Oleh: Dulcia Carnel*
Pada era milenial, menulis puisi, novel, artikel, atau sejenisnya mulai jarang ditemukan di kalangan generasi muda. Bahkan, tidak bisa dipungkiri terjadi juga kecenderungan turunnya minat baca.
Berangkat dari realitas tersebut, Komunitas Penulis Kreatif Timor Leste bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili menggelar workshop menulis secara hybrid pada hari Sabtu, 11 Juni 2022 dengan tema “Membangun Peradaban dengan Menulis”.
Workshop ini menghadirkan narasumber Bapak Ruslan Ismail Mage (akademisi, penulis buku, inspirator dan penggerak, founder Bengkel Narasi Indonesia), Bapak Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat Jurnalis Online Indonesia, dosen Universitas Indonesia Timur Makassar), serta Bapak Abdullah Fikri Ashri (Wartawan Kompas, pemenang Best of the Best Anugerah Jurnalistik Pertamina 2019).
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Prof. Dr. Phil Ikhfan Haris, M.Sc. mengatakan bahwa workshop tersebut digelar untuk mengakomodair minat para penulis muda di Kota Dili, Timor Leste. Sebagai generasi muda Timor Leste yang terus memupuk mimpi menjadi penulis besar, saya sangat tertarik dan terinspirasi dengan ungkapan bijak Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan yang mengatakan, “Jika engkau menulis dengan hati akan melahirkan keindahan, menulis dengan otak akan melahirkan ilmu pengetahuan.”
Sementara narasumber pertama Bapak Ruslan Ismail Mage dengan gaya khasnya sebagai inspirator benar-benar menggugah jiwa untuk mulai menulis. “Ilmu itu hidup, harus dijaga, dipelihara, dan dipupuk agar bisa bertumbuh, berbunga, dan berbuah untuk kehidupan. Pupuk paling menyuburkan bagi ilmu adalah dengan menuliskannya. Jika tidak menulis, maka ilmu itu laksana pohon yang daun-daunnya kering berguguran, jatuh rontok ke bumi.”
Dalam kesempatan itu, founder Sipil Institute Jakarta tersebut memberikan resep paling ampuh menjadi menulis sebagaimana pengalamannya. Menurutnya, kesalahan pertama yang dilakukan para penulis pemula adalah tidak mampu memisahkan dirinya kapan menjadi “penulis” kapan menjadi “editor”. Kalau sedang menjadi penulis tugasnya hanya menulis tanpa harus memperhatikan apakah benar atau salah. Ketika sudah ada tulisan dihasilkan minimal lima pragraf, istirahatlah sejenak untuk kemudian mengubah dirinya menjadi “editor” tulisannya sendiri. Tugas editor bukan lagi menulis, tetapi mencari kesalahan tulisannya untuk disempurnakan. Pesannya, jangan bersamaan menjadi penulis sekaligus editor, dijamin tulisannya tidak akan jadi-jadi.
Founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia ini pun menyampaikan pesan inspiratif lainnya. “Setiap generasi muda Timor Leste harus menjadi PR, public relation yang andal bagi negaranya, harus menyuarakan lewat tulisan bagaimana keindahan alam dan budaya, indahnya bersatu dalam perbedaan, indahnya bersama dalam keanekaragaman di Timor Leste”. []
*Penulis adalah peserta workshop “Membangun Peradaban dengan Menulis” di KBRI Dili Timor Leste, Sabtu 12 Juni 2022.
