Timor Leste negara kecil setengah pulau ini, merayakan Ultah Restorasi Kemerdekaan ke-23, yang dilakukan serentak di seluruh pelosok territorio nasional. Kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan rakyatnya yang begitu besar, untuk bebas dari cenkeraman para penguasa.
Penguasa yang haus akan kekuasaan pada kekayaan bumi Lorosa’e untuk kepentingannya sendiri, kini telah angkat kaki dan jauh dari kita. Kini kita sendiri yang telah mengenggam kemudi tali kuda kita, untuk mendidik diri kita sendiri, guna mengisi kemerdekaan yang telah diraih oleh para patriot negara setengah pulau, yang berlambang buaya ini.
Kita telah mendeklarasikan kemerdekaan kita pada tanggal 28 november 1975, secara sepihak oleh Partai Fretilin, tidak diakui oleh dunia internasional, dikarenakan partai yang mendeklarasikannya beraliran kiri, penganut faham Marxisme Leninisme (Komunisme). Dengan isu faham komunisme ini, maka tetangga Indonesia datang ke bumi Lorosa’e untuk membasminya, dengan target 24 jam, tapi diulur hingga 24 tahun, dianeksasi dan menjadikannya sebagai propinsi ke-27 di NKRI.
Namun pahit manisnya yang telah dirasakan oleh rakyat pribumi Lorosa’e, rakyat ini tetap berjuang hingga titik darah penghabisan, dan meraih kembali angin segar kemerdekaan melalui Referendum yang di sponsori oleh PBB, dan hasilnya kebanyakan masyarakat RDTL memilih pisah dari NKRI.

Dari sinilah PBB mempersiapkan administrasi pemerintahan Timor Leste, hingga meraih kembali Restorasi Kemerdekaan RDTL, pada tanggal 20 mei 2002. Hari inilah yang dinamakan Restorasi Kemerdekaan, dimana dipersiapkan oleh PBB akhirnya diserahkan ke tangan pribumi RDTL, dan diakui oleh berbagai negara di dunia secara global.
Kemerdekaan yang dimulai dari nol, karena hasil perpisahan dengan tetangga Indo yang telah membumihanguskan, harus bekerja keras membangun kembali puing-puing kebakaran, dengan harapan agar suatu saat rakyatnya bisa hidup tenang dan makmur. Kemerdekaan yang telah direstorasi kembali ini, hanya segelintir orang saja yang menikmatinya, sebagian besar masyarakat belum menikmatinya.
Di sisi lain sang arsitek negara ini, mengutamakan keamanan negeri buaya ini, sehingga melakukan rekonsiliasi dengan negara tetangga yang baru saja keluar dari bumi Lorosa’e, dengan attitude yang kurang baik, di mata dunia internasional. Setelah rekonsiliasi ini terealisasi, kini telah menjadi sahabat, dan melupakan masa lalu, dan menjadi contoh serta panutan bagi negara-negara konflik lainnya di dunia.
Kini Timor Leste, mulai membangun negerinya secara bertahap, membangun jaringan dengan negara-negara lain, agar turun tangan membantunya dalam membangun kembali puing-puing kehancurannya. Seperti lirik lagu Lahane group bahwa, “Masa depan dimulai dari sekarang”, dimana Timor Leste mulai bangkit membangun kembali rumahnya yang hangus terbakar.
Dalam pidato kenegaraan pada HUT Restorasi Kemerdekaan RDTL ke-23 ini, Presiden Ramos Horta meninggung sedikit peranan gereja Katolik yang turut mengambil bagian dalam perjuangan dan pembangunan negeri ini, melalui pemimpin tertingginya Paus Fransiskus yang berkunjung negeri ini tahun lalu, dan kini diteruskan oleh penerusnya Paus Leo XIV; yang menyerukan agar umatnya membudayakan iman Katoliknya sesuai dengan ajaran cinta kasih Kristus.
Selain itu beliau juga meninggung, peranan Timor Leste di dunia internasional sebagai pendonor bagi negara-negara sahabat yang masih konflik. Bekerjasama dengan negara tetangga Indonesia dan berharap untuk membangun sebuah universitas teknik di jalur perbatasan di sektor barat. Memperbaiki kesehatan, pendidikan, dan pertanian, agar dapat memperbaiki sikon penduduknya.
Menjalin hubungan internasional dengan masuk pada organisasinya seperti, WTO, ASEAN, yang merupakan impian prioritas dari sang pemimpin negeri ini. Selain itu ia juga menghimbau pada masyarakatnya agar dapat menggunakan medsos dengan baik, menanti datangnya fiber optic untuk menambah kecepatan internet, agar pemerintah dapat bekeja lebih efisien melalui e-government, dan turut mengambil bagian dalam situasi global yang saat ini sedang terjadi.
Kita harus berterima kasih pada para veteran yang telah berjuang pada negeri buaya ini, melalui tiga jalur yakni, jalur klandestin, jalur diplomatic dan jalur armada. Karena jasa merekalah saat ini Timor Leste, menikmati angin segar kemerdekaan, di era millenium.
Kini Timor Leste telah menjadi negara teraman di Asia, satu-satunya negara yang berbahasa Portugis, dan 99,6% penduduknya menganut agama Katolik Roma. Negara pembawa damai, yang sedang berkembang dalam tahap pembangunan infraestruktur di segala bidang, biar lambat asal selamat sampai tujuan akhir.
Akhirnya Dirgahayau Restorasi Kemerdekaan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang ke-23, semoga dengan kemerdekaan ini, kita dapat hidup rukun selalu, dalam membangun bangsa dan negara kecil ini, menuju kehidupan yang lebih baik di era globalisasi ini.
By prof EdoSantos’25
