Oleh: Gusnawati Lukman

Selasa, 24 Mei 2022, para guru penggerak angkatan 2 Kab. Soppeng yang berjumlah 64 orang, diundang untuk mengikuti pelatihan “ Wawasan Kebinekaan Global Bagi Guru Penggerak Kab. Soppeng, Prov. Sulawesi Selatan”, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling, bertempat di Hotel Grand Saota, Salotungo, Soppeng.

Acara dibuka secara langsung oleh panitia pelaksana, yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lagu Mars Guru Penggerak, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Setelah semua prosesi selesai, peserta dibagi menjadi beberapa kelas dengan seorang fasilitator , dan di dalam kelas itu dibagi lagi menjadi beberapa kelompok. 

Pemateri menjelaskan bahwa program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman toleransi dan menumbuhkan sikap toleran pada guru dan tenaga kependidikan dan menjadikan guru dan tenaga kependidikan (GTK) sebagai agen promosi toleransi kebinekaan.

Dengan mengikuti program pelatihan “ Wawasan Kebinekaan Global,” peserta akan mendapatkan banyak manfaat. Adapun manfaat yang diharapkan dari program kebinekaan ini bagi guru baik secara teoritis maupun praktisnya nanti ketika kembali ke sekolah adalah:

  • Dapat memperkuat pemahaman guru baik secara konseptual maupun praktis akan terciptanya budaya toleransi yang didasarkan atas penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai ajaran agama, nilai-nilai budaya atau local wisdom, dan praktik baik yang sudah dilakukan oleh penggerak pendidikan di Indonesia;
  • Melalui pelatihan ini juga diharapkan dapat memberikan pengalaman kebinekaan yang diharapkan bisa diterapkan dan diperkuat juga dalam lingkup lingkungan pendidikan di mana kepala sekolah dan guru bertugas, sehingga budaya saling menghargai akan keragaman sebagai basis adanya sekolah yang aman dan nyaman bisa tercipta;
  • Output pelatihan ini juga diukur dari kontribusi peserta program (kepala sekolah dan guru) dalam ikut aktif mempromosikan budaya toleran baik di lingkungan sekolah maupun kelas.

Secara gamblang, fasilitator memulai pembelajaran dengan menjelaskan alur materi pada pelatihan ini, yaitu sebagai berikut;

Petualangan belajar kami akan dimulai dari sini:

  • MULAI DARI DIRI: Mengajak peserta memahami masalah berdasar pengalaman diri sendiri, di sini akan ada pertanyaan pemantik yang bersifat reflektif untuk membantu peserta memahami konteks persoalan;
  • AKTIVITAS: Memberikan konteks yang lebih nyata kepada peserta lewat permainan, peserta akan terlibat dalam permainan ini dan merasakan langsung akan problem yang dihadapi;
  • REFLEKSI: Menceritakan secara jujur kesan yang didapatkan dari permainan (mini game) yang baru diikuti, dan mengkonstruksikan dalam pengalaman hidup masing-masing peserta;
  • ANGGITAN: Mengetengahkan ide/gagasan terkait keragaman, menyuguhkan data dan fakta serta teori, kejadian atau peristiwa terkait kebinekaan dalam konteks global, serta dampak dari adanya keragaman pada diri sendiri.
  • IMPLEMENTASI: Mengajak kepada peserta mengimplementasikan konsep dalam kehidupan sehari-hari.

Ada 5 topik yang akan dipelajari lebih lanjut, yaitu;

Topik 1 ini membawa kita pada fakta asal usul setiap manusia di dunia ini beragam, bahkan melalui tes DNA kita ditunjukkan bahwa asal usul nenek moyang) setiap orang tidaklah tunggal. Kita juga belajar bahwa semakin kita beragam maka semakin membuat kita jauh lebih cerdas.

Topik 2 ini menjelaskan lebih jauh tentang keragaman Indonesia sebagai sebuah karunia dari sang pencipta. ada tantangan yang dihidangkan juga di topik ini serta solusi bagaimana mengatasinya tantangan tersebut.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari 17.499 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km dan luas perairannya terdiri dari laut teritorial, perairan kepulauan dan perairan pedalaman seluas 2,7 juta km atau 70% dari luas wilayah NKRI. Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas terbesar di dunia. Dari pulau-pulau di Indonesia ini 5 pulau terbesar adalah pulau Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Jawa. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika, maka meskipun memiliki keragaman budaya, Indonesia tetap satu.

Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Untuk itu kita semua harus terus menjaga keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang lebih baik.

Topik 3 seperti refleksi, mengingatkan diri sendiri bahwa setiap diri punya identitas, dan identitas kita yang unik tidak perlu dibandingkan dengan identitas orang lain. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Mengapa damai dimulai dari diri sendiri?

Jika kita mau jujur, segala tindakan kejahatan dan kebencian terhadap apapun itu terjadi karena faktor ketidakmampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri, tidak mampu mengendalikan sumbernya yaitu hawa nafsu.

Kebencian atas nama apapun hanya bisa terkikis habis manakala manusia memperkuat sikap cinta, kasih sayang, dan welas asih, sikap damai dan bersedia hidup saling mengenal dan menghargai, membuka diri untuk hidup berdampingan tanpa melihat segala perbedaan agama, suku, ras dan golongan. Dan untuk menebar kedamaian itu titik tolaknya harus dimulai dari diri sendiri.

Prinsip Ini yang diyakini kuat oleh Mr. Javier Perez de Cuellar, mantan Sekjen PBB dimana beliau mengatakan bahwa “Kedamaian harus dimulai dalam hati setiap kita. Melalui refleksi yang tenang dan serius mengenai arti kedamaian, cara-cara baru dan kreatif dapat ditemukan untuk mengembangkan pengertian, persahabatan, dan kerja sama di antara orang-orang”.

Kedamaian itu erat kaitannya dengan rasa mencintai. Menurut Nelson Mandela, seorang tokoh perdamaian dunia asal Afrika yang berkeyakinan bahwa setiap orang lebih mudah diajarkan cinta kasih, daripada diajarkan hidup saling membenci, beliau berkata “Tidak ada orang yang lahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci. Dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, maka mereka juga bisa belajar untuk mencintai karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada kebalikannya“. Dan di mata tokoh anti kekerasan dunia asal India Mahatma Gandhi, gerakan anti kekerasan itu harus dimulai dari dalam diri kita sendiri.

Sumber: https://kumparan.com/ibn-ghifarie/damai-dimulai-dari-diri-sendiri-1wcd8qTLlvQ/full

Topik 4 ini memberikan contoh praktis bagaimana menerapkan nilai-nilai toleransi di sekolah atau kelas dalam bentuk program kebinekaan.

Untuk menjaga agar semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, itu tetap hidup dan tumbuh dalam realitas masyarakat, maka dibutuhkan pendekatan yang tepat terutama lewat pendidikan nilai kebinekaan. Artinya, pendidikan nilai kebinekaan tidak cukup diajarkan, namun juga secara efektif ditumbuhkan rasa mencintai nilai-nilai dan karakter baik di hati setiap peserta didik, dan yang jauh lebih utama adalah membiasakan untuk mempraktekkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Praktik Nilai-nilai Keberagaman di Tri Sentra Pendidikan

Lingkungan Masyarakat

  • Mengikuti kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat
  • Memberi kesempatan kepada tetangga untuk menjalankan ibadah
  • Saling tolong-menolong antar warga ketika melaksanakan hari raya
  • Ramah kepada tetangga, tanpa membeda-bedakan

Lingkungan Keluarga

  • Menghargai perbedaan antar anggota keluarga
  • Membantu pekerjaan orangtua di dalam rumah tanpa disuruh
  • Membantu kakak atau adik yang sedang membutuhkan bantuan
  • Menjaga ketenangan saat jam tidur
  • Mendengarkan dan menjalankan nasihat orang tua

Lingkungan Sekolah

  • Tidak membuat gaduh suasana sekolah
  • Menghargai perbedaan pendapat teman
  • Mematuhi tata tertib sekolah
  • Menghargai teman yang sedang beribadah
  • Tidak membedakan suku, agama, ras, dalam menjalin pertemanan

Keberagaman Suku, Ras, Sosial budaya, diwujudkan dalam bentuk

  • Mengembangkan semangat persaudaraan sesama manusia dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
  • Bersikap baik kepada semua orang tanpa memandang perbedaan.
  • Mengetahui keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.
  • Mempelajari dan menguasai seni budaya sesuai minat dan bakat.
  • Merasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri.
  • Menyaring budaya asing

Toleransi Beragama

  • Melaksanakan ajaran agama dengan baik.
  • Menghormati agama yang diyakini oleh orang lain.
  • Tidak memaksakan keyakinan agama kita kepada orang yang berbeda agama.
  • Bersikap toleran terhadap keyakinan dan ibadah yang dilaksanakan oleh yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda.
  • Tidak memandang rendah dan tidak menyalahkan agama yang berbeda.

Topik 5 ini memberikan pemahaman kepada peserta akan sekolah yang aman, nyaman, serta apa saja tantangan dan solusinya.

Sekolah adalah lembaga yang mempunyai peran strategis terutama mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sekolah diharapkan menjalankan fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan optimal dan mengamankan diri dari pengaruh negatif lingkungan sekitar.

Persoalan masuknya pengaruh negatif yang mengancam sekolah ini juga menjadi perhatian dunia internasional. Pada tahun 2000 Majelis Umum PBB mengeluarkan mandat kepada UNESCO untuk menetapkan bahwa tahun 2000 sebagai tahun budaya damai internasional (International Year for the Culture of Peace) dan dekade tahun 2001 sampai 2010 sebagai dekade budaya damai dan tanpa kekerasan (International Decade for a Culture of Peace and NonViolence for the Children of the World).

Dimensi budaya damai di sekolah

Dimensi-dimensi yang dikembangkan pada program tersebut antara lain kedamaian dan anti kekerasan (peace and non-violence), hak asasi manusia (human rights), demokrasi (democracy), toleransi (tolerance), pemahaman antar bangsa dan antar budaya (international and intercultural understanding), serta pemahaman perbedaan budaya dan bahasa (cultural and linguistic diversity).

Dengan suguhan materi yang beragam inilah yang membuat pelatihan semakin menarik. Paparan dari fasilitator yang lugas dan menguasai materi disertai dengan game-game online yang menarik, membuat peserta pelatihan tidak merasa jenuh. Pertanyaan-pertanyaan dan dialog interaktif diharapkan dapat menggali kemampuan peserta untuk mengeluarkan semua pengetahuan yang dimiliki. Umpan balik dari pemateri serta peserta lainnya semakin menambah wawasan dan cakrawala berpikir kita. Benar-benar kegiatan yang berkualitas. Semua peserta pelatihan yang terdiri dari semua guru penggerak angkatan 2 Kab. Soppeng, merasa semakin termotivasi dan berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda khusus.

Sumber: Modul Pelatihan

Watansoppeng, 12 Juni 2022

(Visited 284 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.