Oleh: Tammasse Balla

Ada orang-orang yang hidupnya seperti batu kali di tengah arus sungai, keras, kaku, tak mau bergeser meski air kehidupan berkali-kali “membelainya”. Mereka mematok diri pada aturan yang mereka tulis sendiri di dinding pikirannya. Hitam harus hitam, putih harus putih, tanpa ruang bagi abu-abu tempat manusia biasanya belajar memahami sesama. Mereka berjalan di dunia seperti penjaga gerbang yang kehilangan kunci welas asih, hanya memegang daftar larangan tanpa pernah membaca ayat-ayat kebaikan dalam wajah orang lain.

Mereka ini hidup, tetapi lebih mirip patung yang tidak pernah diajak bicara oleh angin. Setiap persoalan harus tunduk pada aturan yang mereka dewa-dewakan. Padahal, aturan itu pun lahir dari manusia yang penuh kekurangan. Namun bagi mereka, aturan adalah kitab tanpa catatan kaki. Manusia boleh lelah, boleh sakit, boleh tersesat, tapi tidak boleh berharap kelonggaran. Dunia menurut mereka adalah garis lurus yang tidak boleh dibengkokkan, meski untuk menolong yang hampir terjatuh.

Orang-orang ini memandang kompromi sebagai dosa besar. Mereka mengira kelonggaran adalah kekalahan, padahal sering kali kelonggaran adalah kemenangan hati. Mereka tidak mengerti bahwa aturan dibuat agar manusia selamat, bukan untuk menjerat manusia menjadi robot tanpa perasaan. Setiap permintaan tolong mereka baca sebagai ancaman. Setiap wajah memohon mereka anggap sebagai kelemahan. Padahal justru di situlah Tuhan sering menyisipkan kesempatan kita menjadi manusia.

Kadangkala saya ingin bertanya, “Kapan terakhir kali mereka merasakan nikmatnya memaafkan? Apakah mereka pernah merasakan sejuknya memberi ruang bagi orang lain untuk sekadar bernapas?” Orang yang terlalu kaku tidak sadar bahwa mereka sedang menambal hidup dengan besi dan baja, padahal manusia diciptakan dari tanah yang lembut. Tanah itu bisa ditanami kebaikan, tetapi juga bisa mengeras bila terlalu sering diberi sikap tanpa belas kasih.

Anehnya, semakin mereka keras, semakin banyak orang menjauh. Semakin mereka saklek, semakin sepi hidupnya. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi meminta tolong. Orang seperti ini berjalan di tengah keramaian, tetapi perasaannya sunyi. Mereka hadir, tapi tidak hidup. Mereka mendengar, tetapi tidak menyimak. Mereka melihat, tetapi tidak memahami. Inilah awal dari kematian sebelum ajal. Kematian bukan karena tubuh berhenti, tapi karena hati sudah tidak berdenyut.

Di luar sana, tanpa mereka sadari, banyak orang diam-diam mengeluh dan sering mendoakan mereka segera sakit. Bukan karena dendam, tetapi karena lelah menghadapi dinding yang tak pernah retak. Mereka berharap sakit bisa melenturkan hati yang keras, sebab sering kali tubuh yang ringkih lebih mudah mengerti kelembutan. Betapa ironisnya jika seseorang perlu dijatuhkan dulu agar bisa belajar jadi manusia.

Padahal hidup ini tidak dibuat selurus penggaris. Ada lekuk, ada tikungan, ada jurang yang harus dijembatani. Dalam banyak perkara, kelonggaran adalah napas yang menyelamatkan. Kebijakan adalah cahaya kecil yang menuntun. Bahkan Tuhan, yang memegang seluruh alam, masih memberi manusia kesempatan bertobat sampai detik terakhir. Lalu siapa kita kalau tidak mau memberi ruang bagi orang yang tersandung?

Saya percaya bahwa orang yang terlalu kaku bukan jahat; mereka hanya takut. Takut kehilangan kendali, takut salah, takut dikhianati. Namun ketakutan itu mereka bangun menjadi tembok tinggi. Tembok itu melindungi, tetapi juga memenjarakan. Mereka menjaga aturan, tetapi mematikan hatinya sendiri. Mereka menolak membantu orang lain, tetapi tidak sadar sedang mencabut kehidupan dari dirinya sendiri.

Pada akhirnya, mati sebelum meninggal adalah tragedi diam-diam: tubuh masih berjalan, tetapi jiwanya telah berhenti bermimpi. Hati masih berdetak, tetapi tidak lagi menghangatkan siapa pun. Kita bisa hidup sampai usia lanjut, tetapi sesungguhnya telah wafat sejak lama jika tidak punya welas asih. Hidup bukan sekadar mematuhi aturan; hidup adalah seni memahami sesama. Hanya manusia yang lunak hatinya yang benar-benar hidup, bahkan setelah ia meninggalkan dunia.

Hotel Claro Makassar, 6 Desember 2025
Pk. 11.30 WITA

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.