Oleh: Yusriani Nuruse
Liburan semester sudah hampir usai, namun aku belum sempat menemani anakku menikmati hari-harinya. Kesibukan pekerjaan dan urusan yang menumpuk membuat waktuku tersita.
Jumat sore, sepulang dari kantor, aku duduk di teras rumah menikmati angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Sesekali kutarik napas panjang, mencoba menghilangkan penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan dan mengurus kendaraanku di kantor polisi. Mediasi terkait kecelakaan lalu lintas yang menimpaku kembali tertunda karena pihak lawan tak kunjung datang. Kendaraanku pun belum bisa kuambil hingga waktu yang belum ditentukan.
Tiba-tiba, putraku datang menghampiri. Ia menyapa hangat dan mendaratkan ciuman lembut di pipiku. Dengan senyum kecil yang membuatku terharu, ia menunjukkan percakapan di WhatsApp. Salah satu sepupunya merencanakan akhir pekan di destinasi wisata Takae Highland, dan mengajaknya untuk bergabung bersama keluarga kecil kami: kakek, nenek, tante, dan para sepupu lainnya.
Tanpa ragu, ia serta-merta mengajakku ikut bersamanya. Sebenarnya, ia sudah pernah berlibur ke sana, tetapi menurutnya liburan tanpa mama terasa kurang lengkap. Ada ruang kosong dalam kebahagiaannya yang hanya bisa diisi oleh kehadiranku.
Dengan polos dan hangat, ia menawariku sebuah “traktiran” asal aku bersedia ikut. Katanya, di area destinasi, pengunjung tidak diperbolehkan membawa bekal makanan berat. Tapi tak usah khawatir, karena makanan tersedia di resto area wisata.
Tak hanya itu, ia juga meminta izin untuk menghubungi tantenya. Ia berniat menanggung biaya karcis masuk sang tante sebagai bentuk balas budi. Liburan sebelumnya, sang tante-lah yang menanggung seluruh biaya liburan anakku.
Begitulah sifat anakku. Jika memiliki rezeki, ia tidak pernah menikmatinya sendiri. Ia senang berbagi, mentraktir, atau sekadar menunjukkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang terdekat, baik saudara sepupu, tante, maupun teman sepermainannya.
Setibanya di Takae Highland, senyum bahagia merekah di wajahnya. Ia langsung menarik tanganku dan mengajakku berfoto bersama. Padahal, sebagai anak laki-laki, ia termasuk yang paling enggan diajak berfoto. Dua atau tiga kali jepret, baginya sudah lebih dari cukup. Beda sekali dengan anak-anak perempuan atau para ibu, sekali minta foto, bisa berkali-kali pose! Kami pun tertawa bersama saat mengingat kebiasaan itu.
Hal kecil yang membahagiakan di akhir pekan ini adalah kesempatan menikmati liburan bersama orang-orang tercinta. Kedua orang tuaku yang semakin menua masih dapat kusapa dan kupeluk. Keberadaan mereka amat berarti bagi kami, anak-anak dan cucu-cucunya.
Di puncak Takae Highland, kami menikmati panorama alam yang begitu memukau. Langit biru terbentang luas, semilir angin membawa ketenangan, dan tawa keluarga mengalun seirama dengan kebahagiaan yang tak terucapkan.
Hari itu, bukan hanya tubuh yang beristirahat, tapi hati juga dipeluk oleh rasa syukur. Bahagia itu sederhana: bisa bersama mereka yang kita cintai.
Watansoppeng, 12 Juni 2025
