Oleh : Risnawati
Beberapa waktu yang lalu, di kantor rektorat Institut Teknologi dan Sains (Intens) Muhammadiyah Kolaka Utara, saya bertemu dengan teman-teman staf MABA yang menyampaikan informasi bahwa besok ada kegiatan seminar nasional kependidikan dan lauching buku di Islamic Center Masjid Agung Kolaka Utara. Mendengar informasi menarik itu, saya langsung mengambil ponsel mengirim pesan WhatsApp kepada Bunda Rosmawati agar diperbolehkan ikut seminar dan launching bukunya yang berjudul “Pandemi Cinta di Taman Literasi”. Sesaat kemudian, Bunda Rosmawati membalas dan mempersilakan saya datang besok, Rabu 25 Mei 2022 pukul 09.00 di lokasi acara.
Keesokan harinya, saya datang pukul 09.00, pas acara akan segera dimulai. Menurut panitia penjemput tamu, 500 kursi yang disediakan sudah hampir terisi semua. Sebelum memasuki ruangan seminar, harus mengikuti prosedur registrasi pendafatran karena berkaitan dengan pembagian sertifikat.
Alhamdulilah, saya bisa lolos masuk mengikuti seminar. Saya mendengar dan menyimak setiap diksi dan narasi narasumber Bapak Ruslan Ismail Mage, seorang akademisi, penulis buku, inspirator, dan penggerak. Dalam hatiku meyakini seminar ini seru, menarik, dan interaktif, karena narasumbernya seorang penulis buku, inspirator, dan penggerak.
Benar kata batinku, narasumber sang inspirator yang familiar dipanggil Bang RIM ternyata ingin membagikan beberapa buku karyanya kepada peserta. Untuk mendapatkan bukunya tidak segampang yang kubayangkan. Harus melewati permainan yang disebutnya, “Tebakan Tokoh Bangsa”. Terpilihlah sepuluh orang tampil ke depan untuk mendapatkan hadiah buku, termasuk saya.
Di tangan kirinya memegang buku tebal eksklusif karyanya yang berjudul, “Generasi Emas (Pemikir Besar Bangsa)” yang sukses di-launching di Malaysia. Menurutnya, dalam buku itu ada 100 tokoh bangsa Indonesia yang berhasil mendesain kemerdekaan bangsa.
Dengan suara yang penuh energi Bang RIM mengatakan, “Siapa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar langsung mengambil bukunya. Pertanyaannya, sebutkan nama tokoh bangsa idolanya selama ini? Kalau sama persis gambarnya di halaman pertama buku ini, otomatis buku ini menjadi miliknya.”
Jadi, kami sepuluh orang yang tampil ke depan, masing-masing harus menyebut nama tokoh bangsa idola kami untuk mendapatkan bukunya. Dengan penuh percaya diri, saya menyebutkan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh bangsa idolaku.
Setelah melewai lima orang di samping kananku, sang inspirator sampai di depanku sambil meminta saya membuka halaman pertama bukunya untuk mencocokkan dengan tokoh bangsa idolaku. Dengan penuh harap dan was-was saya pelan-pelan membuka, dan masya allah, subhanallah, gambar pertama tokoh bangsa yang saya lihat adalah pantulan wajah saya dari cermin yang ditempel di halaman pertama buku itu.
Luar biasa. Pesan hebat yang ingin disampaikan sang inspirator hebat ini adalah, “Setiap orang punya kesempatan menjadi orang sukses, menjadi orang besar, atau menjadi tokoh bangsa.” Satu-satunya yang bisa menghalangi langkah Anda menjadi orang besar adalah dirimu sendiri. Karena sesungguhnya musuh terbesar dan terkejam seseorang adalah dirinya sendiri,” kata Bang RIM menggelegar.
Super sekali, 500 peserta seminar terkesima melihat permainan tebak tokoh bangsa ini. Ternyata, kitalah yang dianggap orang hebat yang akan mengharumkan nama baik daerah dan bangsa lewat karya-karya nyata.
Terima kasih Bapak Ruslan Ismail Mage (Bang RIM), engkau memang akademisi tangguh, penulis buku hebat, dan inspirator andal yang mampu menggerakkan jiwa kami melakukan restorasi dalam meningkatkan kualitas diri menjalani gelombang kehidupan.
Semoga buku yang diberikan kepada saya berjudul “Ayat-Ayat Api (Kutemukan Cinta dalam Sedekahku)” akan selalu membakar semangatku untuk meraih bintang di atas sana. Betapa inspiratif permainan tebak tokoh bangsanya, betapa indah mendapatkan hadiah buku langsung dari penulisnya. []
