Oleh : Rosmawati*

“Jika ingin mengenal dunia membacalah, jika ingin dikenal dunia menulislah.” Filosofi ini terus menjadi bahan bakar bagi Ruslan Ismail Mage (RIM) dalam memperkaya khazanah literasi Indonesia. Hingga memasuki tahun 2026, akademisi dan inspirator ini tidak hanya berhenti pada angka sepuluh buku, namun telah melahirkan puluhan karya motivasi dan pemikiran yang konsisten menjawab tantangan zaman. Bang RIM tidak membiarkan tahun berlalu tanpa karya-karya inspiratifnya.

Melalui Bengkel Narasi sebagai “rumah jiwa di angkasa”, RIM terus membuktikan bahwa konsistensi menulis adalah bentuk pengabdian intelektual yang tak lekang oleh waktu. Gerakan literasi yang ia rintis kini telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, hingga melewati batas-batas negara, melalui jaringan digital yang semakin solid.

Pada tahun 2026 ini, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi bagi komunitas pencinta karya RIM, melainkan pusat persemaian gagasan-gagasan optimisme. Pesan beliau tetap relevan: jadikan ruang digital sebagai wadah berbagi energi positif, di mana setiap unggahan memiliki kekuatan untuk membangkitkan semangat hidup orang lain.

Dampak nyata dari karya-karya RIM dirasakan oleh lintas generasi, dari ibu rumah tangga hingga praktisi pendidikan. Testimoni mengenai kedalaman makna dalam buku-bukunya yang “membumi” terus mengalir, mengukuhkan posisinya sebagai penggerak literasi yang handal. Bagi banyak orang, membaca kutipan atau ulasan buku RIM di beranda media sosial telah menjadi rutinitas pagi yang memberikan dorongan mental untuk menghadapi hari dengan penuh rasa percaya diri.

Lebih jauh lagi, pada tahun 2026 ini, Bengkel Narasi telah bertransformasi menjadi inkubator penulis muda yang sangat efektif. RIM tidak hanya fokus mencetak buku pribadi, tetapi telah berhasil mengantar ratusan penulis pemula dari berbagai daerah untuk menerbitkan karya perdana mereka.

Program bimbingan menulis “tanpa batas dan tanpa syarat” yang ia jalankan secara konsisten telah meruntuhkan hambatan bagi siapa pun yang ingin berkarya namun terkendala oleh teknis maupun biaya.
Eksistensi Ruslan Ismail Mage hingga tahun 2026 ini adalah bukti bahwa gerakan literasi yang dibangun dengan ketulusan akan terus tumbuh dan berbuah.

Jika Anda ingin mulai menulis atau sekadar mendalami pemikiran-pemikiran motivasi beliau, Anda dapat mengikuti perkembangannya di media sosial, google, YouTube, atau mencari referensi kepenulisan di Laman Resmi Kemendikbudristek untuk mendukung perjalanan literasi Anda. Benar kata Bang RIM, “Teruslah berkarya dalam sunyi, lalu biarkan karya-karyanya berbicara tentang pencapaiannya”.

*BNsiana sejati Kolaka Utara

(Visited 21 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.