Di tengah hiruk pikuk konektivitas tanpa batas, sebuah krisis senyap mengintai masa depan generasi bangsa. Ia tidak bersuara keras layaknya bencana alam, namun dampaknya jauh lebih merusak Krisis Literasi.
Kecepatan notifikasi, kepuasan instan dari guliran layar, dan banjir informasi dangkal telah mencabut akar pemikiran kritis dari benak pelajar kita, mengubah buku benteng pertahanan kecerdasan menjadi barang asing yang berdebu.
Namun, di jantung Kabupaten Maros, sekelompok mahasiswa Universitas Muslim Maros (UMMA) yang dimotori saudara Aswadi Hamid dan kawan-kawan, menolak menyerah pada takdir digital ini.
Pada Selasa, 28 Oktober 2025 lalu, SMA Negeri 10 Maros menjadi saksi dimulainya sebuah perlawanan ideologis. Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan Kemahiran Mengajar di Lapangan (KEMAL), para mahasiswa ini meluncurkan sebuah serangan balik yang diberi tajuk, “Dari Krisis Literasi Menuju Budaya Literasi”. Ini bukan hanya sebuah seminar, ini adalah seruan moral untuk merebut kembali akal sehat generasi muda.
Mengapa urgensi ini terasa begitu mendesak? Karena membaca telah direduksi dari sebuah kebutuhan fundamental menjadi sekadar tugas sekolah yang membosankan.
Dosen FKIP UMMA, Hikmah Rusdi, S.Pd.,M.Pd., yang bertindak sebagai pemateri utama, bersama tim pembimbing lapangan, Rizki Amalia Nur, S.Pd.,M.Pd., serta panitia KEMAL, termasuk Kasmawati, S.S., M.Hum., dan Nurhidayah, S.Pd.,M.Pd. berupaya memecah ilusi tersebut. Mereka menyampaikan pesan keras, literasi sejati bukan hanya kemampuan mengeja atau merangkai kata, ia adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara bijak.
Dalam konteks dunia yang bergerak cepat, kemampuan inilah yang membedakan konsumen konten pasif dengan pencipta pengetahuan yang aktif.
Suasana di aula SMA Negeri 10 Maros mulanya mungkin dipenuhi keraguan, tetapi segera berubah menjadi medan interaksi yang hidup.
Mahasiswa KEMAL tidak datang dengan ceramah yang kaku, melainkan dengan materi yang interaktif, permainan edukatif, dan diskusi yang menyentuh inti permasalahan.
Mereka menjelaskan bukan hanya manisnya manfaat literasi, tetapi juga pahitnya konsekuensi jika budaya membaca dan berpikir kritis tidak dibangun sejak dini. Para siswa merespons dengan antusiasme yang mengejutkan, aktif bertanya, dan memberikan tanggapan. Di mata mereka, terlihat percikan api kesadaran yang baru saja tersulut.
Momen haru dalam kegiatan ini adalah ketika setiap sudut sekolah diperkaya dengan “amunisi” baru, poster-poster literasi yang menginspirasi, berisi kutipan-kutipan tokoh pendidikan yang menyentuh jiwa, serta ajakan visual untuk membaca. Upaya ini adalah penanaman harapan, menjamin bahwa ketika kegairahan dari sosialisasi itu mereda, pesan untuk mencintai buku akan tetap melekat di dinding, menemani mereka setiap hari.

Harapan besarnya adalah bahwa membaca akan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan siswa, baik di dalam maupun di luar jam pelajaran.
Inisiatif heroik mahasiswa ini mendapat dukungan penuh dari institusi pendidikan. Kepala SMA Negeri 10 Maros, Dr. Hj Rosdiana, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam, mengakui bahwa kegiatan semacam ini adalah vitamin bagi jiwa pelajar.
“Semoga semangat literasi ini terus berkembang dan menjadi budaya di kalangan pelajar,” ujarnya, memberikan restu dan energi.
Kegiatan ini membuktikan sebuah premis vital. Krisis literasi tidak bisa diselesaikan sendirian. Ia membutuhkan sinergi abadi antara dunia kampus dan dunia sekolah. Mahasiswa UMMA telah melangkah maju, menjembatani jurang antara teori akademis dan realitas lapangan, menciptakan cetak biru bagi generasi yang cerdas, berkarakter, dan, yang terpenting, berbudaya literasi.
Ancaman krisis memang nyata, tetapi dengan semangat membaca yang disemai di Maros, kita dapat berharap generasi ini tidak hanya akan bertahan dari badai digital, tetapi juga akan memimpin masa depan dengan kearifan dan pengetahuan yang mendalam.
Mari kita jadikan buku sebagai perisai dan pengetahuan sebagai mercusuar.
