Oleh: Sumardi, SE, Ak, M.Si, CA*
Kisah nyata ini berasal dari sebuah unit kecil organisasi pemerintah yang fungsinya di bidang pengawasan. Diawali dengan berdirinya organisasi itu penghujung akhir tahun 2014. Organisasi itu mempunyai tugas, fungsi dan wewenang yang penting dalam memastikan berjalannya Sistem Merit ASN di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya untuk mendorong berjalannya reformasi birokrasi, lembaga independent ini sesungguhnya tidak boleh dipandang sebelah mata. Itupun kalau Indonesia berharap maju dalam tata kelola SDM aparatur. Namun sebentar jangan membayangkan lembaga pengawasa ini mempunyai gedung megah dengan ruangan dingin dan kursi empuk serta pegawai yang cukup dari sisi kompetensi dan jumlah. Sangat kontras realita di lapangan. Lembaga ini hanya dibekali dengan sebuah kantor dengan gedung berstatus pinjaman dari Kementerian lain, perabot meja kursi tua penuh dengan debu tanda bahwa barang inventaris itu telah lama tidak digunakan oleh si empunya, serta pegawai yang sangat terbatas.
Tugas dan tanggungjawab yang sangat berat yaitu mengawal dan mengawasi pelaksanaan seleksi terbuka, memastikan berjalannya azas netralitas, kode etik dan kode perilaku ASN se-Indonesia adalah menu makanan sehar-hari. Namun pada sisi lain tidak didukung dengan SDM dan pendanaan yang cukup memadai. Kadang terbersit sebuah pertanyaan nakal apakah ini imposible mission ? ataukah ini hanya sebuah perjalanan awal yang sudah seharusnya dilalui oleh setiap Lembaga baru di Indonesia.
Pada awal Lembaga ini berdiri, saya bekerja dibantu oleh satu staf. Pekerjaan mulai perencanaan, menerima pelapor sampai terbitnya laporan saya kerjakan sendiri atau single fighter. Satu staf lebih difokuskan ke pekerjaan yang sifatnya supporting assignment dan surat menyurat saja. Berat memang tetapi dengan niat ikhlas Alhamdulillah semua bisa dilalui dengan baik walaupun tentu saja masih banyak berbagai kelemahan dalam pandangan para stakeholders.
Perlahan namun pasti kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya dengan tambahan pegawai sejumlah lima orang. Para pegawai baru itu merupakan anak-anakku yang hebat, penuh dedikasi dan literasi terhadap teknologi informasi juga sangat bagus. Paling tidak jika dibandingkan dengan saya yang merupakan generasi babby boomers. Namun sebagaimana kebanyakan anak-anak generasi milenial lainnya mereka sering tidak sadar dengan siapa mereka bekerja dan seringkali nirsopan-santun. Walaupun tidak semua anak milenial bersikap atau berperilaku seperti itu.
Para pegawai yang membantuku adalah Okdiani Darunifah. Dian sebutan akrabnya merupakan auditor yang kesehariannya suka mengulik setiap permasalahan namun kadang-kadang sedikit kepo terhadap temannya. Modal yang sangat dibutuhkan dalam menata karir sebagai seorang auditor. Lalu Ayu, profil pegawai yang cepat dalam menyerap arahan atau knowledge baru. Namun kadangkala tidak “njawani” walaupun besar di Pulau Jawa. Selanjutnya Naufal, sosok milenial yang rajin, penurut dan sopan terhadap atasannya. Namun kadangkala terlalu aktif dalam membuat reportase. Si Iga, merupakan pegawai baru hasil rekruitmen CPNS Tahun 2019 bersamaan dengan Musa Wambrouw. Si Iga merupakan pribadi yang centil, sedikit manja tetapi dia anak yang cepat dalam menyelesaikan penugasan. Hanya saja sering tidak nyambung diajak ngomong karena ternyata sudah tidur ketika diajak ngobrol. Makanya temannya memberikan gelar “pelor” kepadanya. Musa Wambrouw merupakan pribadi yang masih perlu banyak penyesuaian dan belajar namun terlepas dari semua itu dia mempunyai komitmen tinggi untuk mencoba menyelesaikan pekerjaan. Anak-anak itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya saling bersinergi dan bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bagus dan kompak bahkan hampir-hampir tidak pernah terjadi perselisihan diantara mereka. Semua item target pekerjaan semua dapat diselesaikan dengan baik.
Anak-anakku, kaliam semuanya hebat. Sungguh bahwa mereka bukan sekedar sebagai staf atau bawahan namun penulis lebih memperlakukan mereka sebagai partner strategis yang bersama-sama merealisasikan target kinerja yang telah diperjanjikan di awal. Tanpa mereka semua penulis tidak dapat bekerja dengan maksimal. Tanpa mereka saya tidak akan berarti apa-apa. Berdasarkan pemikiran itulah manajemen satu rasa dan manajemen satu hati (mengadopsi inspirasi dari Pak RIM) adalah hal penting yang sudah saya terapkan di unit kerja kami. Rapat bersama, brainstorming dan kanalisasi baik dalam jaringan maupun di luar jaringan menjadi sarana penting untuk membicarakan beban kerja bahkan sampai hal-hal lainnya yang berdampak terhadap kesejahteraan pegawai. Tidak boleh ada permasalahan yang dipendam oleh masing-masing pribadi. Semuanya harus terbuka dan dipecahkan secara bersama-sama. Semuanya dibagi secara proporsional namun dengan tetap mempertimbangkan capaian kinerja per masing-masing pegawai.
Anak-anak itu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu sewajarnya mereka dikelola dengan tepat. Agar mereka tetap bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi. Kesalahan dalam mengelola pegawai-pegawai yang hebat itu akan berdampak kepada turunnya moral mereka untuk bekerja secara optimal. Gaya kepemimpinan yang tepat pada situasi yang tepat akan membantu mengangkat moral mereka. Memang secra teoritis tidak ada satu gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi semua permasalahan dan situasi. Prinsip yang perlu dipegang bersama adalah adanya komunikasi dua arah yang sehat antara Pimpinan dan staf sehingga setiap permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan baik.
Anak-anak itu adalah anak hebat yang sudah sebaiknya terus-menerus dijaga dan dipelihara agar bibit unggul tersebut di kemudian hari mampu tampil sebagai Pemimpin yang Visioner, Inovatif dan mampu membuat perubahan yang lebih baik bagi masyarakat. Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana memberikan warna kepada mereka. Penanaman value, kompetensi dan kinerja harus terus-menerus diberikan kepada mereka agar tetap konsisten dalam menapak di lingkungan birokrasi ini. Di tangan pemimpin yang hebat, anak-anak milenial itu (dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing) akan menjadi “roket” pendorong perubahan organisasi. Namun sebaliknya di tangan pemimpin yang buruk, anak-anak milenial yang mempunyai berbagai kelebihan tersebut tidak akan mampu berbuat banyak. Mereka hanya akan menjadi benalu bahkan beban bagi organisasi. Jadi, berhati-hatilah dalam mengelola anak-anak kalian. Gunakan gaya kepemimpinan yang tepat dalam situasi yang tepat. Gunakan manajemen satu rasa dan manajemen satu hati…..bukan manajemen pemimpin yang selalu minta lebih, inginnya menang sendiri. Jauhkan diri dari kepemimpinan “sopo siro sopo ingsun” dan “adigang, adigung, adiguno”.
Penulis : Pegawai BPKP dalam Penugasan sebagai Asisten Komisioner KASN RI
