Oleh: Rosmawati

Ada saat ketika usia bertambah, kita menoleh ke belakang dan mendapati amalan yang tak seberapa.Di antara gemilang dunia yang masih terasa, terselip rasa malu pada Sang Pemilik Waktu.
Maka lahirlah untaian kata ini. Sebuah pengakuan sederhana, sebuah doa yang lirih, sebuah bisikan jiwa di senja usia.

Aku malu
Usiaku bertambah namun Amalku serasa tidak

Aku Malu
Senjaku telah tiba
Namun gemilau masih terasa
Inginku masih terkadang

Aku malu
Yang kuberi tak banyak
Pintaku segunung
Harapku mesti

Aku malu
Keluhku senantiasa
Kupinta maaf Wahai penguasa semesta

Aku malu
Mengharap usia panjang
Namun aku tahu Tuhan Maha Tahu
apa yang tidak aku ketahui

23 agst 68/72

(Visited 16 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.