahas kehidupan manusia Mandar, dan dapat dijadikan bahan rujukan untuk para peneliti atau mahasiswa yang ingin mengkaji etnis Mandar.
Namun, beberapa kekurangan buku ini, misalnya kurang illustrasi atau gambar yang menarik yang bisa melengkapi setiap topik pembahasan. Ada beberapa gambar dan foto namun, hitam putih dan agak buram. Ada juga beberapa topik pembahasan yang berulang, misalnya tentang makanan khas Mandar yang dibahas pada halaman 27, namun pada halaman 96 kembali dibahas.
Buku ini koleksi Referensi, Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

