Aku termasuk orang yang tidak punya kampung halaman. Bapak sudah yatim piatu sejak kecil. Ibu kehilangan kedua orang tuanya dalam kurun waktu setahun setelah menikah dengan Bapak.
Sebagai perantau di kota militer, Bapak dan Ibu sudah tidak punya tujuan mudik lagi. jadi, aku pun tidak mengenal kampung halaman kecuali kota dimana aku lahir dan dibesarkan. Mendapat jodoh yang hanya berbeda kecamatan dan mencari nafkah di seputaran Bandung Raya membuatku fixed 100% menjadi orang yang tidak pernah merasakan mudik lebaran.
Mungkin benar apa kata peribahasa, “kasih anak sepanjang galah.” Setiap menjelang Ramadan, aku pikir cukup berkunjung dan memberi uang kepada Ibu dan Bapak untuk bekal berpuasa. Begitu juga saat menjelang Idulfitri, sekadar memberi uang, biar Ibu dan Bapak belanjakan sesuai kebutuhan dan/atau keinginan mereka. Namun, sejumlah sembako atau produk sandang standar seperti kerudung, kemeja koko, atau sarung pasti kami sediakan. Aku pikir sudah gugur kewajibanku berbakti pada orang tua.
Namun, tahun ini semua terasa berbeda. Sejak berinteraksi dalam komunitas Bengkel Narasi, aku banyak mendapat asupan nutrisi jiwa, terutama dari kalimat-kalimat inspiratif Bang RIM. Frasa “Wakil Tuhanmu di Bumi” yang merujuk pada orang tua, terutama ibu, bak sebuah tamparan keras di pipiku. Aku tersadar bahwa semua yang sudah aku lakukan atau berikan kepada orang tua, ibarat buih di lautan jika dibandingkan dengan kasih mereka, terutama ibu.
“Dinda, muliakan wakil Tuhanmu di bumi, mumpung keduanya masih hidup,” pesan Bang RIM. “Penuhi kebutuhan orang tua. Biarkan tuhan yang memenuhi kebutuhanmu,” tambahnya.
Seorang sabahat berpesan, “Abah, kalau ngasih ke orang tua jangan tanggung, harus yang terbaik, jangan yang abal-abal.” Bahkan, aku diberi tantangan selama Ramadan ini melakukan tiga kebaikan untuk orang tua setiap harinya. “Tidak perlu berupa pemberian atau materi. Bisa dalam bentuk membantu pekerjaan di rumah orang tua atau hal-hal sederhana,” tambahnya.
Maka, dimulailah tantangan “30 Hari Memuliakan Wakil Tuhanku di Bumi”. Setiap hari, aku berpikir apa yang bisa dilakukan. Sering pula aku bertanya,”Ibu, butuh apa?”. Bahkan, hal-hal kecil yang tertangkap oleh pengamatanku langsung dieksekusi.
Alhasil, aku pun sering bolak-balik ke supermarket, toko, atau pasar. Mulai dari peralatan dapur, barang sandang, bahan makanan, perkakas, perlengkapan kebersihan, dan lain-lain. Ibu dan Bapak pun kaget, tidak biasanya aku sering mampir. Apalagi setiap mampir pasti ada kantong kresek yang kubawa. Sampai Ibu bilang, “Apa lagi ini? Eh jangan belanja terus, nanti uang kamu habis!”
Uangku habis? Hmm, sebetulnya lumayan menguras isi dompet dan rekening sih. Namun, aku terus dimotivasi bahwa kebahagiaan orang tua ada kunci pembuka pintu-pintu rezeki.
Baca tulisan: Kerudung untuk Ibu
Semakin hari, aku semakin merasakan keajaiban berbakti dan membahagiakan orang tua. Tidak jarang, diam-diam aku menangis terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ibu dan Bapak. Rezekiku pun mengalir.
Pada akhirnya, ada beberapa hal yang membuatku tersadar, bahkan hingga menangis. Meskipun orang tua (seperti Bapak sebagai pensiunan TNI AD) punya uang sendiri, bukan berarti mereka tidak ingin diberi. Ketika mereka mengatakan “cukup” atau “nggak perlu apa-apa kok”, sebenarnya mereka khawatir kita kehabisan uang. Ketika kita berpikir dengan memberi “mentahnya” saja sekian juta rupiah, ternyata mereka ingin diantar karena tidak tahu harus berbelanja di mana. Bahkan, ketika kita memberi makanan, mereka mengonsumsi seperlunya dan diam-diam membagikannya pada anggota keluarga lain yang kira-kira memerlukan.
“Dinda, apa lagi kebutuhan Ibu dan Bapak?”
“Dinda, bagaimana Ibu dan Bapak, aman?”
“Abah, hari ini ngapain aja untuk Ibu dan Bapak?”
Takbir pun bergema, tanda esok Hari Raya tiba. Tantangan “30 Hari Memuliakan Wakil Tuhanku di Bumi” pun tuntas kujalani. Belum pernah kulihat Ibu dan Bapak sebahagia ini sebelumnya.
Wahai wakil Tuhanku di bumi, lebaran tahun ini adalah milik kalian: kebahagiaan dan kemenangan kalian. Maafkan aku, Si Bungsu ini sering kali abai.
Iyan Apt
Sementara Ibu sibuk di dapur dan Bapak merapikan teras, kusempatkan menyetrika kemeja koko Bapak dan kerudung Ibu. Tak terasa, air mataku pun menetes lagi. []
