Oleh: Soni Putra*
Berawal dari bisik-bisik berkembang menjadi pembicaraan di warung-warung dan di tengah masyarakat tentang bagaimana prototipe memimpin sebuah nagari atau desa. Begitulah rakyat mengalami pembelajaran politik secara alami sebagai buah demokrasi menjalar ke sudut-sudut kampung. Warga bebas berbicara dan mengkritisi kepemimpinan dari semua tingkatan.
Tidak bisa dipungkiri demokrasi memiliki dua sisi yang tidak terpisahkan. Satu sisi menjadi wadah pemilihan pemimpin terbaik, sementara di sisi lainnya menjadi wadah saling menjatuhkan dengan segala macam data, baik data benar maupun data yang direkayasa kebenarannya untuk menyebar fitnah.
Saat itu sebagian masyarakat menggunakan bahasa non-verbal dengan mengarahkan pandangan kepada saya sebagai putra daerah untuk memimpin nagari. Namun rasanya mustahil bagi saya, karena menjadi seorang wali nagari tidaklah mudah. Butuh kecakapan tersendiri dan komitmen menjalankan kepemimpinan dengan adil dan benar tanpa membeda-bedakan warga.
Saya pernah berkata kepada sebagian tokoh masyarakat bahwa, “Seandainya saya jadi wali nagari apakah nasib saya sama seperti batang pohon pinang. Sebagaimana kita ketahui pohon pinang setiap tanggal 17 Agustus selalu dicari karena kegunaannya cocok dipancangkan untuk dijadikan lomba panjat pohon pinang.

Pesta rakyat dalam peringatan hari kemerdekaan tidak meriah tanpa lomba panjat pohon pinang. Prosesi pemancangan hingga berdirinya pohon pinang tersebut selalu dilaksanakan warga secara bersama-sama bergotong royong. Hingga pemasangan beberapa hadiah yang digantung di ujungnya itu semua diusahakan bersama dengan warga.
Tiba saatnya perayaan 17 Agustusan, kemeriahan dan semarak hari kemerdekaan pun menjadi tontonan menarik warga. Dengan semangat kebersamaan, rakyat berbondong-bondong saling berebut memanjat untuk mendapatkan berbagai hadiah yang digantung di ujungnya. Ada yang berkelompok dan ada pula sendiri-sendiri mengadu ketangkasan memanjat. Setelah salah seorang mencapai puncak, segera menghabiskan hadiah tersebut untuk dibagi-bagikan.
Dengan turunnya semua hadiah itu menandakan sudah selesainya acara panjat pinang. Warga pun meninggalkan lokasi dan hanya menyisakan pohon pinang di lokasi sampai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun pohon pinang itu dibiarkan begitu saja. Hujan, panas, dan rumput-rumput liar pun tumbuh di sekeliling pohon pinang itu yang tertancap sendiri.
Tidak jarang caci maki, hujatan, cemoohan dan segala yang jelek-jelek mengarah kepada pohon pinang tersebut karena merusak pemandangan. Itulah bahasa analogi untuk mendeskripsikan selama saya menjadi wali nagari. Kendati pun demikian, saya tidak akan pernah lelah, patah semangat, dan kecewa dalam memimpin dan membangun nagari yang saya cintai. Saya menjadi wali nagari karena masyarakat dan kembali kepada masyarakat, dengan moto “Mangumpuan nan taserak, manjapuik nan tatingga (Mengumpulkan yang tercecer dan menjemput yang tertinggal). Begitulah saya memandang kepemimpinan dengan filosofi pohon pinang.
*Wali nagari dan pencinta literasi menulis
