Oleh : Rima Septiani, S.Pd.
Media sosial tengah diramaikan oleh kemunculan tren “S Line” yang menarik perhatian warganet. Banyak pengguna membagikan foto dengan garis merah di atas kepala.
Tren ini berawal dari tayangan drama korea terbaru berjudul sama yakni “S Line”, di mana salah satu karakter dapat melihat garis-garis merah di atas kepala orang-orang di sekitarnya. Visual tersebut kemudian diadopsi secara luas sebagai konten media sosial.
Meski terlihat simpel, simbol garis merah itu ternyata menyimpan makna yang sensitif. Garis merah di atas kepala ini disebut sebagai “S Line” atau” Sex Line”. Garis ini bukan sekedar elemen visual, melainkan simbol tak kasatmata yang menghubungkan seseorang dengan pasangan seksualnya.
Generasi Muda Kian Bablas
Salah satu tantangan di era digital saat ini adalah krisis moral dan hancurnya generasi muda akibat seks bebas yang semakin massif dilakukan oleh anak muda. Hilangnya arah hidup generasi muda diakibatkan oleh seks bebas yang semakin merajalela.
Kehidupan bebas yang ditawarkan Barat pada generasi muda saat ini memang tampak indah. Apalagi dikemas dengan tampilan yang memukau melalui film, drama, lagu dan sinetron. Tanpa sadar, banyak muslimah yang terjebak dalam kehidupan bebas tanpa aturan. Mereka menjadikan idola sebagai pusat dari penampilan dan aktivitas mereka. Menganggap tren kekinian sebagai wujud expresi diri yang harus ditampilkan tanpa mempertimbangkan rambu-rambu agama.
Liberalisme yang meloloskan tayangan pornografi hakikatnya adalah muara berkembangnya seks bebas. Atas nama liberalisme, mereka tak merasa berdosa untuk memviralkan berbagai tayangan ‘tak senonoh’ di tengah masyarakat. Akibatnya, seks bebas menjadi hal yang lumrah di kalangan usia muda. Lihat saja betapa banyak orang yang menghalalakan aktivitas pacaran atas dasar suka sama suka, hingga kemudian menjadi pintu awal bagi perzinahan di kalangan remaja.
Hari ini kita menyaksikan begitu parahnya akhlak dan moral generasi muda muslim. Mereka terpapar virus sekularisme yang menyebabkan keringnya ruh spiritual akidah. Ketakuan terhadap hukum Allah tidak ada lagi, hal ini ditunjukkan dengan massifnya perbuatan maksiat di kalangan remaja. Hampir setiap hari kita menyaksikan berita di televisi, sosial media dan koran yang menggambarkan keadaan moral generasi muda saat ini. Kita tentunya bersedih menyaksikan fakta kerusakan di tengah umat, mau dibawa ke mana negeri ini jika generasi mudanya saja rusak.
Satu sisi kita juga bisa mengatakan bahwa sistem pendidikan untuk generasi saat ini gagal total untuk membentuk generasi takwa di kalangan remaja. Mata pelajaran yang diajarkan tak mampu memberi pengaruh keimanan terhadap mereka. Apalagi wacana penghapusan mata pelajaran agama Islam semakin digaungkan, justru ini akan semakin memperparah arah hidup generasi penerus bangsa.
Semua ini tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme sekularisme yang menjadikan generasi muda mengalami krisis identitas. Fakta yang terjadi saat ini menjadi bukti bahwa hancurnya generasi muda saat ini sudah dalam mengakar. Tahukah kita, bahwa tegak dan kokohnya suatu bangsa sangat tergantung pada generasi mudanya. Hancurnya generasi muda menjadi awal runtuh dan hancurnya sebuah negara.
Selamatkan Generasi dengan Solusi Islam
Islam memiliki seperangkat aturan yang membatasi interaksi pria dan wanita. Masing-masing memiliki areanya sendiri, dan hanya berinteraksi ketika memiliki hajat tertentu yang diizinkan syariat. Misalnya dalam pendidikan, kesehatan dan mualamah.
Islam menetapkan rambu-rambu tertentu pada kehidupan umum. Ketika wanita berada di luar rumah maka wajib menutup aurat dengan jilbab dan khimar, tidak tabarruj (berhias), tidak berkhalwat (berdua-duaan), tidak ikhtilat (bercampur).
Aturan ini berlaku sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan kemuliaan seorang wanita. Bentuk perlindungan Islam terhadap wanita yakni dengan menerapkan persanksian Islam yang tegas, yang akan mencegah seseorang terjerumus dalam tindakan maksiat. Pelaku zina yang sudah menikah akan dihukum rajam. Sedangkan bagi pelaku zina yang belum menikah, akan dijilid atau cambuk 100 kali, yang eksekusinya dilakukan di hadapan khalayak ramai.
Oleh karena itu, tidak patut bagai seorang muslimah memberi ruang maksiat terbuka luas di media sosial. Harga diri wanita sangatlah utama. Islam dengan tegas melarang kaum wanita untuk membuka aurat dengan maksud agar kemolekan tubuhnya bisa dilihat orang, mengumbar kecantikan agar dipuji banyak orang, apalagi sampai mempertontonkan perilaku mesum. Para muslimah harus menjaga keimanan dan membentengi diri dari pengaruh pergaulan bebas.
Sebagaimana yang Allah firmankan di dalam Al-Qur’an “Dan janganlah dekati zina! Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (TQS Al-Isra : 32) []

Gen Z masa kini di negara manapun sifatnya sama saja…kalau di TL guru diikat dgn peraturan pemerintah nomor agar tdk membimbing murid, sementara murid dibiarkan bebas berbuat semau gue…ini yg merusak akhlak mereka. Indo=TL, sama2 parah…
Generasi Z masa kini di negara manapun sifatnya sama saja…kalau di TL guru diikat dgn peraturan pemerintah nomor agar tdk membimbing murid, sementara murid dibiarkan bebas berbuat semau gue…ini yg merusak akhlak mereka. Indo=TL, sama2 parah…