Oleh: Dev.Seixas’25
Ajaran seorang ayah saya dan ibu pada semua anak-anaknya. Andai suatu hari aku berlalu dari dunia ini karena faktor usia atau takdir, aku berharap pada kalian bertujuh agar menjadikan hidup sebagai sebuah pelajaran. Di mana ketika orang terus meremehkan kamu maka jangan mendekat tapi menjauhlah karena bumi ini banyak manusia lain.
Andaikan seorang yang kita kasih makan dan minum tapi terus saja berbuat jahat pada kita dari belakang maka menjauhlah dari mereka karena banyak orang yang terdampar di posisimu yang mungkin pula membutuhkan kalian jadi menjauhlah dengan penuh kesabaran tanpa harus membuat satu perhitungan karena kita disakiti berkali-kali.
Ingat!
Hidup ini bagai roda yang berputar terkadang kita di atas, terkadang kita di bawah jadi saat kita terus di cari hanya kesalahan di saat itulah kalian harus sadar bahwa di sinilah upah akan kebaikanmu sedang di hitung oleh Tuhan.
Jangan pernah berpikir jika orang yang kita bantu akan membalasnya kembali pada kita, tapi perlahan-lahan Tuhan akan mengirimkan orang lain bagimu atau bagi keturunan kalian kelak karena upahmu yang tidak dihitung di dunia ini, belum tentu tidak dihitung juga oleh Tuhan.
Kalian tahu mengapa Tuhan menciptakan siang dan malam cobalah analisis menurut kacamata masing-masing. Belajarlah terus kalah kita terus di rendahakaa karena itu jangan lupa terus berbuat kebaikan.
Ayah pernah menjalani hidup dan mengerti benar akan arti kehidupan dari situlah ayah belajar jika hidup adalah satu pelajaran berharga yang perluh kita perjuangi terus-menerus. Segala upaya kebaikanmu tak dihitung oleh orang lain, jangan pernah merasa kecewa karena di surga Tuhan pasti mencatatnya.
Terkadang kita akan membantu orang harus dengan cara kita, yakni keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan jika hidup harus terus di syukuri.
Menjauhkan diri kalian dari mereka yang hidupnya terus memperhitungkan segala sesuatu karena orang-orang seperti ini adalah orang yang hanya tahu menghitung tapi tidak pernah tahu artinya rasa terima kasih pada kebaikan orang lain karena karakternya sudah nampak jika orang ini tahunya membuat perhitungan saja.
Ingatlah kata-kataku, kalian adalah anak-anakku, aku mendidik kalian bagaimana cara memberi tanpa pamrih bukan mengharapkan imbalan karena segala upahmu akan tertulis di kertas putih yang telah Tuhan sediakan untukmu sejak kau diakdirkan untuk hidup di dunia ini.
Kami ketujuh anak-anaknya hidup dengan formula yang menjadi landasan dasar dalam kehidupan mereka di mana ketika sang ayah berlalu mereka terus diperlakukan oleh orang lain dengan cara itu tapi tujuh anaknya tidak pernah saling melupakan meskipun orang-orang terus menghina mereka sesuai dengan keinginan pun mereka tetap saling peduli dan saling membantu satu sama lain.
Setiap napas memiliki arti dan makna maka petiklah untuk jadikan sebagai pelajaran untuk terus memperbaiki diri bukan menuntut orang melakukan kebaikan untuk kita sebab upahmu akan dihitung di surga.
