Atas nama pribadi serta keluarga bersyukur kepada Alloh SWT, dan orang-orang baik yang telah menyelamatkan kami dari keterjerumusan modus penipuan berkedok pemenang lelang mobil.
Oknum yang memakai foto dan akun palsu tersebut, modus operandinya memenangkan lelang dari KPKNL, dan kebetulan oknum “menjual” lembaga KPKNL di Semarang.
Pada tanggal 4 Agustus 2025, yang bertepatan dengan universary pernikahan kami ke-27 tahun. Sekira pukul 02.30 wita, saya menerima telepon, awalnya tidak saya gubris, sebab namanya belum tersimpan di telepon genggam.
Beberapa kali telepon berdering, akhirnya saya buka panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal tadi. Saya buka kontaknya, rupanya foto profilnya orang yang saya kenal baik, dan dahulunya satu instansi dengan saya, sebelum terjadi pemisahan kelembagaan oleh Presiden yang saat ini menjabat.
Lantaran profil foto whatsaap tersebut orang satu profesi dengan saya, bedanya beliau pangkatnya lebih tinggi, sedangkan saya hanya staf. Lalu saya chat beliau, “Maaf mas, saya tidak jawab telpon, kalau tidak ada nama di daftar kontak, telpon,” demikian chating saya ke beliau.
Oknum pengguna fotonya mas EN ini pun membalas chat WhatsApp dengan mengatakan, mas Adi sibuk nggak, saya mau minta bantu naikkan harga jual mobil, nanti saya kasih tahu caranya.
Saya sempat mengatakan, tidak paham jual beli mobil, ada teman saya di kantor makelar mobil. Kemudian, oknum ini mengatakan, bukan jual mobil, tapi menaikkan harga mobil. Sudah ada pembelinya, namanya Halim Wijaya (mungkin nama ini juga samaran), katanya kepada saya.
Untuk meyakinkan pembeli, oknum tadi menyarankan pembeli yang namanya Halim Wijaya, nanti mas Adi mengaku sebagai saudara/keluarga.Tanpa curiga gelagat oknum tadi, saya percaya begitu saja. Tak lama berselang oknum pemenang lelang menjelaskan maksud dan tujuannya menaikkan harga jual mobil jenis Pajero Sport warna putih tahun 2021.
Oknum yang memanfaatkan foto teman saya yakni mas EN menjelaskan bahwa dirinya menang lelang di KPKNL, sebanyak 2 unit mobil pajero sport tahun 2021 dengan harga Rp900 juta.
“Kalau ada pembelinya namanya Halim Wijaya, tanya harga, bilang dilepas Rp900 juta bisa nego sampai harga Rp870 juta,” jelas oknum peretas fotonya EN.
Penasaran, saya bertanya melalui telepon, mengapa bukan EN sendiri yang menjualnya. Oknum ini berdalih bahwa pemenang lelang tidak bisa menjual langsung barang lelangnya, makanya saya minta bantuan mas Adi yang seolah-olah sebagai pemenang lelang (dia tahu nama saya dari Medsos).
Apabila Halim Wijaya menelpon, bilang lantaran ada urusan luar kota, maka mas Adi ndak bisa datang dan diwakilkan ke EN. Sedangkan urusan fisik mobil dan surat-surat, biar sama saya (maksudnya oknum EN) selaku pemenang lelang yang sebenarnya. Demikian skenario akal bulusnya si peretas foto teman saya ini.
Padahal saya tidak tahu menahu urusan lelang itu, kok mau-maunya juga disuruh mengaku sebagai pemenang lelang 2 unit pajero sport tahun 2021.
Mendengar kabar burung itu, saya sempat berhayal menjualnya dan membelikan motor baru untuk anak yang akan kuliah, kemudian healing dan lain sebagainya, ternyata itu hanya hayalan semata.
Oknum EN berpesan kepada saya, apapun pembicaraan sama Halim Wijaya kabari saya. Tanpa berdosa oknum ini pun minta ijin memberikan nomor kontak saya ke Halim Wijaya. Dan apabila ada orang yang mau lihat fisiknya suruh datang ke KPKNL Semarang, di Jalan Imam Bonjol No. 1 D Semarang, saya (oknum EN) menunggu disana. Untuk meyakinkan korban, boleh jadi mereka berkomplot seolah-olah ada penjual dan pembeli.
Untuk hal satu ini saya seperti terhipnotis bisikan dari oknum yang mengklaim sebagai pemenang lelang di KPKNL Semarang. Tak mampu berfikir logis, benar-benar bodohnya aku, hari itu, 4 Agustus 2025.
Tak berselang lama, oknum kedua yang mengaku sebagai Halim Wijaya menelpon, menanyakan harga mobil Sport Pajero warna putih 2 unit tahun 2021, yang sebenarnya tidak pernah saya menangkan, jangankan mobil, uang pun tak punya untuk ikut lelang.
Berlogat cina, HW menanyakan kepada saya soal mobil yang diklaim oknum EN sebagai pemenang lelang 2 unit mobil Pajero Sport 2021 dengan harga Rp900 juta.
Percakapan pun dimulai, dengan suara berat berlogat cina, HW menanyakan harga mobil. Dia menawar Rp850 juta, saya bertahan di Rp.870 juta, seperti yang dikatakan oknum yang mengaku EN.
Akhirnya, HW minta dikirimkan foto bukti mobil yang di maksud, saya pun kirimkan foto itu, sebagaimana sebelumnya dikasih oleh oknum EN.
Kemudian HW kembali menelpon, untuk melihat fisik mobil, dimana oknum EN sudah menunggu di KPKNL Semarang. HW mengutus isteri, sopir pribadi dan teknisi untuk langsung melihat kondisi fisik mobil.
Saya menelpon oknum EN, mengabarkan bahwa istri HW akan melihat mobilnya bersama seorang sopir pribadi dan teknisi.
Tak berselang lama, oknum HW menelpon saya, dia menjelaskan bahwa istrinya sudah melihat langsung kondisi mobil secara keseluruhan dinyatakan masih bagus, interiornya original, diapun berminat membeli mobil, yang seolah-olah saya pemenang lelangnya. Padahal itu semua BOHONG BELAKA, rekayasa oknum yang menggunakan foto mas EN bersama komplotannya.
Guna meyakinkan saya, HW mentransfer uang Rp300 juta ke BRI Bendahara Unit I, atas nama ADERIANTO, nomor rekening 557901011524508, sebagai bukti pembayaran pertama.
Untuk pembayaran kedua sebesar Rp570 juta dikirim ke rekening saya, setelah selesai pengurusan surat-surat ditangan istri saya (HW). Betapa mudahnya didekte oleh oknum EN (samaran), HW dan komplotannya.
Akhirnya, saya mengabari EN, bahwa HW jadi ambil/beli mobil tersebut, setelah surat-surat ada ditangan istrinya HW, dimana kata HW istrinya dalam kondisi hamil dan sore ini akan kontrol ke dokter kandungan. 4 Agustus 2025.
Dengan tegas HW kepada saya akan melunasi sisa bayaran setelah surat-surat mobil, uangnya akan saya transfer ke rekening pak Adi, sebelumnya rekening saya sudah saya kirim ke EN dan HW.
Saya kembali menelpon EN sang tokoh antagonis dalam skenario jual beli mobil hasil menang lelang ini, dan menjelaskan hasil pembicaraan saya dengan calon pembeli HW. Urusan surat-surat akan diselesaikan oleh EN di KPKNL.
Singkat cerita HW tak sabar, dia menelpon lagi, dia bilang saya sudah siapkan dana untuk pelunasan begitu surat-surat tersebut ada ditangan istri saya.
Seakan di pingpong kesana- kesini, akhirnya saya menelpon EN, untuk menanyakan surat-surat mobil yang diminta komplotan HW. Tekanan dari kedua kubu membuat kami panik hingga membuat perut ini mules-mules, tapi ndak mau boker.
EN menjelaskan untuk urusan surat-surat ini, prosesnya cukup 5 menit selesai, tapi diminta untuk membayar biaya administrasi dan pajak sebesar Rp30 juta.
Dengan segala upaya EN meminta saya membayar surat-surat tersebut. Betapa kagetnya kami, kok pemenang lelang harus menebus surat-surat sebesar itu, percaya nggak percaya sih, karena oknum tersebut menjual nama KPKNL sebagai lembaga lelang negara dan yang terdengar resmi. Dia kemudian mentransfer uang ke rekening Aderianto sebesar Rp10 juta, menurutnya hasil pinjaman dari temannya. Sisa biaya administrasi, malah saya yang disuruh melunasinya, parah!.
Bertubi-tubi kami saling berbalas telpon EN, dia terus minta diusahakan mengirim sisanya. Kami bertahan tidak punya uang sebanyak itu bos.
“Bagaimana kalau HW meminta dikembalikan uang pembayaran Rp.300juta,” kata oknum yang mengaku EN.
Kami tak kalah kesal membalas chatingnya, ya kembalikan saja uangnya, sambil marah istri sekalian menelpon yang bersangkutan.
Orang tersebut mencoba mengancam kami dengan mengatakan bahwa disini uang dp yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan lagi.
“kalau seperti itu mas Adi mau lepas tangan. Dan setahunya pak Halim, mas Adi pemenang lelangnya,” kata dia.
Enak bener mereka menjerumuskan kami sebagai pemenang lelang, padahal hari Senin 4 Agustus 2025 siang menjelang sore itu, kami sedang di rumah sembari nonton film ONE PIECE yang belakangan lagi viral di kalangan Legislatif dan Yudikatif, merupakan dua dari tiga cabang kekuasaan negara dalam sistem Trias Politika, selain eksekutif.
Kami sempat panik, waduh jangan begitu mas jawab kami.
Seakan-akan oknum EN ini menjebloskan kami dalam skenario licik mereka untuk mendapatkan uang secara instan, namun salah sasaran, yang mereka peras bukan KONGLOMERAT tapi KOLONG MELARAT.
Jadi, gimana mas ancam dia kepada kami. Akhirnya, saya telpon oknum tadi dan mengatakan, untuk menutupi kekurangan administrasinya, saya carikan pinjaman kepada mantan atasan saya, tapi atas nama dan rekeningnya oknum tadi, bukan atas nama saya ya.
Oknum tadi agak melemah, “silahkan dicoba,” kata EN palsu.
Dengan berat hati, saya menelpon mantan atasan, dan menjelaskan maksud dan tujuannya, dengan tegas mantan atasan saya mengatakan itu BOHONG, PENIPUAN.
Setelah itu, oknum EN tidak pernah menelpon lagi. Saya juga mencoba menelpon Halim Wijaya calon pembeli mobil hasil lelang yang sama sekali tidak pernah saya menangkan.
Namun, telpon kami tidak mereka jawab, tidak mendengar kabar lagi dari komplotan penipu tersebut.
Ketika kami mencoba menghubungi kembali, akun WhatsApp tersebut sudah tidak aktif alias dihapus.
Kami sadar bahwa nyaris menjadi korban penipuan berkedok menang lelang mobil di KPKNL.
Dari kasus tadi, saya mencoba googling urusan lelang kendaraan, khususnya dari KPKNL yang mereka catut namanya. Untuk hal ini kami minta maaf kepada KPKNL, khususnya KPKNL Semarang.
Terpenting, hati-hati dengan data pribadi kamu, agar tidak disalah gunakan orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan pribadi.
Sebenarnya KPKNL memiliki prosedur lelang yang transparan dan tidak meminta pembayaran biaya administrasi melalui transfer bank sebelum proses lelang selesai.
Para korban ini, termasuk saya yang nyaris menjadi korban sudah seharusnya memeriksa keaslian informasi tersebut dengan menghubungi kantor KPKNL langsung atau memeriksa situs web resmi mereka.
Kasus seperti ini sering terjadi dan menjadi peringatan bagi masyarakat untuk selalu waspada dan melakukan verifikasi sebelum melakukan transaksi apa pun, terutama yang melibatkan pembayaran uang.
