“Sudah miskin, anaknya banyak, ikut KB kenapa sih? Kasihan tuh anak-anaknya kumal dan tak terurus!”
Kata-kata itu masih saja terngiang di telingaku. Kata-kata dari para tetangga yang gemas melihat keadaan keluargaku. Anaknya sembilan, masih kecil-kecil, Emak seorang ibu rumah tangga biasa, sedangkan bapak hanyalah seorang tukang becak.
Emak tidak mau program KB. Selisih anak pertama sampai kesembilan hanya selang dua atau tiga tahun.
Sampai mentok anak ke sembilan, Emak sudah tidak hamil lagi.
“Biarlah, anak adalah rezeki yang Allah berikan. rezekinya sudah dijamin sama Allah, akan rata dan tidak akan pernah tertukar.” Itulah kata-kata Emak setiap ada petugas kesehatan yang datang ke rumah, membujuk Emak agar bersedia mengikuti program KB. Tetapi, selalu ditolak oleh Emak.
Keadaan rumah kami sangat memprihatikan, miring sebelah. Semisal dirobohkan dari arah Barat, rumah itu akan dengan mudahnya ambruk ke arah Timur.
Terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong di mana-mana. Tembelan triplek terlihat jelas. Bahkan, untuk bagian belakang rumah atau bagian dapur, ayam tetangga masuk pun bisa dengan mudahnya nyelonong.
Apalagi kalau musim penghujan tiba, peralatan dapur seperti panci, ember dan lain-lainnya berjejer rapi di lantai rumah kami. Lantai rumah yang masih berupa tanah, akan menjadi becek jika ember tampungan air hujan dari atap rumah sudah penuh dan tidak segera di buang.
Kami pun tidak bisa tidur nyenyak. Suara air hujan yang jatuh ke panci dan ember membuat mata kami tidak bisa terpejam sempurna. Suara berisik air hujan yang turun sahut-menyahut ibarat dentingan musik dengan irama tidak teratur, memecah keheningan malam yang terasa dingin.
“Besok, seperti biasanya, Emak akan berangkat pagi-pagi sekali untuk pergi ke sawah. Beras dan sayuran sudah Emak siapkan.”
“Besok pagi, seperti biasanya kamu juga yang masak untuk adik-adikmu. Jaga adik-adik di rumah. Kalau adikmu bandel, jangan dicubitin, kasihan, ” pesan Emak setiap malam kepada anak perempuannya yang lebih tua.
Di saat yang lain asyik bermain dengan teman sebayanya, kakakku malah diberi tugas ngurusin adik-adiknya yang banyak dan masih kecil-kecil pula. Makanya, kalau adik-adiknya bandel, tidak segan-segan pula tangan kakakku nyubit pantat kami sampai biru, kadang sampai nangis lama. Kalau Emak pulang, pasti kakak selalu dimarahin.
Setiap hari Emak habiskan waktunya untuk mencari nafkah. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang petang hari. Emak menjadi buruh kasar di sawah dan ladang orang.
Upah yang diterima langsung dibelikan kebutuhan dapur. Jadi, setiap pulang, Emak selalu bawa bahan makanan untuk dimasak esok hari. Ini berlangsung setiap hari.
Penghasilan Bapak dari mengayuh becak tidak menentu. Kadang lumayan, kadang juga sepi penumpang. Tetapi, setidaknya ada sedikit tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Sering juga setiap malam kami merasa lapar. Ini dikarenakan beras dan kebutuhan lain habis, tidak cukup untuk mengenyangkan perut kami. Terpaksa jatah dipiring harus dibagi rata meskipun lebih sedikit dari biasanya.
Kadang kalau Bapak ada undangan kenduri, pasti pulangnya bawa besek berisi makanan. Dan Emak selalu membangunkan anak-anaknya yang sudah tidur untuk makan. Biar anak-anaknya kenyang, pun kalau tidak segera dimakan, makanan akan basi dan mubazir pastinya.
Kami jarang sekali membeli baju baru. Jangankan membeli baju baru, untuk memenuhi kebutuhan keluarga pun kami harus berjuang ekstra keras. Apa pun itu asalkan halal dan menghasilkan uang, akan kami lakukan.
Sering juga aku memakai seragam sekolah kalau diajak Emak ke kondangan.Bukan tanpa alasan, karena hanya baju itu yang lumayan layak dipakai. Baju seragam SD merah putih. Aneh memang.
Pernah aku dibelikan baju untuk lebaran,tetapi coraknya bergambar paku pines atau paku payung.Aku ya senang saja, yang penting adalah baju baru.Apapun motif bajunya,tak jadi soal.
Kelas enam SD, aku sudah terampil mengurus ketiga adikku. Memasak dan mencuci, aku sudah bisa melakukannya. Tugas Emak dan Bapak mencari nafkah. Sedangkan kakak-kakakku merantau ikut orang dan ada juga yang bekerja di pabrik.
Keadaan kami sedikit membaik setelah kakak-kakakku bekerja. Setiap lebaran mereka pulang kampung, membelikan kami adik-adiknya baju baru. Baju yang lebih layak dan kelihatan bagus. Tidak lagi memakai seragam sekolah SD kalau bepergian.
Pernah kakak-kakakku merasa kangen dengan adik-adiknya di kampung. Kami disuruh kirim foto. Akhirnya, aku dan ketiga adiik lelakiku pergi ke studio foto. Baju terbaik yang dibelikan kakak kami pakai, tetapi kami tidak mempunyai sandal yang bagus. Terpaksa kami memakai sepatu sekolah. Padahal, sepatu ketiga adikku ujungnya bolong semua. Kaos kaki berwarna putih pun jelas terlihat.
Pelan tapi pasti, gubuk reyot dengan tambalan di mana-mana sedikit demi sediki mulai berdinding batu bata, meskipun hanya setengahnya saja.Atasnya masih berdinding bambu. Setidaknya bagian bawah lebih kokoh dan tidak mudah dimakan rayap. Lantai masih biasa, tanah. Jadi kalau musim kemarau harus rajin menyiram lantai agar tidak berdebu.
Pernah suatu hari karena tidak kuat menahan beban berat, dipan atau tempat tidur yang terbuat dari anyaman bambu ambruk di saat kami sedang terlelap tidur. Terpaksa kami pun tidur di lantai beralaskan tikar seadanya. Tidak terasa dingin, hangat malah, mungkin karena lantainya masih tanah.
Kami hanya memiliki tiga tempat tidur. Dari tiga tempat tidur dibagi untuk sebelas orang: Emak, Babak, dan sembilan anaknya.
*
Suatu hari di waktu malam, kakak perempuanku yang nomor empat bilang ke Emak.
“Mak, izinkan aku untuk bekerja di luar negeri seperti si Dian, temanku.”
“Libur Hari Raya Idul Fitri akan segera habis. Aku tidak akan berangkat ke tempatku bekerja. Aku akan berhenti!”.
“Gimana Mak, boleh ya?” rayu kakakku kepada Emak.
“Nduk, bekerja di luar negeri kan jauh. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk bekerja di sana? Emak tidak punya uang, Nduk!”.
“Aku tahu Mak. Tapi, itu sudah menjadi keputusanku. Aku kepingin menyekolahkan adik-adik ke jenjang yang lebih tinggi. Jangan sampai mereka putus sekolah.”
“Jangan sampai mereka seperti kakak-kakaknya, SD saja tidak lulus, tidak ada biaya untuk sekolah. Meskipun lulus itu pun hanya sampai kelas enam SD. Tidak ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi!” kata kakakku meluluhkan hati Emak.
“Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu, Insya Allah Emak rida!”
“Nanti Emak bilang ke Bapak untuk mau menjual becaknya, untuk biaya kamu pergi ke luar negeri. Kalau uangnya masih kurang, Emak akan coba untuk pinjam uang ke tetangga,” kata Emak.
“Makasih ya Mak, semoga Emak suatu saat bisa pergi ke tanah suci, aamiin. Doa’in ya Mak!” kakakku bersemangat.
“Pasti, pasti Emak doakan yang terbaik, semoga Allah mendengar doa kita semua. Semoga kamu juga dilancarkan dalam bekerja nantinya, aamiin!” jawab Emak.
Hari berganti hari. Bulan pun berganti dengan cepatnya. Kakakku yang bekerja di luar negeri sepertinya membawa magnet yang kuat terhadap kakakku yang lain.
Kedua kakakku pun akhirnya menyusulnya, ikut bekerja di luar negeri. Ketiga kakak perempuanku semua bekerja di luar negeri, menjadi tenaga kerja wanita.
Anak Emak sembilan,lima laki-laki dan empat perempuan. Aku adalah anak perempuan, anak nomer enam dari sembilan bersaudara. Adikku tiga laki-laki semua.
Ejekan dan hinaan tetangga yang dulu kerap mendarat di telinga, kini berangsur-angsur mulia lenyap.
Emak yang dulu kalau ngutang ke tetangga selalu menangis. “Mau nyerutang pakai apa? Mau berapa lama bayarnya?”
Sindiran tetangga membuat Emak hanya terdiam. Emak sadar akan hal itu. Emak memang perempuan tangguh.
Tangan Emak memang dua, tetapi Emak bisa merangkul semuanya. Emak bisa menghidupi kesembilan anaknya. Kaki Emak memang dua, tetapi kaki Emak kuat berjalan melewati jalan berbatu demi mencari nafkah untuk keluarga.
Hati Emak memang begitu luas, seluas samudra. Pasrah dan tawakal sama ketentuan sang raja dari segala raja, Gusti yang Maha Kaya.
Emak yang dulu hanya berangan-angan pergi ke tanah suci, akhirnya tercapai. Emak yang dulu hanya berangan-angan bersujud di depan Ka’bah, akhirnya terwujud juga. Emak yang dulu hanya berangan-angan menyentuh Ka’bah dan hajar aswad, alhamdulillah kini dengan izin Allah semua bisa tercapai. Bapak yang sudah terlebih dahulu dipanggil sang pencipta tidak bisa menemani Emak pergi ke Tanah Suci.
Anak-anaknya yang dulu dibesarkan kini sudah bekerja memperbaiki dan mengangkat derajat orang tua. Rumah yang kokoh dari atas sampai bawah. Aku dan ketiga adikku bisa menamatkan pendidikan sampai ke jenjang SLTA.
