Dalam pendidikan di mana pun kita menggemgam dan mempelajarinya, harus menggunakan ke empat prinsip ini; logiga, filsafat, etika dan moral. Mengapa harus melibatkan ini? Karena setiap mata pelajaran atau mata kuliah yang kita ambil, harus melalui naluri logiga filsafat, supaya kita dapat menentukan kemana arah tujuan belajar kita. Dengan demikian ilmu itu akan berguna di masa depan, bagi kehidupan kita untuk mensejahterahkan  kita. Bukan pendidikan yang asal-asalan atau ramai-ramai saja.

Cogito ergo sum” adalah sebuah frasa Latin yang berarti “Aku berpikir, maka aku ada dalam bahasa Indonesia. Ungkapan ini terkenal dari filsafat Rene Descartes dan menjadi dasar dari pemikiran bahwa keberadaan diri seseorang dapat dibuktikan melalui kemampuan berpikir. 

Secara rinci, ungkapan ini menunjukkan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan diri seseorang yang dapat dibuktikan melalui fakta bahwa ia bisa berpikir. Descartes menggunakan keraguan sebagai metode untuk mencapai kepastian, dan melalui keraguan tersebut, ia sampai pada kesimpulan bahwa meskipun ia dapat meragukan segala sesuatu, ia tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berpikir, dan oleh karena itu, maka ia ada.

Jadi, “cogito ergo sum” adalah dasar dari pemikiran filosofis yang menekankan pentingnya kesadaran dan kemampuan berpikir dalam menentukan keberadaan diri seseorang. 

Pemikiran ini yang ditanamkan pada anak didik generasi Z di jaman now, harus dimulai sejak di bangku SMA, sebagai bekal untuk mempersiapkan mereka masuk ke perguruan tinggi untuk menentukan masa depan mereka. Melalui cogito ergo sum, kita membimbing mereka yang telah duduk di bangku finalis SMA, agar mereka mulai berpikir, kemana mereka akan melangkah setelah mereka tamat. Jurusan apa yang cocok bagi mereka, supaya dapat belajar dengan baik hingga meraih gelar yang mereka impikan. Jadi dalam meniti pendidikan adalah mengejar cita-cita di masa depan, bukan mencari cinta-cinta di sekolah. Apalagi hanya MPO (Menarik Perhatian Orang) saja di sekolah, tidak ada tujuan saat mengikuti pendidikan dari Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga PT.

Melirik pada FORUM II yang  diadakan oleh GMN TV, pada tanggal 15 juni 2025, yang menghadirkan speaker utama dari Indonesia “Rocky Gerung”, atau disapa “Bang Rocky”, yang membahas isu-isu,”Politik, Diplomasi dan Ekonomi Timor-Leste”.

Sang Speaker Bang Rocky, mulai mengupas semua isu-isu global yang terjadi di dunia politik, diplomasi dan ekonomi. Ia mulai dengan isu politik antara Indonesia dan Timor Leste di masa silam. Melirik kembali masa-masa kelam, baik dan buruknya masa orde baru selama 24 tahun berkuasa di Timor Leste. Dimana sejarah mengingatkan kita bukan untuk saling membenci tapi harus saling mendukung dalam persahabatan antar kedua negara.

Kita punya kekuatan tapi bukan individual, jika demikian maka akan jadi dilandasi dengan arogansi, oportunisme dan pragmatisme. Dia memulai orasinya dengan sebuah slogan GMN bahwa, “Forsa, Metin ba Nafatin”, yang berarti, Kekuatan, Solid/solidaritas selalu.

Melihat politik dunia yang memanas antara negara-negara yang konflik, Timor-Leste negeri kecil dengan ide besar, negeri baru tapi dengan peradaban lama, ada force disitu untuk menghasilkan nasionalisme dan liberty.

Menurutnya TL itu lengkap dengan politik of memory tetapi punya politik of hope juga. Hal ini yang harus ditanamkan pada pemikiran anak-anak muda TL untuk mengunakan akal pikiran mereka untuk belajar, solidarity membangun politik masa depan yang gemilang.

Dia bersama dengan teman-teman di TL yang mengadakan forum ini, untuk menghasilkan leader bukan dealer. Dealer itu merusak demokrasi dan peradaban, tidak jujur dalam pembicaraan. Tujuan GMN (Group Media Nasional) mengadakan forum ini, untuk membangun leader bukan dealer. Bahasa tubuh menunjukkan kejujuran seseorang, sedangkan politik menutupi kejujuran. Ide politik itu harus ada keadilan. Manusia bukan binatang politik, tapi manusia adalah binatang yang berpolitik, itu menurut Aristoteles.

Di pihak lain, para pakar politik ekonomi menguras bumi demi mencapai kepuasannya tersendiri. Kalau bumi merusak dirinya, dia mempunyai kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri, yang disebut daya ekologi. Misalnya, gurun sahara dengan hutan amazon saling mengisi dan melengkapi. Menurut iptek bahwa, gurun sahara menguap dalam waktu 70 jam menghasilkan fosfor sebagai pupuk, lalu akan memupuk hutan amazon sehingga dia subur.

Speaker: Bang Rocky

Tapi kalau dirusak oleh manusia tidak akan diperbaiki lagi oleh manusia itu sendiri. Filosofi antroposit, kejahatan manusia terhadap alam. TL punya kesempatan untuk memulai new grammar of language humanisme seperti (speak equality, speak environmental, etc…) negara baru harus menuntut dunia bahwa, kita punya pengalaman konkrit pahit di masa lalu. Menuntut pada negara-negara yang konflik untuk duduk berdialog dan rekonsiliasi mengunakan logika berfikir bukan adu kekuatan.

Untuk itu anak muda generasi Z di Timor Leste, harus ada kemampuan untuk mengolah masa depan dengan berpikir. Generasi selalu menghidupkan the next generation. Descartes mengatakan cogito ergo sum, di dalam keadaan berpikir maka saya ada. Tetapi Descart tidak pernah membayangkan cogito ergo sum itu menjadi cogito interuptus, pikirannya terputus. Pada waktu itu Descart melihat bahwa, apa fungsi dari rasionalitas, di dalamnya terdapat fungsi-fungsi logika. Rasionalisme dari Descart berakhir pada fasisme. Jadi kita hidup ini dengan retorika tanpa logika.

Logika adalah, ilmu yang mempelajari metode dan aturan berpikir yang benar. Secara sederhana, logika adalah cara berpikir yang masuk akal dan sesuai dengan aturan berpikir yang berlaku. Logika membantu kita membedakan penalaran yang tepat dari yang salah, serta menyusun argumen yang valid.

Aristoteles mengatakan bahwa, perempuan itu adalah anak-anak yang bertubuh besar.  Dianggap bahwa, perempuan itu tidak mampu berfikir.  Pikirannya tidak tumbuh tapi tubuhnya yang tumbuh. Banyak kebudayaan yang menggap perempuan itu the rules of evil, perempuan adalah sumber kejahatan. Dimana ada perempuan disitu ada kejahatan. Sejak dari awal perempuan itu rendah. Jadi ini yang kita namakan peternakan patriarkisme.

Politik yang baik itu menghasilkan keadilan. Dimanakah politik keadilan didistribusikan pada publik? Oleh parlemen, oleh kabinet, bukan?  Keadilan pertama dimulai dari Rahim perempuan.  Ibu yang mendistribusikan nutrisi pada bayinya. Untuk mengetahui jantung si bayi cukup tanya pada ibunya, berdetak atau tidak? Jadi Rahim perempuan adalah tempat pertama keadilan diwujudkan. Kita lahir dari Rahim perempuan lalu pindah ke Rahim laki-laki (partai politik). Begitu masuk partai politik, langsung berlaku patriarkisme. Sepintar-pintarnya perempuan, dia tidak bisa menjalankan matematika akuntasi.

Menurut PM Xanana bahwa, di TL pemikirannya sekarang masih fragil/lemah tetapi setelah pemilu tidak ada masalah. Pada generasi muda atau generasi Z sekarang harus ada pendidikan yang mendidik dan mengarahkan mereka untuk berpikir. Katanya, lebih baik UCT (Universitas Catolik Timor) harus mendirikan jurusan yang mengajarkan generasi future kita untuk berpikir, bukan hanya membuka jurusan kedokteran dan perawat karena semua universitas di TL sudah ada. Begitu pula para hakim yang membuat keputusan di pengadilan harus menggunakan logika berpikir dengan melihat kondisi sosial dari si penjahat yang akan dihukum, jangan hanya melihat dari hukum itu sendiri.

Ia mengusulkan agar di UCT mendirikan fakultas Filosofi, agar mendidik generasi Z untuk belajar berpikir, karena sebelum bicara harus berpikir dulu, bukan sebaliknya. Jadi kita harus berpikir dan berlogika untuk berdiskusi. Hal ini merupakan suatu masalah besar bagi generasi Z dan generasi yang akan datang, jika tidak ditanamkan materi filsafat, logika, etika dan moral pada mereka, maka masa depan TL ini akan hancur. 

Etika dan moral adalah dua konsep yang seringkali digunakan secara bergantian, namun memiliki perbedaan dalam cakupan dan penerapannya. Secara umum, etika adalah studi tentang prinsip-prinsip moral yang mendasari perilaku manusia, sementara moral merujuk pada sistem nilai yang menentukan baik dan buruknya suatu tindakan. 

Etika lebih bersifat teoritis dan filosofis, membahas prinsip-prinsip moral yang mendasari tindakan manusia, sementara moral lebih praktis dan mengacu pada penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Etika adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip moral, sedangkan moral adalah seperangkat aturan atau norma yang diterapkan dalam suatu kelompok atau masyarakat.  Sifatnya cenderung lebih umum dan universal, sementara moral bisa bersifat lebih spesifik dan kontekstual, tergantung pada budaya atau kelompok tertentu. 

Sumbernya seringkali berasal dari pemikiran filosofis atau teori moral, sedangkan moral bisa berasal dari nilai-nilai agama, budaya, atau norma sosial. Penerapannya memberikan landasan konseptual untuk memahami moralitas, sementara moral adalah penerapan praktis dari nilai-nilai tersebut dalam tindakan. 

Meskipun berbeda, etika dan moral saling terkait. Etika memberikan kerangka berpikir untuk memahami prinsip-prinsip moral yang mendasari tindakan, sementara moral adalah penerapan konkret dari prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan. 

Jadi Kesimpulannya, mendidik anak generasi Z sekarang harus dengan filosofi berpikir supaya masa depan mereka dapat berargumen dengan lawan politiknya dengan filosofi berpikir logika, yang beretika dan bermoral. Mengingat TL adalah negara kecil yang angkatan bersenjatanya jauh lebih kecil dari negara-negara super power lainnya. Sehingga harus menggunakan akal sehat logika yang berbasis pada etika dan moral, untuk menyelesaikan suatu masalah antar negara. Karena politik luar negeri TL adalah non blok dan bersahabat bagi semua negara-negara di dunia.

By prof. EdoSantos’25

(Visited 34 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.