Karya Dev Seixas 1125
Hai generasi mudaku yang ada di Timor-Leste. Aku hanya berpesan agar semua generasi muda harus berpikir kritis sesuai dengan kemampuan dan jangan pernah merasa minder, pada sikap atau karakteristik sesama kita, baik dari keluarga, masyakarat maupun negara.
Mengapa demikian?
Karena aku sadar bahwa rasa minder adalah pembunuh nomor 1 di dunia. Jadi selagi anda masih memiliki kemampuan tetaplah berkomitmen untuk bisa berinteraksi dengan siapa saja, asalkan bersifat positif
Aku memiliki pengalaman hidup yang membuatku jauh lebih berani, jika ingin memetik pengalamanku maka bacalah kisah berikut ini:
Dulu ketika aku masih kecil, aku tidak tahu menahu tentang asal usul keluarga ayah dan ibuku, meskipun aku sadar jika aku hidup, karena ada orang tua yakni ayah dan ibu.
Ada teman-teman yang bermain dengan kita yang sering mengolok-olok diri kita sesuka hati. Ada yang bilang keluarga ibu tidak baik, ada yang bilang ayah anak haram, bahkan ada yang sampai mencemooh kakek nenek secara terang-terangan.
Orang -orang itu berpikir kita terlalu bodoh. Padahal kita sedang berjuang merekam semua kata-kata yang mereka lontarkan.
Di saat itulah aku semakin sadar bahwa sesungguhnya, kami adalah orang yang lebih berwibawa karena masih banyak manusia lain, yang terlalu mengurus keturunan kami daripada diri mereka sendiri.
Saat mereka menghina kakek nenek dari pihak ibu, saat mereka menghambat semua pria yang ingin bersahabat dengan adik-adik dari ibuku, dengan jutaan kata-kata hina, nenek dan kakek justru selalu mengajarkan kami, untuk terus berbuat baik pada semua orang.
Aku yang masih kecil kala itu berpikir, andai aku yang sudah besar akan aku tonjok lidah-lidah tukang rumpi di masyarakat. Hanya saja aku tak punya kuasa, karena hanya anak kecil ingusan yang belum bisa nulis dan baca, dan tak tahu apa-apa kala itu.
Seperti adegan film. Ada yang berteman dengan kita, lalu tiba-tiba menghina kita dari belakang, sedangkan ada yang bahkan makan dari sendok dan piring yang disediakan oleh kakek dan nenekpun, masih menceritakan kakek nenek di hadapan kita.
Aku santai merekam suara-suara mereka, entah seberapa besar kekuatan iman dalam diriku. Aku tidak peduli bahkan lebih tak peduli lagi, pada omongan orang lain tentang keluargaku baik dari pihak ayah maupun ibu karena kami adalah kami.
Selama ada yang menghina kami, kami tetap baik tanpa membuat batasan bagi diri kami, karena kata kakek dan nenek bahwa jika Tuhan menciptakan siang & malam itu bertanda masing-masing memiliki makna.
Jadi ketika kita berada pada kegelapan jangan lupa siang akan mengantikan malam atau sebaliknya dan layaknya kehidupan juga demikian.
Sampai aku harus mengalah pada emosi yang sudah hampir tumbuh subur di hati kecilku, karena kata nenek tidak baik kita memupuki sakit hati kita, karena hasilnya akan jauh lebih sakit. Jadi hindarilah segala sesuatu karena semua kata tindakan mengandung arti, rasa atau makna tersendiri.
Kata nenek saat orang lain mengeluarkan satu kata hingga seribu kata, ijinkan dirimu melapangkan dada untuk terima semua serangan dengan senyuma bukan dengan amarah.
Tidak ada sejarah yang tertulis di dunia ini, apabila amarah merupakan solusi bagi setiap masalah, melainkan amarah adalah titik di mana hanya akan memberi dampak buruk bagi generasi fisik kita.
Diam saja dan mendengar nasihat orang yang jauh lebih tua, karena itu merupakan sebuah etika yang telah jadi kebiasaan di kota dimana lahir tumbuh dan berkembang.
Sejak hari itu, aku tidak mengenal.lagi rasa minder, saat orang-orang memberikan kami batasam dengan kata-kata hina, karena aku sadar apabila semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.
Karena itu aku pikir omongan orang lain yang menjelekkan kita, menghina kita, bahkan mencaci maki kita, hanyalah sebuah omongan yang bisa menjadi batu sandungan, untuk menghentikan langkah kita.
Jadi segala sesuatu yang terjadi pada kita, selama kita terlibat dalam proses kehidupan ini, jangan heran, jika akan ada doa-doa orang tulus, yang mampu membuat seseorang menjadi seorang yang jauh lebih baik, di bandingkan dengan orang-orang yang bermuka topeng.
Modal mengapa kamu tidak harus jadikan rasa minder adalah sebuah kekuatan, melainkan sebuah kehancuran, lebih baik jangan pernah menuliskan rasa minder dalam kamus kehidupan kita, karena rasa MINDER adalah pembunuh nomor 1 dalam hidup ini.
Ingat ketika rasa minder menguasai diri kita, maka kita harus berjuang untuk mencintai diri kita dan menghindari rasa MINDER dengan cara:
- berpikir positif
- berpikir bahwa kita berpijak pada planet yang sama
- kita merasakan cahaya matahari yang sama
- kita minum air yang sama dari planet bumi
- tidak ada perbedaan bentuk fisik kita
- selalu mengutamakan kepentingan diri kita sendiri
- berpikir jadi orang bijak yang bijaksana
Jika hal itu sudah bisa dilalukan, maka tentu rasa minder akan hilang seketika, karena MINDER merupakan pembunuh no 1 di dunia bukan hal lain.
Mengapa? Karena ketika kira selalu mider di setiap kesempatan, maka kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling kekurangan, padahal di luar sana masih ada jutaan anak yang jauh melebihi diri kita.
Maka tetaplah berpikir positif dan berpikiran bahwa, dia bisa, mengapa aku tidak? Lalu beranilah ciptakan sikap bahwa kita sama, mengapa aku harus MINDER padamu?
Percayalah dengan perasaan dan selalu berpikir positif dalam setiap komitmen, aku yakin kita semua bisa, karena faktor bisa tidaknya, di ukur sesuai dengan kemampuan kita, bukan latar belakang kita.
Sebab pembunuh nomor 1 MINDSET untuk maju, adalah MINDER.
