Dari kemarin, kedua anak perempuanku rewel minta dibelikan tas dan sandal baru. Aku tidak serta merta mengiyakannya. Aku jelaskan kalau sandal dan tas yang lama masih bisa di pakai, tidak usah beli yang baru.
“Ma, kalau untuk sehari-hari aku kan pakai sandal jepit, terus bagaimana kalau untuk lebaran? Aku kan tidak punya sandal yang baru. Aku ndak mau sandal yang lama, masa hampir dua tahun ndak ganti-ganti. Pokoknya harus ganti!”
“Aku juga minta tas yang baru, tapi bukan tas sekolah. Tas untuk ngaji seperti punyanya teman-temanku. Tas yang lama terlalu kecil hanya muat untuk menaruh Al-Qur’an saja!” rengek anakku yang gede.
Bukan tanpa alasan kalau aku agak keberatan. Sebab, kalau anakku yang gede dibelikan, otomatis anakku yang kecil protes harus dibelikan juga yang sama.
Apalagi kalau sudah masuk toko, anakku yang kecil pasti nangis minta ini itu lihat mainan yang berjejer rapi. Tidak dibelikan nangis-nangis, malu-maluin dilihatin orang. Terlihat sekali kalau emaknya tidak punya duit (emang ndak punya duit, ada tapi minim). Dibelikan juga untuk apa, beli mainan paling seneng sehari dua hari, ndak sampai seminggu pasti bosan, dibiarkan begitu saja.
Aku bilang ke suami,”Yah, anak-anak minta sandal dan tas baru tuh!”
“Ya sana belikan. Mama aja yang nganter!” kata suami.
“Duitnya mana?” kataku sambil mengulurkan tangan ke suami.
“Kemarin Pak Dhe ngasih rezeki. Kamu bisa gunakan untuk membeli tas dan sandal baru untuk anak-anak. Daripada rewel terus, berisik!” jawab suami.
“Oke!” kataku.
Sepulang belanja dari pasar untuk membeli kebutuhan dapur, mumpung belum terlalu siang juga, aku langsung mengajak anak-anak pergi untuk membeli sandal dan tas baru.
Aku dan kedua anakku menuju tempat biasa, tempat dimana aku sering kes itu untuk membeli keperluan sekolah anak-anak. Barangnya lumayan bagus dan harga pun lumayan bersahabat di kantong.
Maklum lah, kebutuhan hidup sekarang serba mahal. Apa-apa naik. Kalau terlalu dipikir, bisa bikin pusing kepala. Ndak dipikir pun yaaa … terpaksa harus dipikiran juga. Harus bisa memilah-milah kebutuhan mana yang lebih penting.
Setelah selesai membeli keperluan anak-anak, aku tidak langsung pulang. Dengan sepeda motor, aku menyusuri jalan sambil tengok kanan kiri mencari warung bakso, siapa tahu ada yang buka.
Karena sedang bulan Ramadan, tidak semua warung makanan membuka lapaknya di siang hari, meskipun buka itu pun kadang menjelang sore hari. Aku mau membeli bakso untuk anakku yang kecil, karena dia belum puasa.
Akhirnya aku tertuju di salah satu warung bakso, kelihatannya baru buka, terlihat dua orang laki-laki sibuk menata dagangannya.
“Mas, baksonya sudah matang apa belum yah? Tidak untuk makan di sini, tapi dibungkus, dibawa pulang saja!” kataku ke Mas penjual bakso.
“Sudah matang, Bu. mau berapa bungkus?” kata dia.
“Lima bungkus ya Mas!” kataku lagi.
“Oh, nggih Bu!” jawab si tukang bakso lagi.
Saat aku sedang menunggu si tukang bakso meracik bahan-bahan, tiba-tiba datang seorang perempuan paruh baya. Dari penampilannnya semua orang pasti tahu kalau dia sedang tidak sehat, dia sedang sakit. Dia berdiri tidak jauh dari tempat aku duduk. Rambut dan penampilannya begitu kumal. Dia tertawa cekikikan sendiri. Kadang, kedua matanya mengarah menatapku, kadang juga menatap ke si tukang bakso.
Si tukang bakso memanggilku, aku pun menghampirinya.
“Baksonya sudah siap, Bu. Total semua 50 ribu nggih!”kata dia.
“Oh nggih, nuwun nggih Mas!”
“Oh iya, ini aku tambahin sepuluh ribu lagi tolong dibungkus, kasihkan ke perempuan itu nggih?” Perintahku sambil menunjuk ke perempuan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari aku.
“Oh nggih,!” jawab si Masnya
Aku cantelin kresek berisi bakso yang aku beli tadi di motorku. Aku bersiap untuk pulang.
Aku melihat si perempuan baruh baya tadi tersenyum dengan gembiranya, tersenyum karena menentang sebungkus bakso. Pasti dia lapar. Aku pun berlalu.
Disepanjang jalan, aku teringat almarhumah Emak. Dulu, Emak juga pernah begitu. Ada seorang perempuan paruh baya meminta makanan ke salah satu warga, tapi tidak diberi, malah di usir.
Emak yang melihatnya pun merasa kasihan. Dihampirinya perempuan itu, dibawa ke rumahnya. Sama Emak di mandikan, dipotong rambutnya, dipotongin kuku-kukunya yang panjang dan diganti bajunya dengan pakaian yang lebih bersih, diganti dengan pakaian Emak.
Setelah bersih, sama Emak dikasih makan dan minum. Sama Emak kemudian diantar ke depan, dituntun oleh Emak menyeberang jalan.
Kadang hal sepele yang kita lakukan tidaklah seberapa. Ternyata, disitulah terdapat perbaikan gizi untuk hati kita agar tetap memiliki hati nurani yang sehat.
Terima kasih, Emak…
