Oleh : Rahmawati*
Aku pernah marah pada hidup dengan cara yang paling sunyi. Marah yang tidak meledak, tetapi mengendap di dada. Marah karena pengkhianatan datang dari orang yang seharusnya menjadi rumah, “suamiku sendiri”.
Perselingkuhan itu bukan hanya merobek kepercayaan, tetapi juga meruntuhkan peta masa depan yang selama ini kubangun dengan penuh harap. Saat itu, marahku begitu besar, bukan hanya pada dia, tetapi pada diriku sendiri yang merasa gagal menjaga keutuhan keluarga. Namun hidup tidak memberiku waktu lama untuk larut. Anak-anakku menatap dengan mata harap yang masih butuh sandaran, bukan air mata.
Pada titik terendah itulah aku belajar, “marah tidak boleh tinggal lama. Marah harus dibayar, bukan dengan dendam, tetapi dengan pertumbuhan”. Aku memilih bangkit. Bukan karena luka telah sembuh, melainkan karena tanggung jawab jauh lebih keras daripada rasa sakit. Aku belajar berdiri di atas kakiku sendiri, belajar bekerja lebih kuat, berpikir lebih dewasa, dan mengambil keputusan tanpa bergantung pada janji yang pernah dikhianati.
Hari demi hari, aku menukar amarah dengan usaha dan kerja keras. Setiap lelah yang kuterima adalah cicilan dari marahku yang dulu. Setiap keringat yang jatuh adalah bukti bahwa aku tidak runtuh.
Kini aku mampu menafkahi anak-anakku.
Mungkin bukan dengan kemewahan, tetapi dengan keteguhan. Aku memberi mereka makan dari tangan yang dulu gemetar, dan memberi mereka harapan dari hati yang pernah hancur. Perselingkuhan itu mengajariku satu hal pahit namun berharga, “kedewasaan sering lahir dari pengkhianatan, dan kekuatan seorang ibu muncul ketika ia tidak lagi punya pilihan selain bangkit”.
Marahku telah dibayarkan.
Dengan keberanian.
Dengan kemandirian.
Dengan senyum anak-anakku yang tetap tumbuh dalam pelukanku.
Dan hari ini, aku tidak lagi bertanya mengapa ini terjadi.
Aku hanya bersyukur, karena dari reruntuhan itu, aku susun dan menata satu demi satu batu batah merah harapan dengan perekat semen keyakinan. Kini dinding jiwaku dihiasi ornamen syukur dan doa, hingga diriku perlahan kembali utuh. Begitulah bahasa batin perempuan penakluk amarah. Benar kata sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage, “kalau ingin sukses jadikan musuhmu konsultan pribadimu”.
*BNsiana sejati dan penggerak literasi Kolaka Utara
