Aku bingung harus bagaimana, hari ini visaku habis. Hari belum terlalu siang, kira-kira jam 10 pagi, aku putuskan untuk segera meluncur ke Causeway Bay, di sana banyak sekali agen tenaga kerja.
Causeway Bay, kiblatnya para tenaga kerja di Hong Kong. Kota yang tidak pernah tidur, selalu ramai baik siang maupun malam. Apalagi kalau hari Minggu, dimana para tenaga kerja yang kebanyakan dari Indonesia tumpah ruah, berkumpul, dan menghabiskan waktu liburannya di sana.
Di sana banyak sekali toko dan restoran yang menjual dan menyajikan makanan khas Indonesia. Meskipun makanan khasnya kebanyakan makanan tradisional, tetapi harganya tidak kaleng-kaleng. Salah satunya adalah sayur kangkung. Kalau di kampung satu ikat sayur kangkung paling harganya dua ribu rupiah, dimasak jadi satu piring. Tetapi kalau disini, makan di restoran Indonesia, satu piring sayur kangkung bisa dihargai lima puluh dolar Hong Kong, atau kira-kira setara dengan tujuh puluh ribu rupiah.
Sesampainya di Causeway Bay, aku mendatangi beberapa agen tenaga kerja. Di setiap agen yang aku datangi, aku tinggalkan nomer telepon dan biodataku. Harapanku semoga dengan mendatangi banyak agen, peluang untuk mendapatkan majikan jadi lebih besar. Entah agen mana dulu yang akan memanggilku untuk interview dengan majikan.
Setelah aku mengisi biodata di salah satu agen, si pemilik agen menyuruhku untuk cepat-cepat pergi ke imigrasi Hong Kong untuk minta perpanjangan visa.
“Saat ini juga, kamu segera pergi ke imigrasi, minta perpanjangan visa. Visa kamu hari ini habis, kalau hari ini kamu tidak dapat majikan, otomatis kamu harus segera meninggalkan Hong Kong!” kata agen.
“Baik, saat ini juga aku berangkat ke imigrasi Hong Kong, terima kasih atas bantuannya!” jawabku.
Langkah kupercepat. Aku tidak mempedulikan perutku yang dari tadi kruyuk-kruyuk. Aku belum sempat makan. Pikiranku tidak tenang kalau urusanku belum kelar.
Aku sampai di imigrasi Hong Kong. Imigrasi Hong Kong hanya memberi perpanjangan visa selama dua hari. Imigrasi Hong Kong juga memberikan surat yang dimasukkan ke dalam amplop warna putih. Petugas imigrasi bilang, surat ini harus diserahkan kepada pihak atau petugas bandara kalau terpaksanya aku harus meninggalkan Hong Kong.
Visa cuma dua hari. Artinya, kalau hari ini aku belum juga dapat majikan, besok mau tak mau aku harus pergi meninggalkan Hongkong dan malam ini aku harus siap-siap ngemasin semua barang-barangku.
Dalam perjalanan pulang dari imigrasi, aku istirahat sejenak. Duduk di taman sambil mengunyah sepotong roti untuk mengganjal perut yang semakin keroncongan. Roti terasa hambar. Aku paksaan untuk mau masuk ke mulut. Sesekali aku meneguk air mineral yang berada di sampingku.
Jarak antara Causeway Bay ke imigrasi tidaklah terlalu jauh. Kalau berjalan kaki lebih terasa santai, naik kereta pun akan lebih cepat sampai. Aku memilih berjalan kaki saja.
Pulang dari imigrasi, aku memilih berjalan kaki menuju Causeway Bay. Di setiap langkahku, aku berdoa.
“Ya Allah, kalau rezeki hamba masih di sini, mudahkanlah urusan hamba, berikanlah hamba majikan yang baik. Hamba bekerja untuk membantu keluarga di kampung, semoga engkau rida ya Allah!” doaku lirih.
Aku semakin galau. Dari siang sampai waktu menjelang Magrib, aku belum juga mendapat kabar dari agen. Hari terasa sangat melelahkan. Pikiranku semakin berkecamuk.
Tiluulitttt….. tiluulitttt….
Tiba-tiba suara handphone-ku berbunyi.
“Halloo…!! Kamu sekarang dimana? Ini ada majikan yang mau mencari pembantu, kamu cepat ke sini. Sekarang juga kamu interview dengan majikan. Dia menunggumu di kantor!” suara si agen yang tadi menyuruhku ke imigrasi.
“Baik… baik! Aku segera ke situ!” jawabku bersemangat.
“Bismillah, semoga engkau mudahkan ya Allah, aamiin!”doaku lirih.
Sesampainya di kantor, majikan dan agen sudah menungguku. Aku dipersiapkan duduk oleh agen. Aku menyapa majikan. Ada sekitar setengah jam, aku dan majikan berbincang-bincang. Hasilnya, majikan menerima aku untuk bekerja di rumahnya. Saat itu juga majikan dan aku tanda tangan, tanda tangan kontrak kerja. Kerjanya menjaga dan merawat nenek.
Legaaaaa…. Itulah yang aku rasakan. Aku tidak jadi pulang ke Indonesia. Aku masih ingin mengais rezeki di Hongkong.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih engkau masih memberikan aku kesempatan untuk mengais rezeki di sini!”ucapku. Betapa Allah begitu sayang kepadaku. Allah mengabulkan semua doa-do’aku. Seolah-olah semua pengorbananku selama ini terbayar lunas.
Majikanku baik. Aku bisa leluasa salat dan puasa. Setiap Minggu aku libur. Kadang-kadang kalau majikan sibuk, majikan menyuruhku jangan libur dulu, majikan pun menggantinya dengan uang.
Setiap hari, aku di rumah dengan nenek. Dari urusan belanja dan memasak, aku sendiri yang mengatur, majikan hanya memberikan uang belanja. Majikan tidak terlalu ribet dalam hal makanan. Apa saja yang aku masak, majikan tidak pernah berkomentar. Setiap hari, pagi dan sore hari, aku mengajak nenek jalan-jalan ke taman yang berada di bawah apartemen.
Nenek bisa berbincang-bincang dengan teman-temannya di taman, aku pun demikian. Aku bisa ngobrol dan berbincang-bincang santai dengan teman-temanku di taman.
Aku bisa dengan leluasa membeli segala kebutuhanku. Mau makan apa aja, majikan tidak mempermasalahkan dan melarangnya. Untuk makan aku bisa mengaturnya sendiri. Aku menyisihkan makanan yang aku masak untuk aku sendiri.
Cobaan dan ujian selalu datang tanpa permisi. Siapa yang menyangka, salah satu temanku, tetangga flat juga, yang setiap hari bertemu, setiap hari ngobrol, begitu teganya menipuku. Di depanku dan di depan teman-teman yang lain terlihat baik, ternyata di belakang dia seperti musang berbulu domba.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya terlalu manis, kadang pula terlihat memelas, memelas minta dikasihani. Aku terbuai dengan mulut manis dan drama memelasnya itu.
Dia bilang kepadaku, katanya majikannya jahat, makan setiap hari dengan mie instan, sering kelaparan.
Dia minta tolong kepadaku, dia mau pinjam uang, katanya kalau nanti gajian akan dikembalikan secepatnya.
Aku tidak tega mendengarnya. Aku pernah merasakan itu semua, betapa tidak menyenangkan sekali. Tidak pernah terlintas pikiran negatif sedikit pun kalau dia seorang penipu ulung.
Aku pinjami dia sebesar dua ribu dollar Hong Kong. Kalau di rupiahkan hampir tiga juta. Uang Itu sangat berharga untukku, jatah untuk kirim ke kampung.
Sehari setelah aku pinjami uang, dia kabur tanpa meninggalkan jejak, dia pergi malam-malam. Ternyata apa yang dia omongkan tentang majikannya, semua bohong, semuanya tidak benar. Dan bukan aku saja yang tertipu, ada juga teman-teman yang lain yang terkena sihirnya. Ternyata utangnya banyak di mana-mana.
Huuhhhhh… betapa bodohnya aku. Uang yang sudah pergi tak akan pernah bisa kembali lagi. Aku hanya pasrah, biarlah mungkin ini adalah teguran dari Allah, mungkin aku kurang bersedekah. Biarlah, toh dia juga yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya kelak di hadapan Sang Pencipta.
Sampai detik ini, aku tidak tahu bagaimana keadaan dia yang tega menipuku dan juga teman-temanku. Apakah hati dia merasa nyaman ataukah biasa-biasa saja. Entahlah…
Di kontrak-kontak kerja berikutnya, semua berjalan dengan lancar, tidak ada halangan dan rintangan yang berarti. Meskipun ada, alhamdulillah aku bisa mengatasinya.
Di setiap interview dengan majikan yang sedang mencari pembantu, aku selalu mengajukan persyaratan. Kalau si majikan mengizinkan aku salat, puasa, dan berkerudung, aku pun bersedia bekerja untuknya. Tetapi kalau majikan menolak persyaratanku,aku pun menolak bekerja untuknya.
Pernah ada salah satu staf agen di Hong Kong yang bilang kepadaku, “Kenapa sih kamu selalu menutup rambutmu dengan kain (kerudung) itu, kamu jarang keramas ya?”tanya dia.
“Bukan, bukan karena aku jarang keramas. Ini karena kewajiban aku sebagai seorang muslimah,”jawabku.
“Kamu tidak gerah, tidak panas gituh?” tanya dia lagi.
“Tidak, biasa aja, malah nyaman,” jawabku lagi.
Majikan yang baik adalah majikan yang mau menghormati dan menghargai pembantunya. Salah satunya adalah soal keyakinan. Karena kita akan tinggal di rumah majikan, otomatis majikan pun perlu tahu bagaimana keyakinan kita. Apa dan bagaimana itu salat dan puasa. Karena ada majikan yang memahami dan ada juga majikan yang tidak memahami, kita hanya menjelaskan kepada mereka. Ada yang beranggapan kalau puasa, sehari tidak makan dan minum akan mengganggu pekerjaannya. Nanti kalau sakit, majikan juga yang repot
Pernah ada majikan yang mau mempekerjakan aku, tetapi majikan ingin tahu bagaimana caranya aku salat. Dia juga bertanya apakah kalau aku salat menggunakan buah, dupa, atau semacamnya, seperti cara sembahyangannya orang Hong Kong.
Aku jawab tidak, kemudian aku menjelaskan apa itu salat dan tata caranya. Aku tunjukkan beberapa gerakan salat. Setelah aku jelaskan panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya majikan pun bersedia mempekerjakan aku. Kata majikan oke lah, itu tidak ribet.Yang penting aku bisa mengatur waktu.
Dia baik, tidak cerewet. Aku mau ngapain juga terserah, libur oke, gaji oke, sering juga aku dikasih bonus. Tapiii…ada tapinya.. kamar tidurku dipasang kamera…iya kamera…yang tiap saat muter-muter.
“Ngapain juga ini kamar di pasang kamera, emang aku mau ngapain?” batinku waktu pertama kali kerja.
“Mau njungkir balik pun terasa tidak sreg, gimana coba kalau aku lagi enak-enaknya tidur,eh itu si selimut jalan-jalan. Malu dong kalau kelihatan. Ini kan ranah pribadiku!”gerutuku.
Alhasil, setiap mau tidur aku tidak pernah memakai celana pendek. Baik itu musim panas ataupun musim dingin. Kalau musim dingin sih enak, tapi kalau musim panas kan gerah.
Aku salat pun terlihat jelas, karena jarak kamera dengan tempat tidur hanya satu setengah meter, pas di bagian kepalaku. Hanya dapur dan kamar mandi saja yang tidak dipasang kamera.
Awalnya aku merasa risih, tetapi lama-kelamaan jadi terbiasa. Ngapain juga takut sama kamera, orang aku ndak ngapa-ngapain. Aku juga punya kamera, kameraku malah lebih canggih, Allah Swt, dia adalah kamera terbaik dan tercanggih, tidak ada di dunia ini yang dapat menandinginya.
Bisa saja aku melaporkan majikan karena ini adalah sebuah pelanggaran. Pembantu juga punya privasi. Tapi sudahlah, selama majikan baik, aku tidak mempermasalahkannya.
Anehnya, setelah aku finish kontrak, aku pun oke-oke aja memperpanjang kontrak kerja, nambah kerja lagi di situ.
Alhamdulillah, tiap minggu aku dikasih libur. Hari libur nasional pun aku dapat libur full. Daripada aku luntang-lantung tidak jelas mau ngapain, akhirnya aku bergabung dengan saudara dan teman-temanku, bergabung di kevolunteran Dompet Dhuafa Hong Kong.
Di kevolunteran ini, banyak sekali pengalaman, pelajaran, dan ilmu yang sangat berharga. Aku bisa belajar banyak hal, baik itu belajar berorganisasi, belajar bekerja sama, maupun yang lainnya.
Aku sadar,di setiap organisasi pasti selalu ada yang namanya silang pendapat. Itu adalah hal yang lumrah dan wajar terjadi. Tetapi, di sinilah letak keindahannya. Belajar menghargai dan menghormati orang lain, bersikap rendah hati, dan tidak merasa dirinya paling benar dan hebat. Semua saling bekerja sama demi satu tujuan, yaitu mengharap rida Allah Swt.
Dompet Dhuafa Hong Kong atau DD HK adalah cabang Dompet Dhuafa Republika, Jakarta. Tujuan DD HK adalah untuk makin meningkatkan peran syiar agama Islam melalui pemaksimalan dana zakat, infak, sedekah, dan waqaf(ZISWAF) yang ada di Hong Kong.
Disini,kami yang tergabung dalam kevolunteran, saling bekerja sama, berbagi tugas untuk melayani mereka. Mereka para tenaga kerja yang datang dengan berbagai keperluan, ada yang akan bayar zakat, infak, sedekah, maupun wakaf.
Mereka para volunteer, ada yang bertugas di kantor, dan ada pula yang bertugas di lapangan. Para tenaga kerja yang sedang libur bisa datang langsung ke kantor DD untuk membayar zakat. Mereka yang tidak libur bisa telepon ke kantor DD. Nanti bisa dijemput oleh salah satu volunteer yang bertugas.
Kami juga sering mengadakan penggalangan dana untuk mereka, saudara kita yang terkena musibah, baik itu di Hong Kong maupun di Indonesia. Uang hasil penggalangan dana tersebut kami serahkan ke Dompet Dhuafa untuk mengelolanya.
Alhamdulillah, melihat semangat para volunteer yang luar biasa, secara tidak sadar telah memberikan energi positif terhadapku. Semakin bersemangat untuk saling menebar kebaikan kepada orang lain. Apa yang aku rasakan mungkin sama seperti yang mereka rasakan. Iya… kepuasan batin, senang bisa bermanfaat bagi orang lain. Padahal, kalau boleh jujur, dari hari Senin sampai hari Sabtu kita bekerja ikut majikan. Lelah, penat, dan ingin istirahat sambil selonjoran meluruskan kaki. Tetapi, semua tidak dirasakannya. Justru rasa lelah itu tiba-tiba hilang seketika kita bertemu dan menyibukkan diri dengan segudang aktivitas.










Di kevolunteran inilah aku berkenalan dengan yang namanya menulis. Awalnya aku sedang mengikuti belajar baca tulis Al-Qur’an. Baca tulis Al-Qur’an adalah salah satu program yang ada di DD HK.
Oleh salah satu temankku, tiba-tiba dia bilang begini, “Eh,nanti kamu tulis ya kegiatan hari ini. Kamu liput gitu, buat isi majalah Iqro!”
“Aku… nulis buat majalah iqro?” jawabku.
“Iya, ndak apa-apa. Apa yang tadi kamu lihat, kamu dengarkan, kami tulis aja, oke?” kata dia lagi
“Baiklah!” jawabku singkat.
Iqro adalah majalah terbitan DD HK. Sekitar dua ribu eksemplar dicetak dan didistribusikan ke beberapa daerah di Hong Kong untuk mereka para tenaga kerja Indonesia. Dengan membayar infak sebesar $12 bisa mendapatkan satu majalah iqro. Banyak berbagai informasi yang terdapat dalam majalah ini. Salah satunya adalah liputan kegiatan yang dilakukan dan diadakan oleh DD HK.
Aku yang belum pernah menulis, mau tidak mau harus belajar. Aku buka-buka majalah Iqro terbitan sebelumnya. Aku lihat dan aku pelajari bagaimana cara menulis liputan dan lainnya.
Waktu itu aku belajar secara otodidak, belum ada yang mengajariku menulis. Ini pertama kalinya aku menulis, meskipun itu hanyalah sebuah liputan kecil. Untuk pertama kalinya pula tulisanku dimuat di sebuah majalah, majalah Iqro. Aku merasa gimanaaa gituuu…. tulisanku dimuat di majalah.
Hari-hari berikutnya, aku mulai aktif menulis. Kadang juga jadi reporter gadungan, haaa haaa haaa…. Sok penting dan sok gimanaaa… memakai rompi kebesaran Dompet Dhuafa, di leher dikalungin identitasku. Aku hadir memenuhi undangan pengajian yang diadakan oleh organisasi bentukan para tenaga kerja yang ada di Hong Kong.
Setelan acara selesai, aku yang seperti reporter andal, mewawancarai kegiatan tersebut. Untuk apa dan bagaimana kegiatan tersebut dilakukan serta bla bla bla…. Lama-kelamaan aku merasa nyaman dan senang dengan menulis. Semakin banyak ilmu dan wawasan karena mau tidak mau aku harus banyak membaca.
Banyak tenaga kerja yang datang ke kantor DD HK untuk membayar zakat dan lainnya. Di sana aku bertemu dengan mereka. Iseng-iseng aku ngobrol, bercerita bagaimana awal atau kesan setelah membayar zakat, atau bagaimana rasanya bekerja ikut majikan. Dari ceritanya bisa aku tulis, setelah mendapat izin darinya.
Aku juga belajar menulis di DDNews, media online yang berisi informasi tentang DD HK dan serba serbi yang berkaitan dengan tenang kerja Indonesia yang bekerja di Hongkong.
Di DDNew, aku di bimbing oleh kang Romel,atau Kang Romel Tea. Aku diajari bagaimana cara menulis. Tulisan atau cerita yang aku buat, aku kiriman ke dia. Aku bandingkan tulisanku asli dan tulisan yang sudah diperbaiki oleh Kang Romel. Di situ, aku sedikit paham tentang dunia menulis.
Belum banyak yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Di Hong Kong, hanya tenaga dan pikiran yang bisa aku lakukan. Menjemput ziswaf dan mencari para donatur sambil menyusuri tiap ruas jalan. Sedollar dua dollar… terkumpul menjadi banyak. Akan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Tidak ingin mengharap apa pun selain keridaan Allah Swt.
Setelah hampir 10 tahun melanglang buana di Negeri Beton, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung, berkumpul dengan keluarga tercinta. Kenangan dan pengalaman kerja di Hong Kong, ibarat berlian yang sangat berharga. Tetap akan tersimpan rapi sampai kapan pun. []
