Oleh: Dev.Seixas’25
Suatu hari, aku mendengar nama beliau. Saat itu, aku masih murid SD kelas satu. Orang-orang saling rebutan koran. Sampai koran itu dipegang terbalik, kulihat wajah Bapak Kay Rala Xanana Gusmão yang sangat tampan. Aku bingung karena umurku saat itu masih kecil. Aku berlalu pulang, sementara semua orang saling berbisik, “Ah, Bapak Xanana ditangkap!”
Aku masih ingin tahu siapa dia? Mengapa semua orang bersedih? Lalu, kutatap wajah para pemuda satu per satu. Semua sedih seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga. Namun, Dev kecil hanya bisa mendengar nama dan melihat foto sosok tersebut lewat koran.
Waktu pun terus berjalan. Suatu ketika di masa remaja, aku mendengar orang-orang selalu menyebut nama itu. Aku pun mulai tahu bahwa beliau adalah salah seorang leader politik di Timor-Timor saat itu. Wajahnya aslinya seperti apa, aku masih belum tahu.
Namun, ketika Timor-Timor beralih ke Timor-Leste, setelah mencapai kemerdekaan, aku pun turut menyaksikan di saluran televisi di Atelari berita tentang kepulang beliau dari Cipinang, Indonesia menuju Timor-Leste. Bapak Xanana memeluk dan dipeluk semua warga dengan berlinang air mata, berteriak dalam bahasa Tetum tentang pencapaian kemerdekaan. Di tengah ribuan warga masyarakat, beliau berkata “Viva Timor Leste” hingga semua orang menangis terharu.
Aku tersanjung. Aku bangga mendengar tutur kata beliau. Dalam hati, aku salut padanya sebagai pejuang hebat, mewakili rekan-rekan lain dalam perjuangan kemerdekaan. Ya, tentunya masih sebatas melihatnya di layar televisi.
Pada suatu hari, ketika Bapak Kay Rala Xanana Gusamão berkunjung ke Atelari, barulah aku melihat langsung wajahnya yang kharismatik. Beliau memeluk para pejuang dan masyarakat di Atelari saat mengunjungi Komando Ponta Leste yang dipimpin oleh teman seperjuangannya, yakni Bapak Ex Jenderal Lere Anan Timor. Saat itu, aku masih murid SMP kelas tiga. Aku bangga melihat semua leader atau para pejuang berkumpul.
Setelah kemerdekaan diraih, tugas generasi mudalah untuk membangun negeri ini. Kami semua lanjut bersekolah dan benar-benar menikmati arti kebebasan. Dalam memaknai kebebasan itu, generasi muda dituntut untuk terus belajar: membaca, menulis, berbicara, mendengar, menghitung, dan mampu menyimak informasi dengan baik.
Sambil bersekolah, aku terus mengikuti sosok kharismatik itu. Beliau sangat berbeda dengan leader yang lain: menyayangi masyarakat dengan sepenuh hati.Terkadang, aku bingung. Tetapi, itulah jiwa seorang pejuang yang sudah melekat pada dirinya, seperti sebuah takdir.
Ketika terjadi bencana alam atau perisitiwa lain yang menimpa masyarakat, beliau turun ke lokasi dengan membagikan kebutuhan sandang dan pangan secara langsung bagi para korban. Tak jarang juga beliau turun langsung membersihkan rumah warga, termasuk saluran air yang tersumbat.
Sayangnya, makin hari kami makin tidak sadar. Sebagai generasi muda, kami hanya jadi penonton sambil selfie dan posting di Facebook dan media sosial lainnya. Padahal, sesungguhnya beliau sedang mendidik kami secara terang-terangan: “Bisa tidak, ketika kita berada di sini melakukan hal ini?”
Aku tersadar ketika terjadi bencana alam tahun 2019 dan 2020 di lokasi tempat kami tinggal, yaitu Becusi Bawah di Becora. Hingga pada tahun 2021, ketika terjadi bencana lagi, aku mengerakan anak-anak komunitas untuk mencoba melakukan kegiatan yang diajarkan oleh beliau. Kami langsung turun melakukan gotong-royong di Asrama Dominkana, juga di istana Presiden selama sebulan hingga selesai, baru kami berhenti.
Dari situ, kami baru menyadari kami bahwa negara ini membutuhkan generasi penerus seperti yang diajarkan oleh Bapak Xanana. Kita harus merasa memiliki, bukan menjadi generasi yang menonton lalu selfie.
Pada kesempatan ini, aku secara pribadi berharap semoga beliau tetap menjadi panutan bagi generasi muda di tahun-tahun mendatang. Salut bagi leader kharismatik kami. Semoga beliau senantiasa sehat bersama keluarga dan masyarakat Timor-Leste.
Mari kita mulai membuka mata hati. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan melanjutkan perjuangan mereka? Jangan terus menuntut apa yang hendak negara ini lakukan bagi kita. Coba pikirkan apa yang telah kita lakukan untuk negara. Sesungguhnya, sebagai generasi penerus bangsa, kitalah subjek pembangunan Timor-Leste. []
