Oleh: Tammasse Balla

Suatu malam sudah agak larut, mataku belum terpejam juga. Seperti lumrahnya, hobiku menonton bulutangkis di YouTube Channel Samsung TV Android layar lebar di rumah. Bulutangkis, satu-satunya cabang olahraga yang kugeluti pada waktu masih remaja hingga berusia kepala empat. Itulah sebabnya hampir tiap malam kubuka siaran bulutangkis di YouTube. Hal ini kulakukan sekadar mengenang dan seolah-olah sedang menikmati masa-masa jayaku di lapangan bulutangkis era 80-an hingga awal 2000-an.

Saat menonton aksi “ganas” The Minion, Kevin-Gideon, menghajar lawannya asal Denmark di Final All England 2017, tiba-tiba HP di sampingku mengeluarkan suara pertanda ada gambar masuk via WA. Pelan-pelan kubuka WA, rupanya adikku yang tinggal di Soppeng mengirimkan foto-foro lawasku saat mengucapkan ijab kabul, 27 Maret 1994. Dalam hatiku, rupanya adikku belum juga tidur selarut malam begini.

Foto yang kubuka di WA tadi, mampu mengulik kembali memori lawasku. Ibarat membangunkan kembali memoriku yang telah tidur hampir tiga dasawarsa. Foto ini kembali merestorasi keping-keping hatiku saat bersama awal bidadari hatiku membingkai asa.

Kupandangi terus foto itu. Butir-butir bening dari sudut mataku tak kurasa meleleh membasahi mata hingga lapang pandangku kabur. Kuseka mataku berkali-kali hingga foto di HP tampak jelas kembali. Kutatap tajam wajah perempuan muda di sampingku yang sudah menjadi pendamping hidupku selama hampir tiga dasawarsa. Aku bangga dan salut padanya. Rona wajahnya menyimpan optimis pada lelaki muda yang telah mempersuntingnya. Lelaki yang dipercayakan sebagai imamnya. Ia telah menanamkan kepercayaan penuh kepadaku menjadi “nakhoda”nya dalam melayarkan bahtera mahligai rumah tangga.

Hari ini, 27 Maret 2023, genap sudah kebersamaanku 29 tahun merajut cinta sambil membingkai cita, yang akhirnya mewujudkan cipta. Pada momentum hari ini, ingatanku kembali menoleh sambil meneropong lorong waktu yang telah kulalui. Hari itu, Ahad, 27 Maret 1994, aku mengucapkan ijab kabul di rumahnya di Lajoa. Penyaksian datang dari pihak keluargaku dan istriku. Waktu itu, orang tuaku masih lengkap dan sehat. Sementara istriku sudah menjadi anak piatu waktu itu. Ibunya belum beberapa waktu meninggalkan dunia fana ini karena kanker ganas yang telah menggerogoti tubuhnya.

Saat bersama awal, istriku masih menempuh pendidikan Co-Ass di FKUH. Karena pernikahannya denganku yang berlatar belakang Dosen di Fakuktas Sastra; Jurusan Sastra Indonesia, Unhas, seringkali istriku jadi bahan cibiran dan candaan sahabatnya. Beberapa teman dekatnya seringkali bercanda dengan mengatakan, “Enakmu itu Jum (Jum panggilan akrab teman-temannya), tiap hari kamu pasti kenyang “makan puisi” karena suamimu Sarjana Sastra”. Istriku bercerita tentang candaan teman-teman dekatnya itu jika sudah pulang jaga malam dari rumah sakit. Mendengar bahan cerita istriku itu, aku tenang sambil menggigit bibir. Suruh mereka menunggu apa yang akan terjadi ke depan. Tidak ada yang tahu, selain Allah tentang hal yang akan terjadi. Mari kita bergandengan tangan, berdoa dan berikhtiar. Insya Allah mereka yang meremehkan kita suatu masa akan “lempar handuk” ke arah kita. Begitulah caraku menghiburnya sambil menjanjikan suatu kehidupan lebih baik yang masih absurd. Wajar mereka menjadikan candaan itu kepada istriku. Pada era itu, mahasiswa kedokteran atau dokter muda pada umumnya memilih calon pendamping hidup dari kalangan kedoktetan juga. Selebihnya ada pula dari Sarjana Teknik, Sarjana Hukum, bahkan ada yang memilih calon suami dari kalangan birokrat, bankir, dan sejumlah profesi mentereng lainnnya. Beda dengan istriku. Entah apa di benaknya waktu itu, justru memilihku dari seorang “Guru Bahasa Indonesia”, yang dianggap orang hanya mahir membuat puisi. Entah apa yang dilihat istriku kepadaku, itu juga seringkali mampir di benakku kala itu.

Rupanya, candaan sahabat istriku itu kukonversi dalam jiwaku sebagai “multivitamin” dalam mengawali kehidupan baruku pada tahun 1994. Kata-kata “makan puisi” makin menyuburkan energi inovatif dan kreatifku dalam menakhodai “kapal rumah tanggaku”. Ibaratnya mesin jet dalam jiwaku berhasil memacu dan dan memicu adrenalinku untuk berkarya di luar ranah yang dipikirkan orang lain. Orang-orang di luar sana menganggapku “si Cebol yang merindukan bulan.” Mereka hanya melihat “casingku” dari pembungkus puisi belaka. Mereka terkecoh, justru tidak tahu bahwa suami (calon Dokter) Jum bukan hanya alumnus Sastra yang hanya bisa bikin puisi. Banyak yang tidak tahu pendidikan luar kampusku yang berlatar belakang kampus alam. Ibuku telah menanamkan dan membenamkan pendidikan luar biasa pada usia diniku di kampung. Ibuku pernah berbisnis ayam petelur. Tugasku menyiapkan makanan dan menjadi “dokter” ayam itu. Tugasku memberikan suntikan vaksin pada ratusan bahkan ribuan ekor ayam. Dari bisnis ibuku itulah, aku telah mendapatkan pendidikan enterpreneurship yang luar biasa. Dari rekam jejakku itulah di kampung menjadi bekal besarku dalam menakhodai rumah tanggaku.

Pendek cerita, kami berdua memutuskan membuka “warung kecil” dengan membuka toko obat dan yantel (sejenis wartel mini) yang diberi nama Toko Obat Fadhilah dan Yantel Fadhilah. Nama itu diambil dari nama putri kami, Iin Fadhilah Utami Tammasse. Kami memanfaatkan lahan sempit depan rumah di sebuah rumah mungil yang kami tempati di sebuah lorong di bilangan Kompleks Perumnas BTP. Memulai dari warung kecil itulah, kini bisnis kesehatan yang telah dirintis sejak tahun 2007 telah bermetamorfosis menjadi dua buah klinik di jalan poros utama BTP. Inggit Medical Centre, Klinik Utama BPJS dan Inggit Medika, Klinik Pratama BPJS.

Akhir kata, tulisan ini tiba-tiba muncul atas kiriman foto lawas dari adikku pada awal cerita di atas. Kebetulan saat ini kami berdua sedang berada di Negeri Sakura, Jepang bertepatan 27 Maret 2023. Artinya, hari ini sudah tiga dasawarsa kurang setahun “istriku makan puisi” hasil ramuanku, he … he … he ….

Tak ada salahnya sahabat istriku melabeliku sebagai penulis puisi. Sungguh itu tidak salah, bahkan kuberterima kasih kepadanya. Atas dagelannya itulah menjadikan energi positifku memancarkan sinar alfa dan menyuburkan sinap-sinap otakku dalam mengkreasi puisi-puisi kehidupan.

Alhamdulillah, berkat doa keluarga dan sahabat-sahabatku, sejumlah puisi kehidupan berhasii kutulis yang kini nyata untuk kemanusiaan. Puisi-puisi tersebit kuberi judul sebagai berikut.

  1. dr. Iin Fadhilah Utami Tammasse. S.Ked. MARS, yang kini menjalani pendidikan tingkat akhir Post Graduate, Reproduction, Faculty of Medicine, Bristol University, United Kingdom;
  2. (callon Dokter) Gita Fitri Aidini Tammasse, mahasiswi tingkat akhir Pre-Klinik Fakultas Kedokteran Unhas, kini menjabat Ketua Umum AMSA (Asian Medical Student Association) FK- Unhas;
  3. Inggit Medika (IM), Klinik Pratama BPJS yang sudah memiliki kapitasi hampir 20.000 peserta.
  4. Inggit Medical Centre (IMC) yang berstatus Klinik Utama (setara RS Tipe D), kini telah memiliki 9 bidang dokter spesialisasi, yaitu: Saraf, Penyakit Dalam, Kandungan, Radiologi, Jiwa, Anak, THT, Kulit Kelamin, dan Gigi. Klinik Utama ini melayani peserta BPJS dan buka 24 Jam, termasuk buka Hari MInggu dan Tanggal Merah lainnya.

The last, but not the least, tulisan ini tak ada sedikit pun niat ingin “poji ale”. Tulisan ini penulis konstruksi hanya dengan maksud ingin menyampaikan sebuah pesan moral melalui “puisi kehidupan” bahwa jangan pernah meremehkan orang kecil. Hidup Ini penuh misteri. Tidak ada yang tahu bakal apa yang akan terjadi esok hari. Tetaplah positive thinking dan selalu menyandarkan diri hanya kepada Allah Swt.

Moral Impression dari tulisan ini adalah:

Sebaik apa pun kita, akan tetap ada orang yang meremehkan dan tidak menghargai kita. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai candaan belaka, tetapi hal ini tetap dapat menyakiti hati.

Menghadapi orang yang senang meremehkan kita tentu bukanlah hal yang mudah. Kita harus tetap bersikap tenang dan baik di hadapannya.

Sikap kita menghadapi orang itu adalah:

  1. Lapang dada dan maafkan

Daripada menghabiskan energi untuk meresponnya, kita melapangkan dada dan berusaha memaafkannya.

Mereka yang memandang remeh itu belum tentu sudah mengenal kita sepenuhnya. Bisa jadi, dia yang sebenarnya merasa kurang percaya diri atau hanya sekadar mencari kambing hitam.

  1. Buktikan dengan pencapaian prestasi

Tetaplah menjadi versi terbaik dirimu. Berusaha dengan keraslah untuk mencapai semua impianmu!

Bukan untuk membuktikan bahwa dirimu hebat kepada mereka yang meremehkanmu, melainkan buktikan hal tersebut untuk dirimu sendiri.

Selain itu, orang yang suka meremehkanmu pada akhirnya akan tutup mulut saat mengetahui bahwa kamu adalah orang yang luar biasa.

  1. Tetap terbuka terhadap kritik

Walaupun kamu merasa diremehkan pada awalnya, coba berusaha mengambil sisi positif dari perkataan mereka. Mungkin, ada beberapa kritik yang masuk ke dalam nalarmu.

Hal ini selanjutnya dapat menjadi bahan introspeksi diri agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

  1. Abaikan saja perkataannya

Biasanya, orang-orang yang memandang remeh kita hanya asal bicara saja. Mereka hanya ingin mendapatkan perhatian dari kita.

Oleh karena itu, untuk apa dipikirkan? Abaikan saja perkataan-perkataan mereka, tidak perlu membuang waktumu untuk meresponnya.

Untuk Sahabat yang sedang diremehkan orang lain, tetaplah bersemangat!!! Kamu tidak perlu menanggapi semua perkataan orang lain. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dibahas.
—————————————-
Stasiun Takanawa, 27 Maret 2023, pk. 08.50 Waktu Jepang
(Sebagian tulisan ini saya konstruksi dalam penerbangan ANA AIR, seat 26 C, dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Haneda Airport, Jepang, ketinggian 41.000 feet atau 12.496 mdpl.

(Visited 94 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.