Oleh : Rahmawati
Mereka tidak selalu bertemu di ruang yang sama, namun dunia kata mempertemukan langkah keduanya. Dua perempuan, dengan latar hidup yang berbeda, duduk dalam sunyi yang serupa: menikmati literasi sebagai cara bertahan, memahami, dan mencintai hidup.
Perempuan pertama menjadikan tulisan sebagai tempat pulang. Setiap huruf adalah luka yang ia rawat dengan sabar, setiap paragraf adalah doa yang tak selalu terucap lewat lisan. Ia membaca bukan untuk terlihat pintar, melainkan untuk merasa utuh. Buku-buku menjadi sahabat yang tak menghakimi, selalu setia menemani saat dunia terasa bising.
Perempuan kedua menjadikan literasi sebagai jendela. Ia mengintip dunia lewat kata-kata, belajar tentang keberanian, kehilangan, dan harapan dari kisah orang lain maupun kisah dirinya sendiri. Membaca baginya adalah latihan empati, mengerti bahwa setiap manusia menyimpan cerita, dan tak semua cerita perlu disimpulkan, cukup dipahami.
Keduanya sama-sama mencintai sunyi. Di sela aktivitas, mereka menyisakan waktu untuk larut dalam bacaan atau merangkai tulisan. Literasi memberi mereka ruang untuk berpikir jernih, menata perasaan, dan berdamai dengan kenyataan yang tak selalu ramah.
Kedua perempuan ini bergelut dalam dunia literasi tanpa batas tanpa syarat. Karena keduanya sadar dan paham bahwa kemiskinan paling membahayakan bagi masa depan daerah dan bangsanya adalah kemiskinan literasi.
*BNsiana sejati yang konsisten menggerakkan literasi
