*Widiarti
Mentari yang selalu setia menyinari semesta setiap saat adalah bukti kesetiaan sejati. Tidak peduli kita sedih ataupun senang dia selalu datang menyapa menyinari kehidupan tanpa syarat. Seolah setiap hari memberikan harapan baru kepada setiap orang, bahwa hari esok selalu ada kesempatan untuk berproses menjadi pemenang.
Bagi anak rantau yang memimpikan hidup lebih baik, tentu tidak pernah berhenti memupuk harapan dan cita-citanya. Dengan bermodalkan keyakinan, kerja keras, dan harapan itu, anak rantau bisa memberikan bukti nyata kepada orang lain, bahwa orang tua yang tidak memilki pendidikan bisa juga mempunyai anak yang menempuh pendidikan tinggi.
Merantau setelah lulus di bangku sekolah menengah atas merupakan hal baru bagi saya. Untuk pertama kalinya tinggal jauh dari kedua orang tua demi menuntaskan tugas mulia menuntut ilmu pengetahuan. Saya yakin perjalanan hidup merantau demi menata masa depan sudah menjadi ketetapan sang pencipta.
Kota Makassar adalah kota tujuan saya. Ini merupakan pertama kalinya melakukan perjalanan jauh dan pisah dengan kedua orang tua. Seperti anak pada umumnya, terlebih baru pertama bepergian jauh, dalam hati selalu berkata “, Apa benar saya ini akan pergi merantau dan bagaimana kehidupan saya di sana”.
Pertama di perantauan serasa waktu berputar begitu lama tidak seperti biasanya. Pikiran selalu ke orang tua dan kampung halaman. Tidak jarang meratapi nasib tinggal jauh dari orang tua. Saya seperti terdengar manja. Namun, nyatanya itulah yang kurasakan.
Sebelum pisah dengan orang tua, kepercayaan diri itu selalu ada dengan apa yang saya lakukan. Namun pergi jauh selalu muncul rasa khawatir setiap melakukan sesuatu. Apalagi selalu ingin mengerjakan sesuatu hal dengan perfect.
Menjalani hidup di perantauan ternyata tidak segampang dengan apa yang pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Merantau bagi saya bukan hanya pergi jauh meninggalkan tanah kelahiran, tetapi juga tentang “Rindu” dengan orang-orang di tanah kelahiran terutama rindu dengan kedua orang tua.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai nenyadari bahwa untuk meraih mimpi indahku, maka saya harus berdamai dengan keadaan. Tidak boleh waktuku habis hanya untuk memupuk rindu. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, saya bisa merubah energi rindu kepada kedua orang tua menjadi energi turbo yang terus memutar turbin semangatku meraih cita-citaku.
*Dosen Institut Teknologi dan Sains Muhammadiyah Kolaka Utara
