Oleh: Gugun Gunardi*
Pengantar:
Undak-usuk (basa Sunda) atau Tingkat-tutur adalah pengetahuan yang bersangkut dengan menghaluskan tuturan atau eufemisme. Undak-usuk berasal dari Unggah-ungguh pengaruh bahasa Jawa.
Dalam masyarakat dan kebudayaan Sunda ditemukan adanya hirarki struktur bahasa yang berbasiskan pada kategorisasi kelas sosial dan usia atau lebih dikenal sebagai Undak Usuk Basa. Sejarah kemunculan dari Undak Usuk Basa Sunda, adalah sebagai berikut;
Pada periode sejarah Kerajaan Salakanagara hingga Kerajaan Islam Banten, sesungguhnya bahasa yang digunakan oleh masyarakat di bumi Pasundan ialah bahasa Sunda Buhun yang tidak mengenal strata bahasa. Hal ini dikarenakan oleh sistem ekonomi produksi pada masyarakat Sunda Buhun yang masih bercorak nomaden, yaitu ladang berpindah atau ngahuma.
Pembahasan:
Dalam konteks sejarah kemunculan Undak-Usuk Basa atau hirarki bahasa pada kebudayaan Sunda, tak dapat dipisahkan dari perubahan mode produksi di sepanjang periode sejarah masyarakat Sunda. Pada periode Kerajaan Salakanagara hingga Kerajaan Islam Banten, mode produksinya masih berpola ladang berpindah atau ngahuma. Pola produksi ngahuma ini cenderung menghasilkan sistem sosial yang egaliter, karena pola penggarapan huma atau ladang dilakukan dengan berbasiskan pada sistem kekeluargaan tanpa menggunakan buruh serta tidak mengenal kelas sosial mandor atau badega (bodyguard). Artinya, tidak ada stratifikasi sosial yang ketat ketika itu. Hal ini berpengaruh pula pada bahasa yang digunakan, di mana stratifikasi bahasa berdasarkan kelas sosial dan usia belum dikenal pada periode ngahuma tersebut.

Sistem sosial masyarakat Sunda berubah ketika Kerajaan Mataram Jawa di bawah pimpinan Sultan Agung melakukan invasi ke wilayah Priangan (daerah Provinsi Jawa Barat bagian tengah dan selatan kini) pada pertengahan abad ke 17. Ketika masa pengaruh Mataram di tatar Sunda inilah mode produksi bersawah menetap atau pertanian intensif mulai diperkenalkan kepada masyarakat Sunda. Penguasa Mataram mengubah secara radikal mode produksi ngahuma menjadi pola pertanian bersawah. Perubahan mode produksi ini juga berdampak pada aspek-aspek budaya lainnya dalam kebudayaan Sunda, salah satunya ialah perubahan struktur bahasa yang digunakan orang Sunda. Bahasa Sunda yang sebelumnya tidak mengenal stratifikasi, menjadi terbagi dalam tiga strata yakni halus, sedang dan kasar. Bahasa Sunda yang halus dan sedang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari kalangan ningrat atau menak. Sementara bahasa Sunda kasar digunakan oleh para petani penggarap atau buruh tani. Perubahan pola bahasa ini juga dipengaruhi oleh budaya Mataram Jawa yang memang telah mengenal tingkatan bahasa sejak lama (Unggah-ungguh Basa).
Unggah-ungguh Basa Jawi, yang hanya mengenal tiga tingkatan bahasa, yaitu; ngoko, kromo (kromo inggil dan kromo andap), serta bagongan. Oleh para tatabahasawan Sunda saat itu, unggah-ungguh basa Jawi ini diubah istilahnya menjadi undak-usuk basa Sunda.
Pada awal penggunaan, tingkat-tutur (undak-usuk) bahasa Sunda dibagi atas 5 (lima) hirarki, atau 5 tingkatan berdasarkan keperluan saat itu. Tingkatan tutur bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1) basa cohag atau bahasa kasar sekali, digunakan saat marah, atau kepada binatang,
Contoh:
Hulu ucing ‘kepala kucing’
Cokor hayam ‘kaki ayam’
Kokod belewuk ‘tangan kotor dengan tanah’
Hayam keur nyatu ‘ayam sedang makan’
Anjing keur ngawelu ‘anjing lagi berak’
Dèwèk ‘gua’
Sia ‘elu’
Nyatu ‘makan’
Mantog ‘pergi’
Muntruk ‘datang’
2) basa kasar atau juga dinamakan bahasa loma, biasa digunakan oleh orang kebanyakan di dalam situasi komunikasi dengan orang-orang yang memiliki hubungan pertemanan sudah dekat, atau sudah loma.
Contoh:
Kuring ‘aku’
Manèh ‘kamu’
Dahar ‘makan’
Indit ‘pergi’
Datang ‘datang’
3) basa sedeng adalah bahasa halus, untuk menghaluskan kata-kata bagi diri sendiri, digunakan ketika bertutur dengan orang yang dihormati.
Contoh:
Abdi ‘saya’
Anjeun ‘anda’
Neda ‘makan’
Mios ‘pergi’
Dongkap ‘datang’
4) basa lemes adalah bahasa halus yang digubahkan untuk menghaluskan kata-kata untuk menghormati orang lain, dari segi usia, kedudukan sosial ekonomi, gelar akademik, dan jabatan.
Contoh:
Sim kuring ‘saya’
Salira ‘anda’
Tuang’makan’
Angkat ‘pergi’
Sumping ‘datang’
5) basa lemes pisan (basa luhur) adalah bahasa yang sangat halus, yang biasanya digunakan untuk menghormati orang-orang yang memiliki posisi tinggi, terutama dari segi jabatan. Yaitu untuk Bupati; juragan (tuan) tanah, tokoh yang masyarakat yang sangat dihormati, tokoh agama dsb.
Contoh:
Sim abdi (sim kuring) ‘saya’
Pangersa ‘anda’
Tuang ‘makan’
Jengkar ‘pergi’
Rawuh ‘datang’
Undak-usuk saat ini yang digunakan hanya 3 hirarki saja, yaitu basa kasar, basa sedeng, dan basa lemes.
Meskipun undak-usuk basa Sunda, pada awalnya cenderung digunakan untuk hirarki sosial-ekonomi, saat ini sudah beralih pada bentuk sopan santun berbahasa. Para pemelajar dididik untuk memahami undak-usuk, kepentingannya adalah untuk memiliki skill sopan santun berbahasa. Melalui kebiasaan menggunakan bahasa Sunda yang dipadukan dengan sopan santun dalam bertutur, maka diharapkan pemelajar memiliki soft skill (sopan santun) yang baik.
Cara menghaluskan kata:
Di dalam undak-usuk basa Sunda terdapat dua bentuk penghalusan kata, yaitu;
1) Mengganti suku akhir (silabel akhir) kata dengan: -wis, -os, -nten, -ntun, dan mengganti vokal tertentu dengan vokal -i.
a) dengan silabel -wis:
Perkara > perkawis ‘perkara’
Nawar > nawis ‘nawar’
Nanda > nawis ‘menanda tangan’
b) dengan silabel -os:
Permisi > permios ‘permisi’
Kaharti > kahartos ‘dimengerti’
Bantu > bantos ‘bantu’
c) dengan silabel -nten:
Bèda > bènten ‘beda’
Mantan > manten ‘mantan’
Kira > kinten ‘kira-kira’
d) dengam silabel -ntun:
Bawa > bantun ‘bawa’
Kari > kantun “sisa’
Kirim > kintun
e) mengubah vokal akhir kata dengan -i:
Muga-muga > mugi-mugi ‘semoga’
Kaduga > kadugi ‘dapat di-‘
Supaya > supagi ‘agar’ (konsonan y diganti g), untuk memudahkan pengucapan.
2) Menggunakan daftar kata; kasar, sedeng, dan halus, yang untuk penggunaannya harus dihafal kurang lebih sebanyak 600 kata (ada daftar kata khusus dengan padanan bahasa Indonesia dan Inggris – menyusul dikirim ke redaktur)
Nada Tuturan dan Kinesik Pendukung Penghalusan Kata:
Di dalam praktiknya, menggunakan undak-usuk basa Sunda tidak hanya sekadar menggunakan kata halus saja. Akan tetapi juga meskipun menggunakan kata yang kasar, atau yang kasar sekali. Kata tersebut bisa menjadi terasa halus jika dibarengi dengan nada bahasa yang halus (perlu latihan khusus). Begitu pun ketika bertutur dengan undak-usuk basa, perlu dibarengi juga dengan kinesik (bahasa tubuh yang menghaluskan kata-perlu latihan khusus).
Penutup:
Dalam kaitannya dengan dunia kerja yang masih bersangkut dengan mode produksi, yang ada melahirkan pembeda antar kelas sosial dalam kehidupan manusia, maka selama itu pula seluruh aspek kebudayaan masyarakat (termasuk bahasa) akan terus memisahkan relasi manusia berdasarkan sekat-sekat status sosial ekonomi. Begitu pun undak-usuk basa Sunda.
Undak-usuk basa Sunda saat ini cenderung digunakan untuk sopan santun berbahasa. Melalui pembelajaran undak-usuk diharapkan dapat terbina kebiasaan tingkah laku yang berlandas pada kesantunan. Karakter santun ini perlu dilatih dan dilatih, tidak hanya sekadar diajarkan. Maka media bertutur bahasa Sunda dengan undak-usuk inilah salah satunya.
Jadi, paling tidak jika undak-usuk diajarkan kepada generasi muda, minimal mereka akan belajar soft skill lewat kebiasaan sopan santun berbahasa. Penguatan soft skill inilah yang saat ini sedang digalakkan oleh dunia pendidikan di Indonesia.
*Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Al Ghifari.

Sae pisan…mugi mugi daftar 600 kecap anu bade dikintun ka Redaksi enggal tiasa dipidangkeun…wilujeng