Oleh: Hamsah

Ini adalah curahan atas kejadian yang saya alami sendiri malam ini. Ibarat penyanyi saat konser dia lupa dengan lirik lagunya sendiri, akan tetapi untungnya kalau penyanyi ia akan mengelabui kelupaannya dengan suara musik maupun suara penonton, yang notabenenya sumber suara tidak hanya terfokus pada penyanyi saja, tetapi bisa muncul dari musik dan penonton itu sendiri.

Namun yang ingin saya uraikan adalah konteks yang berbeda. Ini terjadi dalam memimpin shalat berjamaah. Kerap kali kita menemukan pemimpin shalat itu mengalami kelupaan dan blank (ingatan kosong) saat membacakan surat-surat tertentu, sehingga ia akan terbata-bata dalam mengucapkannya. Kejadian seperti ini saya anggap sebagai suatu kelupaan bukan blank. Karena kalau blank, berarti ingatan kosong sama sekali. Tetapi kalau lupa, konteksnya kita berada pada posisi mempertimbangkan beberapa ingatan yang muncul.

Nah ini kejadian yang tidak lazim saya alami, kenapa tidak lazim? yah karena saya memang jarang menjadi pemimpin shalat. Sehingga kelupaan dalam bacaan itu sudah pasti juga jarang terjadi. hehe. Sehingga pesan moralnya adalah jauh lebih baik jika kesalahan itu dapat kita alami sendiri daripada merasa bisa pada tataran konsep namun saat dilakoni ternyata tidak bisa.

Saya penasaran tentang adanya kejadian lupa dalam diri saya. Mungkin juga ini pernah terjadi pada kita semua. Sebutlah misal dalam merangkai suatu kalimat dengan suara yang lantang dan lupa satu atau beberapa penggal kata yang ingin diucapkan, tetapi beberapa saat kemudian kita bisa mengingatnya kembali. Kalau humornya “yah mungkin memang kita tidak menghafal kalimat atau bacaan tersebut”. Kalau seperti itu berarti lain persoalan. Karena sesuatu yang tidak pernah dihafal sudah pasti tidak akan pernah dilupa karena ia belum pernah diingat. Logika sederhana, sesuatu yang dilupa berarti hal itu pernah diingat. Ibarat mantan kekasih, ia bisa saja dilupakan karena pada dasarnya ia pernah kita ingat. Tetapi saya bisa pastikan bahwa kelupaan saya pada kejadian ini tidak ada kaitannya dengan mantan. hehe

Meminjam pendekatan psikologi melalui teori interferensi tentang lupa, asumsinya adalah lupa disebabkan adanya kontestasi atau persaingan antara ingatan-ingatan yang serupa. Mungkin ini yang terjadi pada diri saya. Melupakan sesuatu meskipun hanya sesaat tentang hal-hal yang jelas pernah saya ingat. 

Begitupun dengan kata orang bijak, kita mampu memikirkan banyak hal, namun tidak mungkin dapat memikirkan dua hal sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Persis itulah yang terjadi, berangkat dari teori interferensi, dimana disaat kita mengalami kelupaan pada kasus yang saya ceritakan, itu disebabkan karena adanya dua hal atau lebih yang berusaha kita ingat dalam waktu yang bersamaan.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah pekerjaan apapun yang anda lakukan, maka lakukanlah dengan fokus atau “khusyu” dalam istilah agama. Lebih khusus dalam beribadah, jika tak mampu menghadirkan tuhan dalam pikiran maka fokuskan pikiranmu bahwa Tuhan melihatmu.

(Visited 34 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.