Oleh: Rosita Samad, S.P
Berjalan menyusuri tapakan takdir seperti hari kemarin diiringi alunan penuh irama berpadu dengan sedih dan tawa. Saya menikmati walau kadang seperti menggenggam bara yang tak bisa kulepaskan. Sekitarku penuh dengan alunan irama keras yang memekakkan telinga rasaku, saya hanya dapat terdiam tak mampu melawan tirani yang membenteng kokoh.
Saya tidak akan bicara keras apalagi berteriak, hanya kan berbisik di keheningan saat sekitarku bungkam tak bersuara. Hanya dengan itu lirihku kan terdengar, bisik dalam diamku kan menggema di sudut-sudut hati yang masih bernalar. Menikmati mimpi yang entah kapan jadi nyata. Rasa memang tak bisa terbelenggu oleh siapa dan karena apa. Dia kan hadir menjelma mewujudkan kata hati kapan dan di mana pun fisik berdiri.
Bisik dalam diam akan senyap di riuhnya sekitarmu dan akan terdengar jelas di keheningan. Biarlah tetap menjadi simponi hati yang menyeruak di antara tirani. Kuyakinkan diri bahwa pada saat kebaikan berpihak padaku, maka semua jalan terbuka bak permadani. Namun memang tak berpihak saya yakin semua pintu kan tertutup untukku.
Bisik dalam diam menjadi asa terbesarku pada sang Pencipta karena kuyakin jauh sebelum hadirku sudah tertulis takdir baik dan buruk. Hanya dapat menjalani tanpa perlu mengeluh dan berharap lebih kepada sesama makhluk.
Awal November 2025
Kala Makassar sudah mulai dingin
