Oleh: Rosmawati*
Tulisan ini lahir secara spontan saat saya meresapi kata pengantar dari sang penggerak Ruslan Ismail Mage di buku Bunda Islamiati, “Menata Diri Menata Kehidupan secara Islami”. Ada satu getaran yang membuat saya terdiam: tentang bagaimana kita seharusnya “mengurus kehidupan” lewat tulisan dan tindakan. Seketika, pikiran saya melayang pada satu kenyataan yang sering kita hadapi, suatu kondisi dimana kita dipaksa harus ditinggalkan karena dibatasi waktu.
Jujur saja, seringkali kita terlena saat berada di puncak. Jabatan yang tinggi, fasilitas yang nyaman, dan penghormatan dari banyak orang terkadang membuat kita lupa bahwa itu semua hanyalah “pinjaman”. Kita merasa kursi itu akan selamanya milik kita, sampai akhirnya tiba saatnya kita harus turun, dan ternyata, kita tidak siap.
Di sinilah saya menemukan relevansi luar biasa dari konsep Wisata Spiritual. Wisata ini mengajarkan kita untuk tidak “berumah” di atas jabatan, tapi berumah di dalam rida-Nya. Membaca buku Bunda Islamiati menyadarkan saya bahwa menata diri secara Islami berarti menyiapkan mental saat kita berada di atas maupun saat harus kembali ke bawah.
Jika diri kita sudah tertata, maka jabatan hanyalah sebuah alat untuk menebar manfaat, bukan identitas yang membuat kita merasa lebih besar dari orang lain. Saat kursi itu harus diserahkan kepada orang lain, hati kita tetap tenang karena kita tahu bahwa kehormatan yang sejati tidak terletak pada kartu nama, melainkan pada bagaimana Allah memandang kita.
Ketidaksiapan kita saat kehilangan jabatan sebenarnya adalah tanda bahwa ada yang perlu dirapikan di dalam batin. Kita mungkin terlalu asyik menata karier sampai lupa menata hati. Padahal, seperti pesan Bang RIM di Bengkel Narasi, narasi hidup kita tidak berhenti saat jabatan selesai. Justru setelah tidak menjabat, kualitas “manusia” kita yang sesungguhnya sedang diuji. Apakah kita tetap bisa berbagi? Apakah kita tetap bisa menginspirasi?
Mari kita mulai wisata ke dalam diri ini. Belajar untuk melepaskan keterikatan pada dunia agar saat kita “turun gunung”, kita tidak jatuh terjerembab, melainkan mendarat dengan anggun. Karena pada akhirnya, setinggi apa pun jabatan kita, kita semua hanyalah hamba yang sedang mengantre untuk pulang. Menata diri bukan hanya untuk membuat hidup lebih teratur, tapi untuk memastikan jiwa kita tetap utuh, meskipun kursi yang kita duduki telah berganti. Hal ini menjadi penting untuk dimaknai bahwa, “Kesalahan terbesar bagi pejabat adalah menganggap jabatan itu tidak berbatas”.
*BNsiana sejati dan penggerak literasi Kolaka Utara
