Oleh: Rosmawati*

Dalam perjalanan hidup yang penuh dengan kenangan, ada satu hal yang selalu menemani saya, yaitu sahabat setia yang telah menjadi bagian dari keluarga saya. Dia telah menemani dalam suka dan duka, menyimpan banyak kenangan yang tak terlupakan.

Dari titik nol, kita menjalani kehidupan bersama. Kamu telah tua, tapi aku tidak ingin melepaskanmu. Kamu menyimpan kenangan-kenangan yang tak terlupakan. Kamu mengajarkan aku tentang kesetiaan, cinta di kala suka maupun duka.

Aku masih ingat saat itu, aku hampir tertinggal di Danau Biru. Suami aku sudah masuk ke dalam, tapi aku masih di belakang bersama teman-teman. Dia tidak sengaja meninggalkan aku, dan aku harus berlari mengejar kamu. Ha ha, kenangan yang unik dan lucu.

Tapi, kamu tidak hanya sekadar teman tua. Kamu juga pernah menjadi saksi bisu kebersamaan kami dengan sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage, founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia. Aku masih ingat saat itu, beliau pernah merasakan kesetiaanmu, dan kami berbagi cerita tentang kehidupan dan impian di tengah deru jalanmu.

Kamu telah menjadi bagian dari sejarah Bengkel Narasi, dan itu membuatku sangat bangga. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak ada di sini, menemani kami dalam setiap perjalanan. Kamu telah menjadi simbol kesetiaan dan kebersamaan.

Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena kamu lebih dari sekadar teman lama. Kamu adalah teman setia, sahabat, dan bagian dari sejarah kami. Terima kasih, kamu telah memberikan warna-warni dalam kehidupanku terutama bersama suami tercinta. Jangan pernah mengabaikan yang sudah tua, karena kenangannya yang tua itu selalu melekat di hati.

Terima kasih sahabat setiaku tanpa batas tanpa syarat mobil Suzuki “Escudo” yang telah menjadi bagian dari keluarga kami. Mengajarkan kami tentang kesetiaan, cinta kebersamaan, dan kesabaran.

Kolaka Utara, 30 Desember 2025

*Penulis adalah Pegiat Litarasi Kolaka Utara

(Visited 10 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.